Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Lapar



Ruangan Arthur


Suasana ruangan kerja Arthur saat itu terlihat begitu hening dan senyap, baik Aruna maupun Faris terlihat sama-sama sibuk menatap ke arah iPad-nya masing-masing. Tak banyak yang mengetahui meskipun Arthur adalah seorang ahli waris dari perusahaan yang terkenal di Ibukota secara diam-diam sejak beberapa tahun yang lalu Arthur membangun sendiri usahanya tanpa sepengetahuan keluarga besar Gavanza, mulai dari membuat perusahaan game hingga membangun beberapa mall dan juga Resto atas nama dirinya. Hanya saja Arthur yang ingin merahasiakan segalanya mencoba untuk bersikap serapi mungkin agar usahanya tidak sampai tercium oleh Bagas.


Hal itu juga lah yang menjadi alasan ia terlihat begitu santai ketika jiwa *Aruna yang mendiami tubuhnya mengiyakan begitu saja perkataan Bagas yang mengatakan akan mencoretnya dari akta ahli waris. Setidaknya ia sudah memiliki cadangan untuk melanjutkan hidup tanpa harus bergantung dengan harta dari keluarga Gavanza.


Dengan raut wajah yang serius beberapa kali terlihat Arthur tengah sibuk melakukan beberapa pekerjaan melalui iPad miliknya. Sampai kemudian Faris yang mendapat sebuah kabar tentang Bagas lantas langsung bangkit dari sofa dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Aruna berada saat ini.


"Tuan..." panggil Faris dengan nada yang pelan namun masih bisa di dengar oleh Aruna saat ini.


Aruna yang mendengar panggilan dari Faris barusan, lantas langsung meletakkan iPad-nya di atas meja kemudian memutar kursi kebesarannya dan menatap ke arah Faris dengan tatapan yang bertanya-tanya seakan menanti kabar apa yang akan diberikan oleh Faris saat ini.


"Tuan besar sudah membekukan seluruh card dan fasilitas yang anda terima Tuan..." ucap Faris memberikan laporan kepada Aruna.


Aruna yang mendengar laporan dari Faris barusan lantas terlihat hanya tersenyum dengan tipis seakan tidak lagi terkejut akan berita yang baru saja disampaikan oleh Faris barusan. Faris yang melihat reaksi dari Aruna yang aneh awalnya sedikit terkejut dan bertanya-tanya namun ketika ia menyadari satu hal, pada akhirnya Faris mulai mengerti akan arti dari reaksi yang ditunjukkan oleh Aruna saat ini.


"Biarkan saja, aku bahkan sudah menduga hal ini akan terjadi." ucap Aruna dengan nada yang datar kemudian bangkit dari posisinya.


Dengan gerakan yang santai setelah mengatakan hal tersebut Aruna lantas melangkahkan kakinya melewati Faris begitu saja. Membuat Faris yang melihat Aruna bangkit dan mulai melangkah lantas menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang bertanya-tanya.


"Anda mau kemana Tuan?" tanya Faris kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


Mendengar pertanyaan tersebut Aruna lantas menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan menatap ke arah Faris sejenak.


"Mau makan aku lapar, tidakkah kau lapar?" ucap Aruna kemudian kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Faris di sana.


Faris yang mendengar perkataan dari Aruna barusan lantas langsung tersenyum sambil memegangi perutnya yang terdengar berbunyi itu, sepertinya bekerja benar-benar membuatnya lupa waktu hingga tidak sadar bahwa saat ini sudah lewat jam makan siang.


"Saya ikut Tuan..." ucap Faris kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Aruna.


**


Tuan..." panggil Arthur kemudian dengan senyum yang mengembang membuat Aruna yang mendengar panggilan tersebut langsung mengernyit dengan seketika.


