Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Mencari sebuah solusi



"Apa jangan-jangan ini semua terjadi karena anda menyukai saya kan tuan? Jawab saja tak perlu malu." ucap *Aruna kemudian dengan nada yang terdengar percaya diri.


Pletak


Sebuah suara nyaring yang berasal dari jitakan kepala Arthur terdengar keras, membuat *Aruna yang berada di dalam raga Arthur meringis kesakitan akan ulah si empunya raga. Arthur mengusap kepalanya beberapa kali karena terasa sedikit perih akibat jitakan dari *Arthur sendiri.


"Tuan aku peringatkan padamu, ini adalah tubuh mu jika memang kau mau melakukannya setidaknya pikirkan lah sekali lagi!" ucap *Aruna dengan nada yang berbisik.


Mendengar ocehan *Aruna yang ada benarnya juga membuat *Arthur hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang. Berbicara dengan sekertaris barunya itu benar-benar membutuhkan kesabaran yang ekstra, apalagi mengingat keduanya yang saat ini sedang bertukar jiwa, membuat permasalahan kian menjadi rumit saat ini. *Arthur terdiam sejenak tak mengindahkan perkataan *Aruna saat ini. Dalam diamnya *Arthur mencoba untuk mencari jalan keluar atas permasalahan yang terjadi secara tiba-tiba ini dan membuat keduanya sama sekali tidak bersiap akan kejadian yang menimpa mereka berdua.


Arthur melirik sekilas ke arah Aruna yang saat ini tengah terdiam sambil berpikir dengan serius, membuat jiwa *Aruna yang berada di dalam diri Arthur lantas tersenyum seketika, sehingga membuat *Arthur menatap aneh ke arahnya seakan bertanya akan maksud dari senyuman itu.


"Ternyata aku kalau sedang serius cantik juga ya?" ucap *Aruna dalam hati sambil sesekali melirik ke arah raganya.


"Berhentilah bertindak seperti orang gila, yang kau masuki itu tubuh seorang Arthur Alterio Gavanza jadi bersikaplah lebih berwibawa dan tegas!" sindir Aruna yang lantas membuat Arthur terdiam seketika.


"Baiklah tuan, lalu sekarang kita harus bagaimana?" tanya Arthur dengan raut wajah yang memelas.


"Sudah ku bilang bersikap lebih tegas jangan lembek seperti itu!" pekik Aruna dengan tiba-tiba yang lantas membuat Arthur memperbaiki posisinya dengan lebih tegap lagi.


*Arthur menghela nafasnya dengan panjang, ia sudah tidak bisa lagi memperbaiki kondisi *Aruna yang seperti itu. Dipijatnya pelipisnya dengan perlahan sambil mulai mengambil napasnya dan mencoba untuk setenang mungkin dalam menghadapi masalah seperti ini.


"Lebih baik sekarang kamu hubungi Faris dan suruh dia untuk secepatnya kembali ke Indonesia." ucap Aruna kemudian memberikan perintah.


"Saya tuan?" tanya Arthur dengan raut wajah yang polos membuat Aruna langsung menatap tajam ke arah Arthur.


"Aruna, kau saat ini memiliki wajah ku! Jika aku yang menelpon Faris ia tidak akan pulang dengan segera ke sini, apakah kau sudah mengerti sekarang?" ucap Aruna dengan nada penuh penekanan.


Melihat *Arthur sudah mulai marah membuat *Aruna lantas langsung bergegas ke arah nakas dan mengambil ponsel milik *Arthur untuk segera melaksanakan perintahnya sebelum *Arthur kembali mengamuk dan mengomelinya lagi. *Aruna yang tidak tahu-menahu tentang ponsel milik *Arthur lantas terdiam di tempatnya sambil menatap ke arah layar ponsel dengan tatapan yang mati kutu. *Aruna benar-benar bingung harus berbuat apa disaat-saat seperti ini, jika ia bertanya kepada*Arthur sudah pasti *Arthur akan marah, namun jika *Aruna tidak bertanya *Arthur tetap saja akan marah kepadanya. Bukankah jika sudah begini maju kena mundur juga kena?


