
Kediaman Agam
Dari arah pintu masuk terlihat Pandu tengah melangkahkan kakinya memasuki area kediaman orang tuanya. Setelah Ibunya meninggal Pandu jarang sekali pulang ke Rumah utama dan menemui Ayahnya karena memang permintaan langsung dari Agam. Agam yang notabennya adalah ketua dewan merasa malu karena mempunyai anak seperti Pandu yang terus membuat masalah.
Hanya saja seorang orang tua tetaplah orang tua, meski Pandu sering sekali membuat masalah namun Agam selalu berusaha yang terbaik untuk menyelesaikan segalanya agar segala perbuatan anaknya tidak tercium oleh media tentunya.
Dengan langkah kaki yang malas Agam nampak memasuki area santai di Rumah tersebut dimana di dalamnya terdapat segala jenis fasilitas termasuk bilyard dan juga yang lainnya. Pandu menatap ke arah Agam yang saat ini tengah bermain bilyard di sana sambil menghela napasnya dengan panjang.
"Sudahlah mungkin pasrah lebih baik saat ini." ucap Pandu pada akhirnya sambil terus membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Agam berada.
"Pa" panggil Pandu kemudian ketika posisi keduanya hanya berjarak beberapa centi meter saja.
Mendengar panggilan tersebut membuat Agam lantas tersenyum dengan tipis kemudian menatap ke arah Pandu dengan tatapan yang intens.
"Masih ingat ternyata kalau kamu masih punya orang tua? Apa kamu benar-benar ingin jadi yatim piatu?" ucap Agam kemudian yang lantas membuat Pandu mengernyit dengan tatapan yang bingung seakan tidak mengerti akan arah dari perkataan Agam saat ini.
"Apa Papa mengundang ku kemari hanya untuk mengatai ku saja? Jika memang seperti itu, sebaiknya aku pulang." ucap Pandu kemudian dengan nada bicara yang kesal.
Agam yang mendengar gerutuan Pandu barusan kemudian meletakkan stiknya ke sebuah penyangga kemudian mengambil posisi bersendekap dada dan menatap ke arah Pandu dengan tatapan yang intens, membuat Pandu lantas menatap dengan tatapan yang bingung seakan bertanya-tanya akan maksud dari tatapan Agam barusan.
"Sebenarnya Papa tidak terlalu perduli akan urusan mu, hanya saja belakangan ini Papa tertarik kepada gadis yang bernama Aruna. Papa dengar gadis itu berhasil membuat seorang pewaris keluarga Gavanza angkat kaki dari kediamannya. Bukankah gadis itu cukup menarik? Bahkan kau saja juga menggilainya." ucap Agam dengan tersenyum tipis membuat Pandu langsung terdiam dengan seketika.
"Papa jangan coba-coba untuk menyentuhnya karena Pandu tidak akan membiarkan itu terjadi, hanya Pandu yang boleh menyentuhnya." ucap Pandu dengan nada meninggi.
Mendengar nada ancaman dari Pandu barusan lantas membuat Agam tertawa dengan keras.
"Papa tidak akan menyentuhnya, tapi yang jelas buat gadis itu kembali kepadamu dan biarkan hati Arthur hancur karenanya. Jika bisa buat pria itu gila sekalian!" ucap Agam kemudian tepat setelah menghentikan tawanya.
Pandu yang mendengar perkataan Ayahnya barusan tentu saja terkejut bukan main seakan bertanya-tanya apa yang tengah terjadi kepada Ayahnya hingga ia menyuruhnya untuk melakukan hal ini kepada Arthur. Biasanya ia bahkan selalu mentang apa yang telah di perbuat oleh Pandu, namun kali ini malah sebaliknya. Bukankah ini sangat aneh dan membingungkan?
"Apa yang sebenarnya terjadi Pa? Apa telah terjadi sesuatu tanpa sepengetahuan ku?" tanya Pandu kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Mendengar pertanyaan dari Pandu barusan tentu saja langsung membuat Agam terdiam seketika, pikirannya melayang pada sebuah kejadian di mana dulu ia ingin membeli sebuah properti tanah untuk sebuah bangunan hotel yang akan dibangun di sana. Agam yang saat itu mengikuti pelelangan tentu saja berusaha mati-matian untuk mendapatkannya karena semua orang tahu jika tanah tersebut terletak tepat di tempat yang strategis. Namun seseorang malah merusak segalanya dan mengambil alih tanah tersebut.
"Pa..." ucap Pandu kemudian ketika tak mendapat jawaban apapun dari Agam barusan.
Mendengar panggilan dari Pandu barusan lantas membuat Agam tersadar dari lamunannya.
"Kamu tidak perlu tahu apa yang terjadi, yang cukup kamu tahu adalah cari cara untuk membuat Arthur gila!" ucap Agam dengan nada penuh penekanan.
***
Keesokan harinya
Sesuai dengan perkataan Aruna kemarin, hari ini Aruna dan juga Arthur pergi ke suatu tempat yang Arthur sama sekali tidak tahu dimana itu. Selama perjalanan yang Arthur lakukan hanya menuruti arahan dari Aruna tanpa tahu keduanya akan pergi kemana saat ini.
Di suatu tempat tepatnya di dekat pohon besar Aruna menyuruh Arthur untuk menghentikan laju mobilnya, membuat Aruna yang mendengar hal tersebut lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung seakan bertanya-tanya untuk apa Aruna menyuruhnya menghentikan laju mobilnya di sana.
"Apa anda ingin mengukur tanah Tuan? Saya belum mempersiapkan apapun..." ucap Arthur dengan nada yang panik ketika melihat tanah lapang yang luas di hadapannya.
"Jangan gila kamu, siapa juga yang ingin membeli tanah di sini!" ucap Aruna dengan nada yang kesal.
Setelah mengatakan hal tersebut Aruna lantas mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam mobil, membuat Arthur yang mendengar dan juga melihat langkah kaki Aruna yang turun tentu saja menatapnya dengan raut wajah yang bingung. Arthur kemudian memutuskan untuk menyusul Aruna dan keluar dari dalam mobil. Sikap Aruna benar-benar terlihat aneh saat itu dimana ia malah mengedarkan pandangannya ke sekitar seperti tengah mencari sesuatu di sekitaran sana.
"Apa yang sebenarnya anda cari Tuan? Jangan membuat saya takut!" ucap Arthur kemudian sedikit menempelkan posisi tubuhnya karena bulu kuduknya tiba-tiba saja berdiri padahal ini masih siang hari.
"Jaga jarak dan jangan terlalu menempel!" ucap Aruna kemudian dengan nada yang kesal.
"Ye Tuan... Gitu aja marah..." ucap Arthur sambil melepaskan pegangan tangannya yang melingkar di lengan Aruna barusan.
Perasaan Arthur benar-benar tidak enak saat itu, ia bahkan sampai mengusap tengkuknya selama beberapa kali karena merasakan perasaan merinding yang secara tiba-tiba padahal suasana saat itu masih siang hari. Namun anehnya Aruna malah bersikap biasa seakan-akan tidak merasakan apapun di sekitaran sana, sampai kemudian ketika keduanya tengah mencari sesuatu yang mungkin Arthur sendiri tidak tahu apa yang sedang ia cari bersama dengan Aruna. Sebuah suara seseorang lantas terdengar menyapa telinga keduanya dari arah belakang mereka, membuat Aruna dan Arthur langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Apa kalian tengah mencari ku?"
Bersambung.