
"Yang mencoba untuk mengerti disini itu harusnya anda! Hentikan sandiwara ini tuan saya benar-benar lelah!" ucap Arthur dengan nada yang meninggi dan berhasil membuat Aruna terkejut karena ini pertama kalinya Arthur membentak dirinya.
"Apa yang terjadi kepadamu? Mengapa kau begitu marah? Aku tadi kan hanya... Hanya..." ucap Aruna dengan nada yang bingung ketika mendengar bentakan yang berasal dari Arthur barusan.
Aruna kini bahkan sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menanggapi kemarahan Arthur yang mungkin baru kali ini terjadi meski tadi di kantor ia juga melakukannya tapi hal itu tidaklah separah saat ini. Aruna yang tidak tahu harus mengatakan apa lantas hanya menghela napasnya dengan panjang sambil menatap ke arah Arthur selama beberapa detik. Keheningan terjadi diantara keduanya membuat suasana kian terasa aneh bagi keduanya, hingga kemudian sebuah suara yang tak asing di pendengaran mereka lantas menyapa telinga Arthur dan Aruna membuat keduanya terkejut bukan main.
"Ada apa dengan kalian berdua? Sudahlah Ar... Lagi pula dia kan kekasih mu bicarakanlah semua secara baik-baik, jangan menggunakan emosi seperti ini." ucap sebuah suara yang ternyata berasal dari Maxim dimana saat ini ia tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arthur dan juga Aruna berada.
Melihat kedatangan Maxim baik Aruna maupun Arthur lantas langsung terdiam seketika, emosi yang meledak-ledak di dalam hati Arthur bahkan saat ini belum sepenuhnya mereda. Namun sudah ditambah satu lagi masalah yang datang mendekat ke arahnya membuat kepalanya saat ini seperti akan meledak karena terus-terusan mendapatkan masalah padahal ia tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan keluarga ini. Arthur yang mendengar perkataan Maxim barusan di tujukan kepadanya lantas hanya terdiam tanpa menanggapi apapun, sampai ketika langkah kaki Maxim berhenti tepat di hadapan keduanya membuat Arthur dan juga Aruna mau tidak mau meladeni perkataan Maxim.
"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan barusan? Masalah kehamilan kita bisa membicarakannya Ar, aku punya kenalan dokter yang mungkin bisa membantu kalian berdua untuk menghilangkan anak yang tak diinginkan tersebut." ucap Maxim dengan nada yang sedikit berbisik.
Sedangkan Aruna dan Arthur yang mendengar perkataan dari Maxim barusan tentu saja terkejut bukan main, bagaimana bisa Maxim mengatakannya dengan semudah itu seakan-akan menghilangkan nyawa bayi tidak berdosa sama sekali bukanlah masalah yang besar.
"Jangan ikut campur urusan ku, lagi pula semua keputusan ada di tangan kami berdua seorang pria dari luar tidak pantas untuk ikut campur dan masuk ke dalam masalah internal seperti ini!" ucap Arthur kemudian dengan nada yang tidak suka akan cara bicara Maxim barusan.
"Ayolah Ar jangan terlalu kolot... bukankah hal itu sangatlah wajar di jaman modern seperti ini?" ucap Maxim kembali mengatakannya sambil tersenyum dengan cerah seakan mengatakannya tanpa beban sama sekali
Mendengar perkataan dari Maxim barusan membuat Aruna dan juga Arthur tentu saja semakin di buat kesal. Arthur yang mulai tersinggung akan perkataan dari Maxim barusan hendak melangkah ke arahnya dan melayangkan protes, namun siapa yang menyangka sebelum Arthur melangkahkan kakinya mendekat ke arah Maxim, Aruna sudah lebih dahulu mendahului langkah kakinya dan berhenti tepat dihadapan Maxim, membuat Maxim lantas menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang bertanya.
"Tuan Maxim yang terhormat dan tanpa mengurangi rasa hormat ku kepada anda, aku rasa ada baiknya anda menjaga mulut anda itu! Apa hanya otak anda saja yang di sekolahkan begitu tinggi selama ini? Sehingga mulut anda itu sama sekali tidak mempunyai sopan santun terhadap orang lain. Bagaimanapun jalan kehidupan bayi ini itu bukanlah urusan anda!" ucap Aruna dengan nada penuh penekanan.
Meski pengakuan Aruna tentang kehamilannya adalah pura-pura namun melihat reaksi keluarga ini yang seperti melihat sebuah bencana besar lantas membuat Aruna begitu marah. Kata-kata Maxim benar-benar sudah keterlaluan dan melukai hatinya. Dengan perasaan yang marah tepat setelah mengatakan hal tersebut Aruna lantas melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat tersebut dengan langkah kaki yang lebar. Sebuah rumah yang tak pernah menjadikannya tempat untuk berlindung dan memberikannya perasaan aman, membuat Aruna lantas begitu mantap meninggalkan area rumah tersebut dengan langkah kaki yang lebar.
"Apa kau begitu mencintainya? Dia bahkan hanya seorang sekertaris mu saja jika dibandingkan dengan Monica, bukankah dia tidak ada untungnya sama sekali?" ucap Maxim kemudian yang lantas membuat Arthur langsung berbalik badan menatap ke arahnya dengan spontan.
Mendengar hal tersebut membuat perasaan Arthur yang semula sudah terluka lantas bertambah perih ketika ia mendengar Maxim menjelekkan dirinya tepat dihadapannya walau dengan raga yang berbeda. Arthur yang terlanjur kesal begitu mendengar perkataan dari Maxim barusan lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Maxim berada dan menatapnya dengan tatapan yang tajam.
"Untung atau ruginya seseorang hanya aku sendiri yang bisa menentukannya, jika kau menganggap bahwa Monica begitu menguntungkan, mengapa tidak kau saja yang bersama dengan dirinya? Bukankah begitu?" ucap Arthur dengan tatapan yang tajam namun berhasil membuat Maxim terdiam dengan seketika.
Baru setelah mengatakan hal tersebut Arthur lantas kembali melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan tempat yang penuh dengan emosi dan perseteruan itu.
"Benar-benar keluarga gila!" ucap Arthur sambil terus melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan Maxim seorang diri di sana.
Sedangkan Maxim yang sedari tadi menatap kepergian keduanya, lantas langsung mengambil posisi bersendekap dada dan menatap ke arah kepergian Arthur dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Maxim menatap dengan tatapan menelisik ke arah punggung Arthur yang terlihat semakin melangkahkan kakinya menjauh dari tempatnya berada.
Entah ini hanyalah sebuah halusinasinya semata atau apa, melihat ekspresi wajah dari keduanya Maxim merasa ada yang aneh diantara Aruna dan juga Arthur yang saat ini ia temui. Maxim memang sengaja memancing amarah keduanya seakan sebagai ajang mengetes keduanya dan juga rasa penasaran dalam dirinya saat ini.
Setelah beberapa menit berdiri di sana dan tidak lagi mendapati punggung keduanya terlihat, lantas membuat Maxim nampak berpikir dengan keras apa yang salah pada keduanya namun semakin dipikir entah mengapa terasa semakin berbeda dan juga aneh bagi Maxim, membuat Maxim lantas menghela napasnya dengan panjang sambil memijit pelipisnya dengan pelan memikirkan segalanya yang sama sekali tidak ada ujungnya.
"Mengapa jadi aku yang pusing? Benar-benar menyebalkan!" ucap Maxim kemudian.
Bersambung