
"Maksud anda tuan?" tanya Arthur yang sama sekali tidak mengerti akan perkataan dari Aruna barusan.
Mendengar perkataan dari Arthur barusan kemudian membuat Aruna tersenyum dengan simpul yang lantas membuat Arthur menjadi kebingungan ketika melihat senyuman dari wajah Aruna tersebut.
"Tidak ada apa-apa, ayo kita pergi sekarang..." ucap Aruna kemudian yang lantas membuat Arthur semakin bingung ketika mendengar ajakan dari Aruna barusan.
"Ayo kemana Tuan?" tanya Arthur dengan raut wajah yang bingung sekaligus penasaran sambil menatap ke arah Aruna dan juga Faris dengan tatapan yang bergantian.
"Bukankah kamu ingin bekerja? Atau memang kamu benar-benar ingin menjadi seorang pengangguran?" ucap Aruna sambil bersendekap dada menatap ke arah Arthur.
"Bekerja Tuan?" ucap Arthur dengan nada yang terkejut ketika mendengarnya barusan.
***
Lift
Setelah Arthur mengusir Felia dari Apartemennya tadi, Felia terlihat memasuki lift dengan raut wajah yang cemberut. Felia benar-benar kesal akan tingkah Arthur yang tiba-tiba mengusirnya dan menyuruhnya pulang dari sana padahal ia bahkan baru memulai pembicaraan dan belum selesai sepenuhnya, namun Arthur malah langsung mengusirnya begitu saja.
Sambil menekan tombol lift menuju ke lobi Felia terlihat berdecak dengan kesal jika memikirkan kembali sikap Arthur kepadanya. Sambil menunggu lift tersebut membawanya turun ke bawah Felia nampak mengambil posisi bersendekap dada dan menatap lurus ke arah depan.
"Lagi pula kedatangan ku bukan untuk membujuknya kembali ke perusahaan, jika Arthur memutuskan untuk keluar dari perusahaan... Bukankah itu sesuatu yang sangat menguntungkan untuk ku? Jadi untuk apa aku bersusah payah membujuknya? Benar-benar melelahkan saja!" ucap Felia sambil memutar bola matanya dengan jengah ketika memikirkan kembali segalanya.
Ting...
Sebuah suara pintu lift yang terbuka terdengar di sana yang lantas membuyarkan lamunan dari Felia barusan. Mendengar suara pintu lift yang terbuka membuat Felia mulai melangkahkan kakinya secara perlahan keluar dari lift dan mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Hanya saja ketika langkah kaki Felia baru saja keluar dari lift tanpa di sengaja ia malah menabrak seseorang dan membuat tas miliknya jatuh hingga mengeluarkan beberapa isi di dalam tasnya. Felia yang kesal karena isi tasnya keluar lantas bangkit dari posisinya hendak memarahi seseorang yang tanpa sengaja bertabrakan dengannya, namun siapa sangka Felia yang tadinya hendak marah kepada seseorang yang menabraknya malah menjadi terpesona kepada pria tersebut.
"Apa yang kau lakukan ha? Kau bahkan..." ucap Felia hendak memerahi seseorang tersebut namun tidak jadi dan malah terpesona karenanya.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja tadi.. Apa kamu terluka?" tanya pria tersebut sambil menatap ke arah Felia dengan tatapan yang menelisik.
Felia yang melihat seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan hidung mancung dan manik mata berwarna kecoklatan lantas terpesona dan terdiam di tempatnya dengan seketika. Felia benar-benar merasa tersihir oleh sosok Pria tersebut sehingga tidak bisa lagi berkata-kata apapun lagi selain hanya menatapi Pria itu dengan tatapan yang menelisik dan juga intens.
Pria itu yang sama sekali tidak mendapat jawaban apapun dari pertanyaannya barusan, lantas menatap ke arah Felia dengan tatapan yang bertanya-tanya akan sikap bengong yang ditunjukkan oleh Felia barusan. Membuatnya kemudian lantas langsung menepuk pundak Felia seakan berusaha untuk menyadarkan Felia dari lamunannya.
