Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Bunuh saja aku...



"Aku dimana?" ucap Pandu sambil berusaha untuk mencari tahu letak posisinya saat ini namun gagal karena ia tidak bisa melepas penutup kepala yang saat ini membungkus kepalanya dengan rapat.


Tak tak tak


Suara derap langkah kaki seseorang yang menggema di ruangan tersebut tentu saja langsung menghentikan gerakan Pandu yang berusaha untuk membuka penutup kepalanya. Pandu benar-benar mendengar dengan jelas suara tersebut yang tentu saja membuatnya bertanya-tanya sekaligus penasaran akan pemilik suara derap langkah kaki itu.


"Siapa kau? Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan? Apa kau adalah Faris?" pekik Pandu kemudian.


Hanya saja meski suara Pandu terdengar langsung menggema di ruangan tersebut, pemilik suara derap langkah kaki itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya dan malah tertawa. Dengan gerakan yang cepat dan juga tiba-tiba. Penutup kepala itu mendadak terbuka lebar, membuat semuanya langsung terlihat dengan jelas pada manik mata milik Pandu saat itu.


"Arthur?" ucap Pandu dengan raut wajah yang membulat ketika yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Arthur.


"Ada apa dengan raut wajahmu itu? Apakah kau begitu terkejut akan kehadiranku? Ayolah ini tidak seru jika kau memasang raut wajah yang seperti itu." ucap Arthur dengan tersenyum sinis menatap tajam ke arah Pandu.


"Lepaskan aku sekarang juga! Apa yang kau inginkan sebenarnya hah?" ucap Pandu kemudian sambil berusaha untuk memberontak namun sayangnya sama sekali tidak berhasil karena kuatnya ikatan tersebut.


"Tentu saja untuk membalas semua hal yang telah kau lakukan kepada Aruna ku! Apa kau pikir kau akan lolos begitu saja setelah melakukan segala hal itu kepada Aruna? Tentu saja tidak akan kubiarkan kau lolos Pandu!" ucap Arthur dengan tersenyum menyeringai menatap ke arah Pandu.


Namun Pandu yang mendengar hal tersebut, malah tersenyum seakan sedang mengejek Arthur saat ini. Membuat Arthur langsung mengambil posisi bersendekap dada dan melihat apa yang bisa dia lakukan ketika ia sedang dalam posisi tersudut.


"Apa kau mau membunuhku? Silahkan saja bunuh aku, lagi pula semua karirku telah hancur. Kau sudah merusak reputasi Papa, sudah menghancurkan restoranku dan kau juga sudah membuat namaku begitu buruk di mata media dan juga masyarakat. Lalu apalagi yang ingin kau lakukan? Kau ingin membunuhku? Lakukan saja aku tidak takut akan kematian!" Ucap Pandu dengan nada yang menantang ke arah Arthur.


"Hahaha kematian ya? Tentu saja Pandu kamu tak perlu terburu-buru menyebutkannya karena aku pasti akan mengabulkan permintaan mu itu. Tapi yang jelas antara segala hal yang sudah aku lakukan kepadamu mungkin jika untuk kematian yang biasa-biasa saja itu akan terdengar sangat tidak mengasyikkan, bukankah begitu? Lagi pula seorang sampah seperti mu tentu harus di basmi sampai ke akarnya, bukan?" ucap Arthur sambil mendekatkan kepalanya tepat di hadapan wajah Pandu dan menepuk bagian pipi Pandu secara beberapa kali.


"Sialan kau!" pekik Pandu dengan nada yang kesal hendak melayangkan pukulannya untuk Arthur namun karena tangan dan kakinya yang terikat, membuatnya sama sekali tidak bisa melakukan hal tersebut.


"Oh wow kenapa kau sangat marah? Santai saja... Jangan terlalu tegang, oke? Jika seperti itu tentu tidak baik untuk kesehatan jantungmu." ucap Arthur kemudian dengan kembali tertawa, membuat Pandu semakin geram akan tingkah dari Arthur saat ini.


