Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Kau benar-benar sudah gila



Satu persatu rintik hujan lantas mulai terasa jatuh dan menerpa ke kulit Aruna saat itu. Dengan langkah kaki yang terpincang-pincang Aruna terus membawa langkah kakinya menuju ke daerah teraman yang Aruna sendiri tidak tahu dimana itu.


Dengan gerakan yang Aruna usahakan untuk cepat, Aruna mencoba untuk menyusuri area perkebunan teh di sana. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal tak jauh dari tempatnya berada saat ini lantas mulai membuat Aruna langsung menelan salivanya dengan kasar.


"Aku tahu kamu berada di sekitar sini Run, jika kamu menjadi gadis yang manis aku akan bersikap lemah lembut kepadamu. Keluarlah Run... Ayo kita buat sore ini sangat indah hahaha." ucap Pandu dan nada yang melengking.


Aruna yang mendengar suara Pandu barusan tentu saja langsung mengedarkan pandangannya ke area sekitar mencoba mencari tempat bersembunyi. Hingga kemudian pandangannya terhenti pada beberapa deret tanaman teh yang mungkin bisa ia gunakan untuk bersembunyi. Melihat hal tersebut lantas membuat Aruna langsung melangkahkan kakinya ke arah sana dan mengambil posisi berjongkok agar Pandu tidak bisa melihatnya saat ini.


"Semoga saja Pandu tidak bisa menemukan ku..." ucap Aruna dalam hati sambil memegangi dengan erat area depan gaunnya yang terbuka karena ulah Pandu sebelumnya.


***


Sementara itu Pandu yang sedari tadi mengikuti jejak noda darah Aruna yang terdapat di batu, lantas langsung menghentikan langkah kakinya sambil berdecak dengan kesal ketika melihat dan merasakan satu persatu rintik hujan mulai turun dan membasahi bumi. Pandu benar-benar kesal akan situasi yang tidak tepat saat ini, di mana mendadak turun hujan padahal sebelumnya memang sudah mendung hanya saja Pandu tidak menyadarinya karena terlalu fokus akan Aruna.


"Aku harus segera mempercepat langkah kakiku sebelum jejak noda darah itu hilang dan terhapus oleh rintik air hujan, setidaknya hanya itu satu-satunya jalan yang bisa membawaku menuju ke arah tempat persembunyian Aruna saat ini." ucap Pandu pada diri sendiri sambil berkacak pinggang menatap ke arah sekitar.


Pandu yang melihat hujan belum turun dengan deras, lantas mulai mempercepat langkah kakinya mengikuti jejak noda darah yang ditinggalkan oleh Aruna di batu sekitar. Ia yakin jika Aruna pasti belum jauh dari lokasinya saat ini.


Pandu berjalan dan terus berjalan mengikuti jejak noda darah yang terdapat di beberapa batu. Sampai kemudian langkah kakinya lantas terhenti dengan seketika begitu Pandu tidak lagi mendapati noda darah yang terletak di batu. Jejak tersebut mendadak terputus begitu saja di area sana dan membuat Pandu kehilangan jejak Aruna di sana.


"Tidak mungkin dia pergi dengan cepat, aku yakin pasti ada sesuatu hal yang terjadi. Jika kakinya terluka saat ini, tentu saja kemungkinan terbesarnya adalah Aruna pasti bersembunyi di sekitar sini. Jejak itu bahkan berhenti di area sini, aku yakin jika Aruna pasti bersembunyi di salah satu tempat yang ada di daerah ini." ucap Pandu sambil berusaha untuk memutar otaknya saat ini.


Di saat Pandu tengah sibuk memutar otaknya sambil menatap keadaan sekitar mencoba mencari tahu di mana keberadaan Aruna saat ini, mendadak salah satu tanaman teh yang berada tak jauh dari posisinya berada sedikit bergoyang. Anehnya goyangan tersebut bukan karena angin atau tetesan air hujan, melainkan seperti ada sesuatu yang tengah bersembunyi dan tanpa sengaja menggerakkan tanaman tersebut.