"Hei.. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Pria tersebut lagi yang kali ini lantas membuat Felia tersadar dari lamunannya.
"Ah maafkan aku... Aku Felia kalau kamu?" ucap Felia yang langsung to the point ke intinya.
"Fadli.." jawab Pria tersebut yang mengaku namanya adalah Fadli.
Sedangkan Felia yang berhasil mendapatkan nama Pria itu tentu saja langsung tersenyum dengan bahagia.
"Jika kamu baik-baik saja aku pergi dulu ya..." ucap Fadli kemudian melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana.
Membuat Felia yang mendengar perkataan dari Fadli barusan hanya mengangguk seperti orang bodoh sambil mengikuti kepergian Fadli hingga punggungnya tidak lagi terlihat pada pandangannya.
"Ah benar-benar seorang pangeran yang datang dari surga..." ucap Felia sambil terus menatap ke arah kepergian Fadli.
***
Di sebuah hotel berbintang lima yang terkenal di Ibukota terlihat mobil yang dikendarai oleh Faris berhenti tepat di area parkiran bagian depan hotel tersebut. Faris yang memarkirkan mobilnya di parkiran khusus staff lantas membuat Arthur mengernyit dengan tatapan yang bingung ke arah Faris.
"Apakah kita tidak salah parkir? Bagaimana jika satpam mengusir kita nantinya?" ucap Arthur kemudian.
Baik Faris maupun Aruna yang mendengar perkataan dari Arthur barusan tentu saja langsung tersenyum dengan tipis. Aruna dan Faris yang kompak tidak ingin menjelaskan apapun kepada Arthur, lantas melangkahkan kakinya turun begitu saja dari mobil meninggalkan Aruna yang masih menatap dengan tatapan yang bingung ke arah keduanya.
"Tuan.. Tuan tunggu..." panggil Arthur yang ikut melangkahkan kakinya mengejar Aruna dan juga Faris yang sudah melangkahkan kakinya terlebih dahulu ke arah lobi hotel tersebut.
"Tunggu sebentar.. Bukankah seharusnya kalian menjelaskannya terlebih dahulu kepada ku?" ucap Arthur dengan raut wajah yang bingung sambil berlarian menyusul langkah kaki Aruna dan juga Faris yang sudah lebih dahulu melangkah pergi.
"Selamat datang Tuan..." ucap sebuah suara secara serentak.
Sedangkan Arthur yang mendengar suara tersebut secara serentak tentu saja langsung terkejut bukan main, Arthur yang tadinya hendak mengejar langkah kaki Aruna dan juga Faris yang menuju ke arah lobi begitu mendengar suara tersebut yang disertai dengan beberapa pegawai staff hotel yang menunduk memberikan hormat kepada mereka bertiga, lantas langsung terkejut bukan main membuat ia langsung terdiam di tempatnya dengan tatapan yang melongo ke arah depan seakan bertanya-tanya apa yang sedang mereka lakukan saat ini.
Melihat beberapa orang menundukkan kepalanya membuat Arthur langsung menelan salivanya dengan kasar. Arthur bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini, sedangkan Faris dan juga Aruna yang melihat ekspresi terkejut dari Arthur tentu saja langsung tertawa kecil kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arthur.
"Mari Tuan kita masuk ke dalam..." ucap Aruna dengan tersenyum manis yang tentu saja membuat Arthur semakin kebingungan dengan apa yang sedang terjadi sebenarnya saat ini.
"Ada apa ini sebenarnya Tuan? Mengapa mereka memberikan hormat kepada kita?" ucap Arthur kemudian dengan nada yang berbisik tepat di telinga Aruna, membuat Aruna langsung tersenyum seketika.
"Sudahlah jalan saja sekarang!" ucap Aruna kemudian sambil mendorong sedikit punggung Arthur agar mulai bergerak dan melangkah masuk ke dalam.
Bersambung