"Mengapa lama sekali? Apa saja yang kau lakukan ha?" pekik Aruna dengan nada yang kesal.


Mendengar teriakan tersebut Arthur perlahan-lahan lantas berbalik badan sambil tersenyum dengan lebar, membuat jiwa *Arthur yang berada di dalam tubuh Aruna lantas menatap dengan bingung ke arah Arthur saat ini.


"Arunaaaaaaaaa" panggil Aruna dengan nada yang memanjang karena kesal akan sikap asistennya tersebut.


****


Di sebuah mansion kediaman keluarga Gavanza, di meja makan terlihat keluarga Gavanza tengah menikmati makan malam mereka dengan khidmat dan tanpa pembicaraan apapun. Suasana hening benar-benar tercipta di sana membuat siapa saja yang berada di ruangan tersebut pasti akan merasakan suasana yang mencekam walau hanya sekedar untuk makan malam saja.


Semua orang fokus dengan makanan mereka masing-masing hingga kemudian sebuah suara yang berasal dari Felia, lantas menghentikan aktifitas Bagas yang sedari tadi fokus dengan makanannya.


"Apa Feli sudah boleh mengunjungi Arthur Pa?" tanya Felia yang lantas memecahkan keheningan di meja makan saat itu.


"Felia apa kau lupa jika tidak ada pembicaraan apapun ketika makan malam berlangsung?" ucap Maria dengan nada yang memperingati namun langsung terhenti ketika tangan Bagas mengangkat ke atas yang menandakan agar Maria membiarkan Felia untuk berbicara.


"Jika kau ingin menjenguknya datanglah besok atau tunggu di rumah saja. Aku yakin esok ia sudah datang untuk makan malam bersama dengan kita." ucap Bagas dengan nada yang datar, membuat semua orang langsung terdiam seketika.


Setelah mengatakan hal tersebut Bagas lantas mengelap mulutnya perlahan mengenakan tisu, kemudian bangkit dari tempatnya dan berlalu pergi meninggalkan area meja makan tanpa mengatakan sepatah kata apapun lagi. Melihat kepergian Bagas dari sana, Maria lantas menatap tajam ke arah Felia yang terlihat asyik menyelesaikan makannya kemudian mengelap mulutnya tanpa canggung sama sekali walaupun Maria sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang tajam.


"Apa kau melupakan adab di rumah ini tentang tata cara makan yang baik dan benar?" ucap Maria dengan nada yang meninggi.


Mendengar suara Maria yang menukik tajam sama sekali tak membuat Felia bergeming, ia malah dengan santainya bangkit dari posisinya dan menatap Maria dengan tersenyum tanpa takut sedikitpun.


"Ini hanyalah soal makan Mi, aku rasa tidak perlu terlalu diributkan seperti ini. Ah aku lupa jika Mami bukanlah nyonya sesungguhnya di Rumah ini sehingga membuat Mami begitu terobsesi akan aturan Rumah ini. Jika Mami masih ingin berada disini, sebaiknya Mami bersikap lebih baik lagi, semangat ya Mi..." ucap Felia dengan nada yang penuh sindiran kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan area meja makan.


Mendengar ucapan dari Felia barusan tentu saja membuat tangan Maria mengepal dengan erat. Meski sudah tinggal bertahun-tahun lamanya baik Maria, Arthur maupun Felia sama sekali tidak ada yang akur antara satu sama lainnya. Meski tidak tinggal dalam satu atap namun tradisi mansion yang mengharuskan setiap anggota keluarga harus datang pada saat makan malam, membuat mereka selalu saja bertengkar ketika makan malam berlangsung seperti yang terjadi malam ini.


"Sudah lah Ma, lagi pula Mama sudah tahu sifat Felia seperti apa tapi Mama masih saja mencari gara-gara." ucap Maxim dengan nada yang datar sambil masih fokus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Diam kau! Dari dulu sampai sekarang kau selalu saja seperti ini dan tidak pernah berubah sama sekali!" ucap Maria dengan nada yang kesal menatap tajam ke arah Maxim.


Bersambung