Setelah mengatakan hal tersebut kepada Pandu, Arthur kemudian terlihat membenarkan posisinya saat itu dan langsung memanggil Faris agar mendekat dan membawakan sesuatu untuknya.


"Silakan Tuan..." ucap Faris kemudian sambil membawakan satu nampan berisi beberapa hal di atasnya.


"Katakan... Kau ingin memilih bagian yang mana? Yang kanan atau yang kiri? Aku membebaskan mu untuk kedua pilihan itu. Tapi tunggu... Untuk apa aku membiarkanmu memilih? Bagaimana kalau kedua-duanya? Bukan kah hal itu akan terasa menyenangkan?" ucap Arthur dengan senyuman yang menyeringai di wajahnya.


"Kau benar-benar sudah gila! Setidaknya Aruna harus melihat hal ini karena Arthur yang ia kenal hanyalah sebuah kamuflase dari seorang Iblis!" ucap Pandu kemudian dengan raut wajah yang kesal.


Namun Arthur yang mendengar hal tersebut lantas hanya tersenyum sambil manggut-manggut, kemudian mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah di mana Pandu berada saat ini.


"Ya katakan saja kepada Aruna, tapi tidak di sini namun di akhirat sana! Bagaimana bukankah aku begitu baik kepadamu?" ucap Arthur sambil mulai mengambil posisi berjongkok bersiap untuk menyuntikkan sesuatu kepada Pandu saat itu.


"Karena aku baik hati maka aku akan memberikan mu keduanya. Bagian kanan adalah bisa ular yang sangat ganas sedangkan bagian kiri adalah cairan yang dapat merusak kerja organ bagian dalam manusia! Sesuatu kombinasi yang luar biasa!" ucap Arthur sambil menyuntikkannya secara terpaksa kepada Pandu.


Mendengar hal tersebut Pandu tentu saja terkejut bukan main, Pandu mencoba untuk memberontak dan membuka ikatannya. Namun sayangnya tidak berhasil dan malah membuatnya jatuh ke tanah dengan posisi kursi yang terbalik, membuatnya sama sekali tidak bisa bergerak.


"Kau.. Kau.. Benar.. Benar setan! Arggggg.. Arggg... hhh" ucap Pandu menggeliat ketika merasakan kedua hal tersebut mulai masuk dan mempengaruhi dirinya.


"Ah kasian sekali kau! Aku turut berduka atas kematian mu.. Sampai jumpa.." ucap Arthur sambil bangkit dari posisinya meninggalkan Pandu seorang diri di sana dengan kondisi badan yang mulai membiru sambil terus menggeliat layaknya ikan yang naik dan kehabisan napas di daratan.


"Arthur ber..henti.. Arggg aaaa... bunuh saja aku dengan pistol... Bunuh saja aku.. Aaaaa..." ucap Pandu dengan nada yang berteriak.


"Ar.. Berhenti.. Tolong aku, to..long aku.. Sakit... Aaaaa..." terik Pandu yang kembali merintih kesakitan karena suntikan dari Arthur yang mulai bereaksi kepada tubuhnya saat ini.


Pandu berteriak dan terus berteriak merintih kesakitan, tubuhnya benar-benat terasa begitu menyakitkan hingga tak lagi bisa ia menahannya.


Namun Arthur yang mendengar hal tersebut sama sekali tidak menghentikan langkah kakinya dan terus melangkahkan kakinya meninggalkan area tempat tersebut. Faris yang melihat Arthur berlalu pergi lantas langsung mendekat ke arahnya, membuat Arthur lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Lakukan sesuai dengan rencana dan buat sedramatis mungkin, apakah kau mengerti?" ucap Arthur kemudian dengan senyum yang menyeringai.


"Tentu saja Tuan.." jawab Faris yang seakan mengerti akan perintah dari Arthur barusan.


Bersambung