
"Kau itu bodoh atau apa? Jika hanya seperti itu, sekali tepukan saja kau akan langsung di hempaskan oleh Arthur!" ucap Felia dengan nada yang meremehkan.
"Apa maksud perkataan mu barusan?" ucap Fadli dengan raut wajah yang penuh kebingungan.
Melihat raut wajah bingung milik Fadli saat ini, lantas membuat Felia langsung memberikan ponsel miliknya untuk menunjukkan sesuatu kepada Fadli. Membuat Fadli yang mendapati hal tersebut lantas langsung menerima ponsel tersebut dengan raut wajah yang penasaran.
"Apa ini?" ucap Fadli sambil menatap ke arah layar ponsel milik Felia.
"Mengapa kau masih bertanya? Bukan kah kau lihat sendiri jika pemberitaan yang kau buat itu hanya bertahan selama satu jam. Kau pikir lalat kecil seperti mu bisa melawan seorang Arthur? Cih.. Meski aku membencinya tapi aku bahkan mengakui kehebatannya dalam menyelesaikan sebuah masalah." ucap Felia dengan nada yang terdengar santai sambil mulai mengambil duduk pada kursi kebesarannya.
"Ba...bagaimana bisa?" ucap Fadli yang lantas membuat Felia tertawa dengan kencang.
Raut wajah Fadli benar-benar terlihat sangat lucu hingga mengocok perutnya. Entah mengapa melihat raut wajahnya seperti itu, membuat Felia tidak bisa menghentikan tawanya. Fadli yang mendapati Felia tertawa dan terus tertawa, hanya mendengus dengan kesal. Fadli mengambil langkah kaki yang bergegas menuju ke arah kursi ke besaran Felia dan menatapnya dengan tatapan yang bertanya-tanya.
"Mengapa kau tanyakan kepadaku? Tanyakan saja sana pada rumput yang bergoyang. Aku benar-benar malas menjelaskannya, lagi pula bukankah kau seorang pengusaha yang cerdik? Harusnya kau tahu bukan persaingan antar pengusaha? Tidak hanya itu saja, kehebatan Arthur bahkan sudah terkenal di dunia perbisnisan ini." ucap Felia dengan nada yang terdengar begitu santai, namun berhasil membuat raut wajah Fadli berubah dengan seketika.
Dengan raut wajah yang kesal, Fadli lantas mulai mendudukkan pantatnya pada kursi yang berada tepat dihadapan Felia saat itu. Membuat Felia yang mendapati raut wajah Fadli begitu terlihat kesal, lantas hanya menatapnya sambil tersenyum dengan tipis.
"Benar-benar sialan!" ucap Fadli dengan nada yang menggerutu kesal.
"Lagi pula apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan? Jika ingin menjatuhkan Arthur itu harusnya kau buat rencana serapi mungkin, bukan seperti ini. Aku saja yang sudah bertahun-tahun di sisinya tetap tidak bisa melakukan apapun, apa lagi dirimu yang belum terlalu mengenalnya." ucap Felia dengan nada yang meremehkan.
"Harusnya kau itu mendukung diriku bukan malah seperti ini." ucap Fadli dengan nada yang kesal ketika mendengar Felia yang seakan seperti sedang meremehkannya.
Mendengar perkataan dari Fadli barusan, lantas langsung membuat Felia bangkit dari posisinya. Ditatapnya Fadli dengan tatapan yang intens kemudian dengan spontan mendorong tubuh Fadli begitu saja, membuat Fadil yang mendapati hal tersebut lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung.
"Apa sih kamu itu? Kesambet yam.." ucap Fadli ketika mendapati tingkah aneh Felia yang mendorong tubuhnya dengan tiba-tiba.
"Sana pergi dan carikan aku pempek sekarang juga!" ucap Felia dengan tiba-tiba sambil terus mendorong tubuh Fadli agar segera bangkit dari posisinya.
"Ogah ah! Emang aku segabut itu... Pesan saja di aplikasi sana." ucap Fadli kemudian.
