Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Lepaskan Aruna!



Fadli yang tahu jika dirinya tengah tersudut saat ini, lantas menatap ke arah Aruna dengan raut wajah yang tersenyum simpul. Entah apa yang tengah ia rencanakan saat ini, namun yang jelas hal itu bukanlah sesuatu yang baik.


"Dasar penipu...!" teriak salah seorang korban Fadli yang lantas membuyarkan lamunan Fadli dengan seketika.


Fadli yang tentu saja tahu jika saat ini adalah bukan waktu yang baik, lantas langsung mulai menuruni satu persatu anak tangga panggung dekorasi pernikahannya dan berniat untuk melarikan diri. Hal tersebut tentu saja membuat sekumpulan wanita tersebut, lantas mulai mengangkat dress panjangnya dan mengejar langkah kaki Fadli yang berlalu pergi menghindar dari mereka.


Suara riuh gemuruh gadis-gadis tersebut lantas langsung mengagetkan seisi tamu undangan di area ballroom tersebut. Tak terkecuali juga dengan Bagas yang sedari tadi sibuk menyeret Maria agar keluar dari ruangan ini, langkah kaki Bagas lantas terhenti dengan seketika. Ketika ia melihat begitu banyaknya wanita tengah mengejar menantunya saat ini, membuat raut wajah bingung juga tampak terlihat dari tamu undangan saat itu.


"Berhenti kau laki-laki b3r3ngs3k!" pekik salah seorang gadis yang lantas membuat tatapan aneh mengarah kepada Fadli saat itu.


Acara pernikahan Fadli dan juga Felia kali ini benar-benar kacau balau, tidak hanya ditimbulkan oleh Maria yang tiba-tiba mengamuk. Hal tersebut juga terjadi akan terbongkarnya semua fakta yang berkaitan dengan Maria, termasuk dengan kebusukan Fadli yang mulai terungkap saat itu. Membuat segala hal yang di pesta tersebut yang tadinya bersifat meriah, berubah menjadi acara pembongkaran kebusukan antara satu sama lain.


Arthur tersenyum dengan puas ketika melihat Fadli berlarian kesana kemari menghindari kejaran para gadis-gadis akibat korban darinya. Sampai kemudian pandangannya tertuju kepada Aruna yang saat itu tengah berdiam di salah satu sudut tempat yang masih berada di ballroom tersebut.


Melihat Fadli yang seakan-akan tengah berlarian mengarah menuju ke arah Aruna saat itu, tentu saja mengundang tanda tanya besar di kepala Arthur saat itu. Arthur yang curiga jika Fadli tengah merencanakan sesuatu saat ini, lantas membuatnya langsung berlarian mendekat ke arah di mana Aruna berada.


"Aruna...." pekik Arthur yang lantas membuat semua mata tertuju darinya.


Bruk....


Mendengar suara keras seseorang terjatuh lantas membuat langkah kaki Arthur terhenti dengan seketika. Bola mata Arthur lantas membulat begitu mendapati Fadli yang menarik tubuh Aruna begitu saja, hingga membuatnya jatuh terhuyung dengan seketika.


Fadli yang berhasil menangkap Aruna saat itu, lantas langsung memitingnya dan mengangkat tubuh Aruna agar segera bangkit dari posisi terjatuhnya saat itu. Membuat Aruna yang mendapati pitingan tersebut tentu saja terkejut bukan main.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Aruna sambil berusaha melepas cengkraman tangan Fadli saat itu.


"Berhenti di sana! Jika kalian berani mendekat aku akan menghabisinya!" pekik Fadli sambil mengarahkan sebuah garpu ke arah leher Aruna saat itu.


Mendengar teriakan dari Fadli barusan tentu saja membuat beberapa wanita itu lantas saling pandang antara satu sama lain. Keheningan mendadak terjadi di sana membuat suasananya kian menjadi mencekam. Sampai kemudian seorang gadis berteriak dan menyuarakan agar mereka tetap maju dan melawan Fadli saat itu.


