Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Tertipu



"Permisi Pak.." ucap Arta kemudian.


Mendengar sebuah suara yang berasal dari Arta seorang Pria dengan pakaian setelan jas rapi nampak berbalik badan begitu mendengar sebuah suara yang memanggilnya.


"Dia... Fadli.." ucap Felia dalam hati begitu melihat Pria tersebut berbalik badan dan menatap ke arahnya.


Benar-benar sebuah kebetulan yang lantas membuat Felia berbunga seketika begitu mengetahui Pria yang ada dipikirannya saat ini tengah berdiri persis di hadapannya.


Arta yang melihat Fadli berbalik badan lantas langsung tersenyum kemudian membisikkan sesuatu kepada Felia.


"Dia adalah pelanggan yang saya bicarakan." ucap Arta dengan nada setengah berbisik.


Mendengar bisikan dari Arta lantas hanya membuat Felia mengangguk beberapa kali kemudian mengisyaratkan kepada Arta untuk meninggalkan keduanya dengan tangannya. Membuat Arta yang melihat hal tersebut lantas langsung mengernyit dengan seketika, namun detik berikutnya mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana begitu melihat langkah kaki Felia yang mendekat ke arah dimana Fadli berada.


"Kau..." ucap Felia dengan nada yang menggantung membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah tampan Fadli.


"Iya kamu benar, kita bertemu lagi... Bagaimana bisa hal ini menjadi sebuah kebetulan yang begitu indah, bukankah begitu?" ucap Fadli dengan senyum yang mengembang membuat Felia lantas tersipu malu begitu mendengarnya.


Pertemuan keduanya yang terkesan mendadak dan tak di sengaja membuat Felia yang memang sedang memikirkan tentang Fadli lantas semakin berbunga. Obralan diantara keduanya bahkan selalu nyambung dan terus bersambut, membuat Felia semakin merasa cocok ketika melakukan obrolan bersama dengan Fadli.


Baik Fadli maupun Felia lantas terlibat pembicaraan yang cukup panjang mulai dari bernegosiasi tentang lukisan relief tersebut, beberapa hal kecil, hingga bisnis yang saling mereka jalani masing-masing. Entah mengapa pembicaraan mereka terasa mengalir begitu saja seperti layaknya sebuah anak sungai.


Cukup lama keduanya mengobrolkan banyak hal sampai kemudian Fadli berpamitan pergi untuk kembali melanjutkan aktivitasnya, membuat Felia yang mendengar kata perpisahan yang berasal dari Fadli tentu saja langsung kecewa.


"Terima kasih banyak atas segalanya, aku bahkan benar-benar tidak menyangka jika pembicaraan kita berdua bisa senyaman ini." ucap Fadli sambil tersenyum simpul seakan hal itu sudah menjadi jurus andalannya.


"Kamu benar bahkan aku juga terkejut ketika menyadari hal tersebut." ucap Felia kemudian seakan mengiyakan perkataan dari Fadli barusan.


"Semoga ke depannya kita bisa bertemu kembali." ucap Fadli sambil mengulurkan tangannya.


Melihat uluran tangan tersebut lantas membuat Felia langsung menerima jabatan tangan dari Fadli sambil tersenyum dengan manis.


"Tentu saja bapak Fadli yang terhormat." ucap Felia kemudian dengan nada setengah bercanda, membuat tawa kecil lantas terdengar dari keduanya.


***


Kediaman Gavanza


Dari arah pintu samping terlihat Indra tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah taman samping dimana biasanya Maria akan terlihat bersantai di jam-jam segini. Ada beberapa informasi yang perlu Indra sampaikan kepada Maria dan mungkin akan membuat Maria terkejut ketika mendengar informasi ini.


Dengan langkah kaki yang perlahan Indra mulai membawa langkah kakinya ke arah taman dan berhenti tepat di sebelah Maria yang kebetulan saat itu tengah bersantai sambil meminum secangkir teh kesukaannya.