Keheningan terjadi di antara ketiganya sampai kemudian suara perut keroncongan seseorang lantas terdengar menggema di sana, membuat Aruna dan juga Arthur lantas langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Maaf..." ucap Faris dengan senyum yang garing sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku akan memasakkan sesuatu untuk kalian berdua." ucap Arthur kemudian berbalik badan dan melangkahkan kakinya pergi dari sana menuju ke arah dapur untuk membuat makanan bagi keduanya.


"Tidak perlu..." ucap Faris hendak menolak namun Arthur sudah lebih dulu melangkahkan kakinya pergi dari sana.


"Sudahlah, lagi pula aku juga lapar." ucap Aruna dengan nada yang datar kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana.


**


Area meja makan


"Coklat hangat di siang bolong begini?" ucap Aruna dengan raut wajah yang mengernyit.


Mendengar perkataan dari Aruna barusan lantas membuat Arthur tersenyum seketika sambil menganggukkan kepalanya secara perlahan.


"Ini kombinasi yang sempurna cobalah Tuan..." ucap Arthur dengan tersenyum cerah.


Mendengar perkataan dari Arthur barusan lantas membuat Aruna langsung memutar bola matanya dengan jengah. Arthur yang tadinya hendak kembali protes lantas langsung mencari pembelaan dengan menatap ke arah Faris, namun yang ditatap bukannya menyetujui perkataannya Faris malah sudah memakan nasi goreng tersebut dengan lahap hingga sudah menghabiskan hampir setengah porsi dari nasi goreng tersebut. Membuat Aruna lantas langsung menghela napasnya dengan panjang karena di sini hanya ia yang protes sedangkan yang lainnya menikmati dengan nyaman makanan yang disajikan oleh Arthur barusan.


"Sudahlah lupakan saja.." ucap Aruna sambil memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Sedangkan Arthur yang melihat tingkah laku Aruna yang seperti itu lantas tersenyum dengan kecil. Entah mengapa bagi Arthur tingkah Aruna yang seperti itu benar-benar begitu menggemaskan bagi dirinya.


Keheningan kembali terjadi di area meja makan dan hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang beradu di piring saat itu. Sampai kemudian Arthur yang masih penasaran akan sesuatu lantas terlihat mulai meletakkan sendoknya di atas piring dan hendak memulai pembicaraan.


"Em Tuan... Apakah kita benar-benar menganggur saat ini? Lalu bagaimana anda membayar tagihan listrik nantinya? Dan gaji saya... Apakah saya sudah tidak punya penghasilan lagi saat ini?" ucap Arthur kemudian yang lantas membuat Faris tersedak seketika begitu mendengarnya.


Uhuk.. Uhuk...


Arthur yang mengetahui Faris tersedak lantas langsung memberikannya segelas air putih untuk Faris minum kemudian kembali menatap ke arah Aruna dan menunggu jawaban dari pertanyaannya barusan.


Helaan napas terdengar dengan jelas dari mulut Aruna, membuat Aruna kemudian terlihat meneguk segelas air di gelasnya.


"Sebenarnya...." ucap Aruna hendak mulai menjelaskan segalanya namun sebuah suara bel pintu terdengar menggema hingga sampai ke meja makan dan langsung menghentikan perkataan Aruna dengan seketika.


Mendengar suara bel berbunyi lantas langsung membuat Aruna, Arthur, dan juga Faris langsung saling menatap secara bergantian. Ketiganya seakan mulai bertanya-tanya siapa tamu yang datang berkunjung saat ini.


Arthur yang mendengar suara bel tersebut lantas mulai bangkit dari kursinya.


"Saya akan membuka pintunya Tuan..." ucap arthur kemudian sambil melangkahkan kakinya dari sana.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian Arthur yang tadinya pergi hendak membukakan pintu untuk tamu yang baru saja datang, lantas terlihat berlarian kembali ke arah meja makan. Membuat Aruna dan juga Faris lantas langsung saling pandang antara satu sama lain begitu melihat langkah kaki Arthur yang mendekat ke arahnya.


"Tuan gawat, nona Felia ada di depan..." ucap Arthur dengan raut wajah yang bingung.


"Apa?"


Bersambung