
"Mulai hari ini aku memutuskan bahwa pertunangan antara Arthur dan juga Monica akan kembali berlanjut." ucap Bagas dengan tiba-tiba yang lantas membuat semua orang langsung terkejut seketika.
Aruna yang sedari tadi hanya sibuk makan dan memperhatikan segalanya, begitu mendengar perkataan Bagas yang memutuskan segalanya semaunya sendiri. Lantas membuat Aruna tanpa sadar langsung menggebrak meja dan bangkit dari posisinya, membuat semua orang yang ada di meja makan tentu saja terkejut bukan main.
"Apa!" pekik Aruna yang langsung bangkit dari posisinya yang membuat suasana kian terasa aneh di sana.
Semua orang yang melihat Aruna bangkit begitu mendengar pengumuman dari Bagas barusan tentu saja langsung menatap bingung ke arah Aruna. Sedangkan Arthur yang melihat tingkah Aruna barusan lantas langsung memberikan kode kepada Aruna untuk kembali duduk di tempatnya.
"Oh ya ampun... Entah apa lagi yang akan dilakukan oleh tuan saat ini." ucap Arthur dalam hati ketika melihat Aruna sama sekali tidak ingin menuruti kode dari Arthur barusan.
"Aku benar-benar minta maaf karena telah merusak suasana makam malam kali ini, hanya saja jika boleh saya berpendapat saya sama sekali tidak menyetujui perjodohan ini karena... karena saya..." ucap Aruna terhenti sambil kemudian mengelus perutnya yang terlihat rata tersebut.
Melihat Aruna yang mendadak bertingkah seperti itu tentu saja membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main. Seorang ahli waris perusahaan mendadak menghamili sekretarisnya sendiri dan di luar ikatan pernikahan, bukankah hal itu dapat memperburuk keadaan? Atau bahkan bisa berdampak pada saham perusahaan yang tentu saja akan turun ketika berita tersebut mulai terdengar keluar.
Arthur yang tidak habis pikir akan drama yang tiba-tiba saja dimainkan oleh Aruna, lantas terlihat bangkit dari posisinya sambil mulai berusaha menjelaskan segalanya kepada semua orang tentang hal ini.
"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, aku sama sekali tidak.. Argggg..." ucap Arthur dengan bingung sambil mengusap rambutnya yang tidak gatal itu.
Disaat suasana kian menjadi kacau akan pengumuman kehamilan yang dilakukan oleh Aruna barusan. Monica yang juga seperti tampak terkejut akan hal ini lantas langsung perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya, hingga membuat beberapa orang langsung menatap ke arah Monica saat ini.
"Sepertinya sudah saatnya saya pulang, terima kasih atas jamuannya Om.. Tante, saya permisi.." ucap Monica kemudian mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan area dimana makan malam tersebut di adakan.
Melihat kepergian Monica begitu saja lantas membuat Bagas menghela napasnya dengan panjang. Bagas yang mulai kesal akan tingkah laku Arthur yang semaunya kemudian mulai bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Arthur berada.
"Pa aku sungguh..." ucap Arthur hendak kembali menjelaskan namun terpotong ketika sebuah tamparan dengan keras mendarat di pipi Arthur begitu saja.
Plak
"Datang ke ruangan ku setelah ini, sebelum itu kau antar dia pulang terlebih dahulu!" ucap Bagas kemudian dengan nada yang penuh penekanan.
"Wah wah wah drama yang kau sajikan kali ini sangatlah luar biasa, aku bahkan sampai terkejut ketika mendengarnya secara langsung." ucap Maria kepada Arthur dengan nada yang menyindir.
Arthur yang mendengar perkataan dari Maria barusan hanya terdiam di tempatnya, ia bahkan sudah tidak berniat untuk meladeni nenek sihir di hadapannya ini. Segala hal yang terjadi saat ini benar-benar membuat Arthur terkejut hingga tidak bisa berkata-kata lagi.
Maria yang melihat Arthur hanya diam saja tanpa menanggapinya kemudian beralih menatap ke arah Aruna dari atas hingga bawah dengan tatapan yang menelisik kemudian mendekat ke arah Aruna untuk membisikkannya sesuatu.
"Kau benar-benar sesuatu ya? Selamat karena kau telah berhasil masuk di keluarga Gavanza, hanya saja ingat satu hal dan camkan dalam otak udang mu itu, jangan pernah bermimpi untuk menikmati sepeserpun harta keluarga ini karena kau sama sekali tidak pantas untuk itu!" ucap Maria dengan nada yang berbisik kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Aruna yang mendengar perkataan dari Maria barusan tentu saja langsung mengepalkan tangannya dengan erat seakan seperti tidak suka akan cara bicara Maria yang seperti itu. Sedangkan Felia dan Maxim yang sedari tadi juga ada di ruangan tersebut lantas terlihat melangkahkan kakinya begitu saja sambil menatap ke arah Aruna sekilas kemudian berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata apapun juga baik kepada Aruna ataupun kepada Arthur yang saat itu nampak terdiam di tempat mereka seakan terkejut akan kejadian yang baru saja terjadi.
"Saya akan mengantar anda pulang tuan." ucap Arthur kemudian dengan nada yang lirih sambil mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana.
Sedangkan Aruna yang melihat kepergian Arthur tentu saja langsung mengejar langkah kakinya secepat mungkin. Tentu setelah apa yang terjadi barusan Aruna tidak bisa pergi begitu saja setelah membuat masalah yang besar di sini. Untuk itu Aruna tidak ingin beranjak sama sekali dari tempat ini apapun yang terjadi.
Aruna mengejar langkah kaki Arthur yang lebih dahulu berlalu dan hendak pergi dari sana. Sampai ketika jarak di antara keduanya hanya tinggal beberapa centi saja Aruna lantas menarik tangan Arthur agar menghentikan langkah kakinya di sana. Membuat Arthur yang mendapat tarikan tangan tersebut dengan spontan langsung menghentikan langkah kakinya dengan malas. Arthur bahkan sudah sangat-sangat tidak ingin berdebat ataupun mengatakan hal apapun kepada Aruna saat ini. Sifat arogannya yang mendarah daging membuat Arthur begitu muak akan kebiasaan buruk Aruna itu.
"Aku tidak ingin pulang dari sini." ucap Aruna kemudian yang lantas membuat Arthur langsung memutar bola matanya dengan jengah begitu mendengar perkataan dari Aruna barusan.
"Janganlah memperumit keadaan tuan, sebaiknya kita pulang biar nanti aku yang menemui tuan Bagas." ucap Arthur dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Aruna.
Untuk saat ini bagi Arthur mengantar Aruna pulang mungkin adalah keputusan yang terbaik daripada harus terus membuatnya berada di sini dan malah semakin memperumit keadaan.
"Kau itu tidak mengerti apapun, Papa pasti akan..." ucap Aruna hendak menjelaskan watak Bagas namun terpotong oleh Arthur yang mendadak membentak dirinya.
"Yang mencoba untuk mengerti disini itu harusnya anda! Hentikan sandiwara ini tuan saya benar-benar lelah!" ucap Arthur dengan nada yang meninggi dan berhasil membuat Aruna terkejut karena ini pertama kalinya Arthur membentak dirinya.
Bersambung