
Di sebuah Bandara Internasional terlihat seorang wanita paruh baya dengan baju yang sederhana namun masih terlihat begitu anggun, nampak melangkahkan kakinya keluar dari Bandara.
Ini adalah pertama kalinya bagi Alina menginjakkan kakinya kembali ke Indonesia setelah bertahun-tahun bekerja dan mengadu nasib di luar negeri. Entah apa yang ada dipikiran Alina saat itu hingga membuat dirinya lebih memilih mengadu nasib di negeri orang dari pada tetap di negaranya, namun tuntutan serta banyaknya orang yang menyudutkannya lantas membuat Alina memutuskan untuk pergi jauh dari kota dan negara kelahirannya.
Alina menatap ke area sekitar sambil menggeret kopernya melangkahkan kakinya ke jalanan. Terlalu banyak yang berubah dengan negaranya dan Alina yakin semua hal pun ikut berubah seiring dengan berjalannya waktu termasuk putra dan juga mantan suaminya. Kepulangannya saat ini adalah untuk bertemu dengan putranya dan Alina harap putranya mau memaafkannya.
"Mama pulang Ar.. Apakah kamu merindukan Mama?" ucap Alina dengan senyum yang mengembang sambil terus membawa langkah kakinya menyusuri jalanan sekitar.
***
Mall
Mobil yang dikendarai oleh Faris terlihat berhenti tepat di basement salah satu mall terbesar di Ibukota. Hari ini adalah saatnya peninjauan kelayakan setiap stand dan juga fasilitas mall miliknya. Tidak ada yang pernah tahu jika pemilik salah satu mall terbesar di Ibukota adalah *Arthur karena memang *Arthur yang sengaja merahasiakannya dari semua orang termasuk Bagas dan juga keluarganya. *Arthur benar-benar ingin membangun sendiri bisnisnya sehingga membuat *Arthur tidak pernah terlihat dalam rapat ataupun seminar yang berkaitan dengan mall ini.
Setelah memarkirkan mobilnya di sana, satu persatu dari mereka bertiga mulai keluar dari dalam mobil dan bersiap melangkahkan kakinya masuk ke dalam mall.
"Sepertinya kita jangan memakai lift." ucap Aruna kemudian yang lantas membuat Arthur dan juga Faris langsung saling pandang antara satu sama lain.
"Memangnya kita mau lewat mana Tuan? Apakah anda akan langsung berkeliling di lantai ini?" tanya Arthur kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Tidak, aku ingin ke lantai atas terlebih dahulu!" jawab Aruna sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri area basement.
"Lalu?" tanya Faris kemudian.
"Kita naik tangga darurat!" jawab Aruna dengan nada yang santai sambil mempercepat langkah kakinya masuk ke dalam area belakang mall.
"Apa?" ucap Arthur yang sudah membayangkan berapa banyak anak tangga yang akan ia naiki untuk menuju ke lantai lima gedung mall ini.
Faris yang mendengar perkataan Aruna barusan lantas menghela napasnya dengan panjang. Faris jelas tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Arthur maupun Aruna saat ini, sehingga membuat Faris kemudian mulai melangkahkan kakinya dengan cepat dan menepuk pundak Arthur sebanyak dua kali.
"Jangan mengeluh, Tuan lebih tahu apa yang akan ia lakukan jadi aku harap kamu cukup mengikutinya saja." ucap Faris sebelum pada akhirnya berlalu dan melewati Arthur begitu saja.
"Akh benar-benar menyebalkan!" ucap Arthur dengan nada yang menggerutu namun tetap melangkahkan kakinya dan mengikuti kemana langkah kaki Aruna pergi menuntun keduanya.
**
Tangga darurat
Satu persatu anak tangga terlihat dengan jelas di hadapan Arthur, membuat napas Arthur kian ngos-ngosan ketika mengetahui masih banyak anak tangga yang harus ia lewati untuk menuju ke lantai atas. Sebuah papan yang memberitahukan letak posisi lantai nampak terlihat oleh Arthur ketika ia menaiki satu persatu anak tangga dan langsung membuat matanya membulat dengan seketika begitu melihat angka lantai yang di tunjukkan oleh papan tersebut.
