
"Apakah aku bisa melakukan hal ini?" ucap *Aruna dalam hati.
*Aruna saat ini benar-benar takut untuk melangkah keluar dari mobil mengingat ia sama sekali tidak mengenal ataupun akrab dengan keluarga besar Gavanza. Jika dari yang *Aruna dengar dan juga baca di sebuah website bisnis, keluarga Gavanza terkenal dengan sikap dan juga pemikirannya yang disiplin, sehingga membuat keluarga besar Gavanza menduduki kursi pertama orang terkaya sekaligus pengusaha sukses di negara ini. Arthur menghela napasnya dengan panjang sambil kembali melirik ke arah pintu utama. Pikirannya saat ini benar-benar sudah berkelana kemana-mana, walau *Arthur mengatakan acara ini hanyalah sebuah makan malam biasa, namun jika untuk keluarga sultan seperti mereka tentu saja makna sesungguhnya bukanlah hal tersebut, bukan?
"Aku harus bagaimana?" ucap *Aruna kembali dalam hati.
Aruna yang sedari tadi asyik melihat perkembangan bisnisnya lewat ponsel miliknya, ketika tidak melihat Arthur turun juga lantas langsung melirik ke arah sebelah untuk melihat apa yang sedang di lakukan Arthur saat ini. Wajah gugup terlihat jelas ketika Aruna menoleh ke arah kursi pengemudi, membuat Aruna lantas langsung menghela napasnya dengan panjang ketika melihat Arthur yang seperti itu.
"Apa lagi yang kau tunggu? Sana cepat turun dan masuk ke dalam, bukankah Faris sudah mengarahkan segalanya kepadamu?" ucap Aruna dengan nada yang santai membuat Arthur yang sedari tadi menatap ke arah pintu utama lantas langsung menoleh ke arahnya begitu mendengar perkataan Aruna barusan.
Mendengar perkataan Aruna barusan membuat Arthur langsung terdiam seketika. Walau jiwa *Arthur sendiri sudah mengatakan hal tersebut, namun entah mengapa Arthur masih merasakan kekhawatiran di dalam dirinya.
"Memang sudah, namun aku tidak terlalu yakin bisa melakukannya dengan mulus, bagaimana jika aku melakukan kesalahan nanti?" ucap Arthur dengan nada yang khawatir menatap ke arah Aruna saat ini.
"Ini hanyalah makan malam biasa, lagi pula peraturan di keluarga kami adalah tidak ada pembicaraan apapun yang boleh dikeluarkan ketika makan. Jadi jika ada yang bertanya kepadamu diam saja dan tak perlu menjawab. Jika sudah selesai kamu langsung lah kembali kemari karena aku menunggu mu disini." ucap Aruna menjelaskan detailnya kembali.
Arthur yang mendengar perkataan Aruna tentu saja kembali menghela napasnya dengan panjang, dijelaskan bagaimanapun juga tetap saja bagi *Aruna akan sama saja, mengingat ia yang dari kalangan biasa dan di tubuh yang bukan miliknya, tiba-tiba di suruh makan malam ala table manner. Tentu saja merasa tidak biasa dan pasti takut melakukan sesuatu yang salah.
"Sudah turun cepat, kuncinya hanya makan dan pulang. Jangan melakukan apapun lagi selain kedua hal tersebut." ucap Aruna dengan nada yang memperingati mengingat tingkah laku *Aruna yang bar-bar, membuat *Arthur takut jika sampai *Aruna membuat kesalahan yang fatal ketika bertemu dengan Bagas.
Sedangkan Arthur yang kembali mendengar teriakan dari Aruna agar segera turun, lantas terlihat mendengus dengan kesal. Meski jiwa *Arthur telah berpindah ke tubuhnya, entah mengapa atasannya itu tetap saja cerewet dan juga semena-mena sama sekali tidak berubah sedikitpun. Arthur yang mendengar nada cerewet dan juga ketus dari Aruna pada akhirnya mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam mobil dan bersiap untuk masuk ke dalam gerbang neraka yang berkedok istana tersebut, yang *Aruna sendiri bahkan tidak akan pernah tahu tentang apa yang saat ini tengah menantinya di dalam istana tersebut.