"Iya Nyonya, mungkin berita kali ini akan membuat anda sedikit terkejut ketika mendengarnya." ucap Indra yang lantas menghentikan gerakan tangan Maria yang saat itu hendak meminum secangkir tehnya.


Mendengar perkataan serius dari Indra barusan lantas membuat Maria kembali meletakkan cangkir tehnya di sana kemudian menatap ke arah Indra dengan tatapan yang bertanya-tanya.


"Tentang apa ini?" ucap Maria kemudian.


Mendengar hal tersebut Indra kemudian memberikan sebuah ponsel kepada Maria dan memperlihatkannya sesuatu. Mendapatkan hal tersebut membuat Maria lantas langsung menerima ponsel pemberian Indra dan mulai melihat apa yang hendak di tunjukkan oleh Indra.


"Bukankah ini..." ucap Maria dengan nada yang menggantung.


"Anda benar Nyonya, Aruna dan juga Tuan muda saat ini tinggal dalam satu atap, tidak hanya itu yang ingin saya sampaikan melainkan ternyata selama ini secara diam-diam Tuan muda memiliki beberapa bisnis sendiri yang berkembang cukup pesat belakangan ini, saya benar-benar telah tertipu dengan sikap Tuan muda yang selama ini tidak terlalu ikut campur dalam urusan perusahaan." ucap Indra yang mulai memberikan laporan kepada Maria tentang Arthur.


Mendengar perkataan dari Indra barusan membuat Maria lantas terdiam seketika. Ini benar-benar tidak sesuai dengan apa yang di ekspektasi kan oleh Maria selama ini yang mengira bahwa Arthur akan tinggal di jalanan begitu semua fasilitasnya di cabut dan di usir dari kediaman keluarga Gavanza.


"Benar-benar sialan!" ucap Maria dengan nada yang kesal.


****


Sementara itu di area parkiran hotel khusus karyawan, terlihat mobil yang di kendarai oleh Faris baru saja memarkirkan mobilnya di sana. Mereka bertiga baru saja selesai makan siang dan kali ini Arthur lah yang merekomendasikan tempat favoritnya.


Aruna, Arthur dan juga Faris terlihat keluar dari dalam mobil sambil sesekali bersenda gurau seakan membicarakan sesuatu yang menurut mereka asyik dan tentu saja nyambung.


"Jangan pernah mengajak ku ke sana lagi karena aku tidak menyukai tempat itu!" ucap Aruna dengan nada yang kesal sambil menutup pintu mobilnya.


"Ayolah Tuan, meskipun tempatnya seperti itu, bukankah rasa masakannya luar biasa?" ucap Arthur dengan nada yang sumringah karena pada akhirnya berhasil membawa Aruna makan di warteg langganannya.


Jarang-jarang bukan? Mengajak seseorang yang sudah terlahir dengan sendok emas makan di pinggir jalan. Benar-benar suatu rekor yang sulit untuk terpecahkan, mengingat *Arthur yang selalu pilih-pilih makanan.


"Pokoknya aku tidak mau!" ucap Aruna lagi dengan nada yang kesal sambil mulai melangkahkan kakinya secara perlahan.


Sedangkan Faris yang mendengarkan perdebatan keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum ketika mendapati bahwa *Aruna berhasil membawa Tuannya makan di warteg.


"Sepertinya perlahan-lahan ada yang sudah mulai berubah dari sikap Tuan, aku sungguh merasakan bahwa sifat Tuan semakin kesini semakin menghangat. Tidak seperti dahulu yang tak pernah tersentuh dan selalu bersikap dingin. Belakangan ini Tuan bahkan sering sekali tersenyum." ucap Faris dalam hati sambil menatap ke arah keduanya.


Disaat langkah kaki ketiganya hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah lobi, sebuah suara yang begitu tak asing di pendengaran lantas langsung menghentikan langkah kaki ketiganya begitu mendengar nama Aruna di panggil dengan nada yang cukup keras.


"Aruna..." ucap sebuah suara yang langsung menghentikan langkah kaki ketiganya dengan seketika begitu mendengar panggilan tersebut.


Bersambung