"Hah 3? Gila.. Bahkan masih butuh dua lagi untuk sampai ke lantai lima, apa dia sungguh-sungguh akan naik ke lantai atas atau dia hanya ingin mengerjai ku saja kali ini." ucap Arthur dalam hati sambil menatap ke arah Aruna dan juga Faris yang terlihat sesantai itu dalam menaiki satu persatu anak tangga.
Disaat Arthur sibuk menggerutu sedari tadi lain halnya dengan Faris dan juga Aruna yang nampak detail memperhatikan area sekitar. Bagi Aruna setiap detailnya itu sangat penting selain membuat mata nyaman ketika di pandang segala detailnya juga berguna untuk keselamatan para pengunjung mall.
.
.
.
.
Setelah melewati beberapa putaran dan juga menaiki puluhan anak tangga, pada akhirnya ketiganya sampai juga di lantai lima. Ketiganya terlihat keluar dari area tangga darurat dan keluar tepat di daerah food court dan juga bioskop.
Arthur yang kakinya sudah gemetaran sedari tadi, tepat setelah keluar dari area tangga darurat, lantas memutuskan duduk sambil menselonjorkan kakinya di sebuah bangku yang terletak di sudut dekat area tangga darurat.
"Ah aku sudah tidak kuat untuk jalan lagi." ucap Arthur pada diri sendiri sambil mengibas-kibaskan tangannya berulang kali.
Sedangkan Aruna dan juga Faris yang tak mengetahui jika Arthur sudah duduk di salah satu bangku yang terletak di sudut mall, keduanya nampak sibuk berdiskusi tentang masalah fasilitas mall yang harus diperbaiki tanpa sadar jika Arthur tertinggal di belakang.
"Sepertinya ada beberapa yang memang harus diperbaiki, aku lihat pegangan di tangga darurat banyak yang sudah rusak dan harus di ganti. Oh ya jangan lupa untuk tambah alat pemadam kebakaran di setiap lantai tepat di tangga darurat." ucap Aruna mulai menjelaskan detailnya bersama dengan Faris.
"Baik Tuan" jawab Faris sambil mulai mencatat segala perintah dari Aruna barusan pada layar iPadnya.
"Dan untuk mu Aruna sebaiknya kamu...." ucap Aruna hendak memberikan perintah kepada Arthur namun Arthur malah tidak terlihat dimanapun.
Faris yang juga baru menyadari jika *Aruna tidak ada bersama dengan mereka kemudian mulai mengedarkan pandangannya ke arah sekitar untuk mencari keberadaan Arthur saat ini.
"Sepertinya dia sedang kelelahan saat ini Tuan.." ucap Faris kemudian sambil menunjuk ke arah dimana Arthur berada saat ini.
"Gadis itu benar-benar sesuatu, disaat atasannya bekerja ia malah leha-leha di sana." ucap Aruna sambil menatap arah tunjuk Faris barusan.
***
Sementara itu masih di dalam mall yang sama, Alina terlihat tengah melangkahkan kakinya menyusuri area mall untuk membeli sesuatu. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan putranya tentu saja Alina harus menyiapkan sebuah hadiah, bukan? Hal itu lah yang membuat Alina memutuskan untuk mampir ke mall terlebih dahulu sebelum mencari tempat tinggal untuknya.
"Apa yang di sukai Arthur saat ini ya? Apa mungkin sebuah setelan jas? Aku rasa itu bukanlah ide yang buruk." ucap Alina dengan senyum yang mengembang.
Alina terus melangkahkan kakinya menuju ke counter baju khusus pria. Hanya saja langkah kakinya lantas terhenti tepat di sekitar area pintu masuk ke tangga darurat dimana ia melihat seseorang yang tak asing ingatannya.
"Arthur..." ucapnya dengan bibir yang bergetar.
Bersambung