"Kau hanya menipu kami kan? Lagi pula kami tidak mengenalnya, jadi percuma jika kau mengancam kami dengan dirinya. Ayo gais kita maju sekarang dan beri dia pelajaran!" ucap salah seorang wanita yang lantas membuat yang lainnya manggut-manggut dan hendak maju saat itu.


Beberapa orang nampak mundur, namun hal tersebut tidak berlaku untuk Arthur. Arthur yang melihat hal tersebut lantas maju ke depan menerobos gerombolan wanita tersebut.


"Hentikan tindakan mu itu, lepaskan Aruna sekarang juga atau aku akan..." ucap Arthur namun terhenti ketika perkataannya di potong oleh Fadli saat itu.


"Atau apa? Jika kau berani melakukan sesuatu dan melangkahkan kaki mu kemari, aku pastikan jika garpu ini akan melukai Aruna. Jangan kira aku tidak bisa melakukannya hanya karena ini bukanlah sebuah benda tajam. Meski benda tumpul sekalipun aku akan pastikan jika itu mengenai Aruna! Kosongkan tempat ini sekarang juga dan pastikan aku bisa pergi dari sini!" ucap Fadli dengan nada penuh penekanan saat itu.


"Faris bawa semua orang pergi dari sini, sekarang juga!" ucap Arthur pada akhirnya memberikan perintah.


Mendengar perintah tersebut lantas membuat Faris mulai bergerak, dengan di bantu beberapa bodyguard Faris berusaha menggiring tamu undangan dan segerombolan korban Fadli pergi melewati pintu area samping.


**


Disaat semua orang tengah berhamburan keluar dari area ballroom hotel, Bagas yang sedari tadi mencengkram dengan erat tangan Maria mendadak kehilangan dirinya. Bagas berdecak dengan kesal ketika mendapati jika ia kehilangan Maria saat ini, ditengah ramainya tamu undangan yang berhamburan keluar dari sana setelah mendapat ancaman dari Fadli barusan.


"Alina apa kamu melihat..." ucap Bagas yang hendak menanyai keberadaan Maria kepada Alina.


Hanya saja ketika Bagas menoleh ke arah samping, ia juga tidak melihat keberadaan Alina di sekitarnya. Membuat Bagas yang mendapati hal tersebut, tentu saja di buat semakin kesal dan kebingungan mencari keberadaan keduanya ditengah begitu banyaknya tamu undangan.


"Alina kamu dimana?" panggil Bagas beberapa kali sambil mulai menyusuri beberapa titik lokasi yang mungkin saja Alina tengah berada di sana.


Sampai kemudian sebuah siluet seseorang yang tak asing di kepalanya, samar-samar terlihat menyeret tubuh Alina melewati pintu belakang saat itu. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat raut wajah Bagas memerah dengan seketika.


"Maria..... Awas saja kau!" pekik Bagas dengan nada yang kesal.


Bagas yang yakin jika bayangan tersebut adalah Maria, lantas langsung membelah kerumunan dan berusaha untuk mengejar bayangan Maria barusan. Entah apa yang ada dipikiran Maria saat itu, hingga menyeret Alina begitu saja menjauh dari dirinya. Sebuah pikiran negatif mendadak memenuhi isi kepalanya saat itu, membuat Bagas semakin mempercepat langkah kakinya mengejar keduanya yang terlihat menuju ke arah lorong saat itu..


"Semoga saja semua ini tidak sesuai dengan isi kepala ku, aku harap Alina baik-baik saja. Kali ini tidak akan ku biarkan aku kehilangannya lagi, apapun yang terjadi aku harus mendapatkannya walau aku harus berhadapan dengan Maria sekalipun." ucap Bagas sambil mulai membawa langkah kakinya keluar dari area ballroom hotel saat itu.


Bersambung