Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Dia siapa?



"Tuan apa yang anda lakukan di sini?" ucap sebuah suara yang berasal dari Faris.


Mendengar sebuah suara tak asing di pendengarannya, tentu saja membuat Arthur langsung bisa bernapas dengan lega. Perasaannya sedari tadi bahkan sudah tidak enak dan terus tertuju kepada Aruna, namun sebuah hal yang tak di inginkan mendadak muncul dan menghentikan langkahnya.


"Gadis ini tiba-tiba muncul dan terjatuh tepat di mobil ku. Sebaiknya kau urus dia karena aku sedang terburu-buru." ucap Arthur sambil menunjuk ke arah Kirana.


Sedangkan Kirana yang mencuri dengar pembicaraan keduanya, tentu saja langsung terkejut karena tidak menyangka jika Arthur malah melempar tanggung jawab kepada Faris. Padahal ia berharap jika Arthur lah yang akan mengurusnya sesuai perjanjiannya dengan Fadli, jika Kirana akan mengulur waktu kepulangan Arthur hingga Fadli memberikan perintah untuk melepaskannya.


"Sial, jika begini semua rencana ku akan berantakan!" ucap Kirana dalam hati sambil berusaha untuk memutar otaknya.


Sampai kemudian ketika Kirana tengah berusaha untuk mencari ide. Kirana yang mulai mendapatkan sebuah ide mendadak bangkit dari tempatnya dan berjalan dengan tertatih mendekat ke arah dimana Arthur dan juga Faris berada saat ini.


"Tolong saya, saya sedang di kejar oleh orang jahat... Saya mohon bantu saya...." ucap Kirana mulai meluncurkan aksinya sambil mencengkram dengan erat jas milik Arthur saat itu.


"Saya minta maaf karena tidak bisa membantu mu kali ini, tapi Faris akan mengurus segalanya dan memastikan mu berada di tempat yang aman." ucap Arthur sambil berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Kirana pada jas miliknya.


"Tidak-tidak saya tidak bisa mempercayai dia... Saya tidak mengenalnya sama sekali, bagaimana jika ia melakukan hal yang macam-macam terhadap saya?" ucap Kirana dengan raut wajah yang dibuat se-panik mungkin, agar Arthur percaya kepadanya.


"Kau bahkan juga tidak mengenal ku, jadi mari berhenti berakting dan silahkan pergi bersama dengan Faris." ucap Arthur dengan nada yang datar, membuat Kirana lantas menggigit bibir bagian bawahnya dengan spontan.


Faris yang mendengar perintah dari Arthur barusan, tentu saja langsung menarik tangan Kirana dan berusaha untuk menjauhkannya dari Arthur. Hanya saja Kirana yang tak ingin menyerah begitu saja, membuat pekerjaan Faris sedikit lebih sulit.


"Tuan tolong saya... Tuan jangan tinggalkan saya... Tuan..." ucap Kirana mencoba untuk menggedor kaca mobil Arthur yang saat itu sudah tertutup dengan rapat dan bersiap pergi dari sana.


Sampai kemudian ketika Arthur berhasil melajukan mobilnya dan berlalu pergi dari sana, barulah Faris melepaskan cengkraman tangannya pada Kirana dan membuatnya hampir terhuyung karena pegangan tangan Faris yang tiba-tiba terlepas.


"Saya akan membawa mu ke Rumah sakit dan memeriksakan segalanya, untuk seseorang yang mengejar mu itu tak perlu khawatir karena setelah ke Rumah sakit kita akan langsung ke kantor polisi dan membuat laporan." ucap Faris kemudian dengan nada yang tegas, membuat Kirana langsung memutar bola matanya dengan jengah begitu mendengar hal tersebut.


"Tidak perlu, wajah mu itu benar-benar tidak meyakinkan. Lebih baik aku pergi sendiri ke kantor polisi dari pada harus berdua bersama dengan mu!" ucap Kirana dengan nada yang ketus sambil berlalu pergi begitu saja, membuat Faris yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung mengernyit dengan seketika.