"Berdiri sekarang juga! Aku ingin dirimu yang berangkat, apa kau mau anak ini nanti ileran?" ucap Felia dengan tatapan yang tajam.
"Baiklah-baiklah aku pergi, dia masih kecil saja sudah menyusahkan.. Bagaimana jika sudah besar?" ucap Fadli dengan nada yang kesal.
"Siapa suruh kau ingin membesarkannya? Jadi sekarang tanggung sendiri akibatnya!" pekik Felia dengan nada yang kesal ketik mendapati Fadli berlaku pergi sambil mengomel.
**
Apartment
Sementara itu Aruna yang tidak tahu lagi harus pergi ke mana di kala derasnya hujan yang melanda Ibukota saat itu, membuatnya lantas langsung hanya bisa terdiam di depan lobby sambil menatap ke arah sekitar. Aruna nampak mengambil posisi bersendekap dada karena kedinginan akan cuaca yang buruk saat itu. Sambil memasang raut wajah yang cemberut, Aruna terlihat menatap setetes demi setetes air hujan yang turun membasahi bumi saat itu.
"Apakah dia perlu sampai sekejam ini padaku? Dia bahkan tidak mendengarkan sama sekali penjelasan dari ku!" ucap Aruna dengan nada yang menggerutu kesal.
Di saat Aruna tengah sibuk menggerutu tanpa kejelasan, sebuah mobil berwarna silver nampak berhenti tepat di hadapannya. Membuat Aruna yang tidak menyadari akan kehadiran mobil tersebut lantas bersikap acuh tak acuh.
"Apa yang kamu lakukan nak? Bukankah di luar sangat dingin?" ucap sebuah suara yang tak asing di pendengarannya saat ini.
Mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya saat itu, lantas langsung membuat Aruna mempertajam penglihatannya. Ditatapnya seorang wanita paruh baya yang saat ini tengah mengemudikan sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapannya. Sambil mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah kaca jendela penumpang, Aruna nampak menatap perempuan tersebut dengan tatapan yang intens.
"Bukankah Ibu yang ada di Supermarket saat itu?" ucap Aruna sambil mulai mengingat-ingat dimana Aruna pernah bertemu dengan wanita itu.
"Benar, masuklah nak Ibu butuh waktu mu beberapa menit." ucap Alina sambil tersenyum dengan simpul.
Mendapat tawaran tersebut tentu saja langsung membuat Aruna terdiam di tempatnya dengan seketika. Ditatapnya area lobby cukup lama, seakan seperti tengah menunggu kedatangan Arthur. Namun sepertinya Arthur tidak akan turun karena sebelumnya Arthur terlihat begitu marah akan tingkah laku yang Aruna sendiri sama sekali tidak tahu, apa yang telah ia lakukan hingga membuat Arthur semarah itu kepadanya.
"Baiklah Bu.. Tapi jangan terlalu lama ya?" ucap Aruna kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil wanita itu.
***
Ting...
Sebuah suara dentingan pintu lift yang terbuka dengan lebar, lantas terdengar di telinganya saat itu. Membuat Arthur yang terburu-buru sedari tadi lantas terlihat mempercepat langkah kakinya keluar dari area lift saat itu. Setelah mendengar kabar dari Faris yang mengatakan jika semua ini berkaitan dengan Fadli, lantas membuat Arthur menyadari jika ia telah salah besar karena menuduh Aruna yang tidak-tidak.
Dengan harap-harap cemas Arthur nampak mulai membawa langkah kakinya menyusuri area lorong menuju ke arah lobby untuk mencari keberadaan Aruna di sana. Hanya saja sayangnya meski Arthur telah memutari setiap area depan Apartemennya, Arthur malah tidak menjumpai kehadiran Aruna dimana pun. Membuat Arthur yang mendapati hal tersebut, lantas langsung terdiam di tempatnya dengan seketika sambil terus mengedarkan pandangan ke area sekitar.
"Dimana kamu Run, jangan membuat ku khawatir... Aku benar-benar menyesal telah menuduh dirimu."
Bersambung