***
Area meja makan
Suasana di area meja makan terdengar begitu hening dan juga tanpa pembicaraan apapun, membuat *Aruna sedikit merasa gugup berada ditengah-tengah keluarga yang sangat asing baginya baik dalam hal tata cara maupun segala hal yang berhubungan dengan keluarga besar Gavanza. Jiwa *Aruna yang terjebak di dalam tubuh Arthur membuat *Aruna mau tidak mau harus melakukan segala hal yang berhubungan dengan Arthur.
"Jika kau belum terlalu sehat istirahatlah di Apartment mu, tidak perlu memaksakan dirimu untuk datang dan bekerja." ucap Bagas kemudian sambil meminum segelas air putih dan mengelap mulutnya.
*Aruna yang semula tidak terlalu tahu bahwa perkataan Bagas tertuju kepadanya, melihat semua orang hanya terdiam sambil melirik kepadanya. Membuat *Aruna langsung dengan spontan meletakkan sendok dan garpunya dengan spontan hingga berbunyi nyaring dan membuat Bagas menatap tajam ke arahnya begitu pula Felia, Maxim dan juga Maria. *Aruna yang mendapat tatapan tajam tersebut hanya tersenyum dengan tipis kemudian beralih menatap ke arah Bagas hendak menjawab perkataannya tadi.
"Ayah tidak perlu khawatir, aku sudah lebih dari sehat untuk kembali menjalankan rutinitas ku." ucap Arthur tanpa sadar yang mendadak memanggil Bagas dengan sebutan Ayah.
Mendengar sebutan tersebut tentu saja membuat semua orang di area meja makan lantas menatap bingung ke arah Arthur, membuat Arthur yang baru sadar apa yang ia ucapkan adalah salah lantas langsung buru-buru meralat ucapannya.
"Maksud ku Papa, maaf kepala ku sedikit pusing jadi tidak terlalu sadar akan ucapan ku." ucap Arthur kemudian. "Semoga saja mereka semua percaya akan perkataan ku, jika tidak bisa mati di gantung aku oleh tuan." imbuhnya dalam hati sambil berusaha bersikap setenang mungkin.
Bagas yang mendapat penjelasan tersebut lantas hanya terdiam kemudian bangkit dari posisinya dan menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang menelisik, membuat jiwa *Aruna yang berada di dalam tubuh Arthur tentu saja langsung terlihat gugup ketika ditatap seperti itu oleh Bagas.
"Setelah makan pulang dan beristirahatlah, jika kau belum terlalu pulih tidak perlu dipaksakan untuk bekerja." ucap Bagas kemudian berlalu pergi dari area meja makan meninggalkan semua orang di sana.
Melihat kepergian Bagas dari area meja makan membuat Arthur lantas merasa lega karena satu orang telah pergi dari ruangan tersebut. Setidaknya suasana akan sedikit lebih mencair jika tidak ada tuan besar Gavanza berada di lingkup ini.
Arthur mengambil gelas yang berisi air putih di sebelah piringnya, berhadapan dengan keluarga kulkas ini benar-benar membuat Arthur menjadi gugup dan juga takut melakukan kesalahan fatal di sana. Hingga kemudian sebuah suara yang sedikit ekstrem terdengar menggema di ruangan tersebut dan mengejutkan Arthur hingga membuat ia tersedak ketika mendengarnya.
"Apa kau sebenarnya bukan lah Arthur? Katakan... Ketika kecelakaan terjadi kau pasti tertukar bukan?" ucap Felia dengan tiba-tiba sambil menatap tajam ke arah Arthur, membuat Maxim dan juga Maria lantas langsung mengernyit bingung sambil menatap ke arah Arthur.
"Uhuk-uhuk"
Bersambung