"Tapi tadi bukankah..." ucap Faris namun terhenti ketika mendapati langkah kaki Kirana sudah semakin menjauh dari hadapannya.


"Benar-benar wanita aneh, untung aku tadi sudah mengambil potretnya. Wanita itu benar-benar mencurigakan." ucap Faris kemudian sambil menatap ke arah layar ponsel miliknya.


***


Lorong Apartment


Sebuah suara pintu lift yang terbuka terdengar menggema di telinga Arthur saat itu, membuat Arthur lantas langsung melangkahkan kakinya keluar dari area lift dengan langkah kaki yang bergegas.


Sambil mulai membawa langkah kakinya menyusuri area lorong, Arthur kemudian nampak menghentikan langkah kakinya ketika ia sampai tepat di pintu unit Apartemennya. Arthur yang tak ingin menyianyiakan waktu lagi, lantas mulai menekan key password unit Apartemennya kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam unit Apartemennya.


"Sepi sekali? Aruna kemana? Tumben.." ucap Arthur dengan nada yang mengernyit sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar.


Sambil mencari keberadaan Aruna di sekitar sana, Arthur lantas mulai melangkahkan kakinya secara perlahan menyusuri area unit Apartemennya menuju ke area meja makan. Dimana saat itu sudah terisi penuh oleh berbagai macam hidangan kesukaannya. Bau harum lilin aroma terapi di area meja makan, membuat seulas senyum terlihat dengan jelas pada raut wajahnya saat itu.


"Run kamu dimana? Apakah kamu sedang mandi? Run.. Aruna..." panggil Arthur beberapa kali sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar.


Sampai kemudian pandangan Artur lantas terhenti tepat di area sofa, ketika ia mendengar suara tawa yang tak asing berasal dari sana. Membuat Arthur yang mendapati Aruna dengan posisi yang aneh di atas sofa, lantas langsung mengernyit seketika dengan tatapan yang penasaran.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sana Run?" ucap Arthur kemudian sambil mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Aruna berada saat ini.


"Ah kamu siapa... Hahaha oh iya.. Bukankah kamu Arthur? Arthur... Sini peluk, kita main bersama." ucap Aruna sambil mencoba untuk bangkit dari posisinya saat itu.


Aruna yang melihat ke datangan Arthur barusan tentu saja langsung berusaha bangkit dan melangkahkan kakinya dengan bergegas. Namun pijakannya yang tak kokoh, membuat Aruna lantas menjadi terhuyung. Beruntung Arthur sigap dan langsung menangkap tubuhnya dengan cepat. Jika tidak, mungkin Aruna akan berakhir dengan mencium dinginnya lantai unit Apartemen Arthur saat itu.


"Apa yang terjadi kepadamu?" Kau kenapa ha?" pekik Arthur sambil berusaha untuk menyanggah tubuh Aruna saat itu.


Namun Aruna yang mendengar pertanyaan tersebut, bukannya menjawab malah tertawa dengan keras. Mendapati hal tersebut membuat Arthur langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar tawa aneh yang keluar dari mulut Aruna saat itu.


"Apa kamu mabuk? Tapi tidak ada bau alkohol di mulut mu, apa yang terjadi sebenarnya? Aruna jawab pertanyaan ku! Apa yang terjadi ha?" pekik Arthur sambil menggoyang-goyangkan tubuh Aruna, namun Aruna sama sekali tidak meresponnya dan malah seperti orang yang tak sadar sama sekali.


"Sial, Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Arthur pada diri sendiri sambil mulai membawa Aruna menuju ke arah kamar sambil mencari tahu apa yang terjadi kepada Aruna saat ini.


Sampai kemudian ketika langkah kaki Arthur sampai di ambang pintu, sebuah suara benda yang terjatuh dengan keras lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Dia mau pergi.. Hahaha dia mau pergi..." ucap Aruna sambil tersenyum simpul, membuat Arthur lantas langsung mengernyit begitu mendengar hal itu.


"Dia siapa Run?"


Bersambung