Seulas senyum terlihat terbit dari wajah Pandu saat itu ketika melihat goyangan sepersekian detik dari tanaman teh tersebut. Seakan mendapat sebuah pencerahan, Pandu kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah tanaman tersebut.


"Kena kau Aruna! Sudah ku bilang kamu tidak akan bisa melarikan diri dan pergi jauh dari ku." ucap Pandu dalam hati sambil melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang perlahan mendekat ke arah dimana tanaman tersebut berada.


Pandu yang yakin jika di sana Aruna tengah bersembunyi kemudian mulai mengambil posisi berjongkok dan berhitung di dalam hati. Sampai kemudian ketika hitungannya sampai tepat di angka 3. Pandu langsung berusaha untuk mengejutkan Aruna yang bersembunyi di balik tanaman tersebut. Hanya saja bukannya Aruna yang ia dapati di sana, malah sebuah kekosongan belakang yang membuat Pandu langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung menatap ke area sana.


Di saat perasaan kesal menghinggapi hati Pandu saat itu, Pandu yang tadinya mengira jika Aruna tidak ada di sana kemudian lantas mulai mendengar sebuah suara dari arah belakangnya. Mendengar sebuah suara di area belakangnya, membuat Pandu langsung menoleh ke arah sumber suara. Seulas senyum kembali terlihat terbit dari wajah Pandu ketika ia malah mendapati Aruna berada di belakangnya saat ini hendak melarikan diri darinya.


"Kau di situ rupanya, mengapa kamu berlari Run? Bukankah aku sudah mengatakan jika kamu menjadi gadis yang baik maka aku akan bersikap lemah lembut." ucap Pandu sambil mempercepat langkah kakinya menyusul kepergian Aruna.


"Sial! Mengapa aku ceroboh sekali? Aku bahkan hampir saja berhasil kabur dari dirinya." ucap Aruna menggerutu sambil terus berlari menghindari kejaran Pandu.


Namun ketika langkah kaki Aruna yang berlarian dengan langkah kaki yang tertatih, sebuah tarikan tangan mendadak menggenggam lengannya dan langsung menariknya begitu saja. Membuat langkah kaki Aruna langsung terhenti seketika.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" pekik Aruna sambil berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Pandu saat itu.


"Tidak akan pernah ku lepaskan!" pekik Pandu dengan nada yang meninggi.


Pandu yang berhasil mendapatkan Aruna lantas langsung menggendongnya ala karung beras. Membuat Aruna yang mendapati hal tersebut lantas membuat Aruna berusaha untuk memberontak. Dengan sekuat tenaga Aruna menyikut kepala bagian belakang Pandu, membuat Pandu langsung terhuyung dan jatuh menimpa tubuh Aruna di antara bebatuan terjal yang lantas langsung menggores beberapa tubuh keduanya.


"Akh.. Sakit!" pekik Aruna yang merasakan beberapa tempat di area tubuhnya terasa begitu perih dan juga nyeri.


"Kau benar-benar tidak bisa diam rupanya?" ucap Pandu dengan nada yang kesal karena ia juga merasa kesakitan akibat jatuh barusan.


"Kau benar-benar sudah gila, pergi dari atas tubuh ku sekarang juga!" ucap Aruna sambil memukul area dada milik Pandu agar ia segera beranjak dari atas tubuhnya.


"Tidak akan kubiarkan, jika memang kau tidak ingin melakukannya di kamar maka mari kita lakukan di sini. Bukankah di sini sungguh menyenangkan? Di bawah rintikan hujan kita bisa menyatu dan saling menjadi dua insan yang paling bahagia di dunia ini." ucap Pandu dengan nada yang terdengar gila membuat Aruna semakin tidak mengerti akan arah pikiran Pandu saat ini.


Bugh


Bersambung