
Area parkiran Apartment
Dari arah lobi terlihat Aruna, Arthur dan juga Faris tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah mobilnya yang diparkir di area depan lobi. Ketika Arthur hendak membuka pintu bagian pengemudi, suara Aruna yang mendadak terdengar lantas langsung menghentikan gerakan tangannya.
"Untuk hari ini duduklah di belakang bersama dengan ku, biarkan Faris yang mengemudi." ucap Aruna kemudian sambil tetap fokus menatap ke arah layar iPadnya.
Mendengar perkataan dari Aruna barusan tentu saja membuat Arthur dan juga Faris langsung terdiam seketika. Arthur yang tahu Aruna kali ini agak berlebihan lantas mulai mendekat ke arah Aruna untuk membisikkannya sesuatu.
"Tuan ini terlalu berlebihan, apa yang akan dipikirkan oleh Faris jika anda terlalu terbuka seperti ini?" ucap Arthur dengan nada yang berbisik.
"Tidak ada yang perlu dia pikirkan, yang terpenting sekarang masuklah ke dalam!" ucap Aruna kemudian sambil membukakan pintu untuk Arthur dan menyuruhnya segera masuk ke dalam mobil.
"Tapi Tuan..." ucap Arthur namun terpotong dengan Aruna yang lebih dulu menariknya untuk masuk ke dalam kemudian menutup pintu mobil dengan cepat.
Faris yang melihat segala gerak gerik keduanya tentu saja semakin bingung namun tidak berani menanyakannya lebih lanjut. Faris yang melihat Aruna mulai berjalan memutari mobil lantas ikut bergerak dan membukakan pintu untuk Aruna.
"Apakah anda baik-baik saja Tuan?" tanya Faris kemudian yang lantas membuat Aruna langsung menatap ke arah Faris dengan tatapan yang aneh ketika mendengar pertanyaan tersebut.
"Tentu saja!" jawabnya dengan datar kemudian masuk ke dalam mobil.
Mendapat jawaban tersebut membuat Faris lantas tersenyum sambil menutup pintu mobilnya dengan cepat.
"Sepertinya aku yang tidak waras di sini, mana mungkin Tuan dan Aruna memiliki hubungan? Jawabannya tentu saja tidak!" ucap Faris pada diri sendiri sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana dan mulai masuk ke kursi pengemudi.
***
Sementara itu di kediaman Gavanza, dari arah dalam terlihat Maria saat ini tengah melangkahkan kakinya keluar menuju ke arah mobilnya yang terparkir di halaman. Sedangkan tepat di sebelah mobilnya nampak Indra sudah membukakan pintu untuknya.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Maria sebelum masuk ke dalam mobil.
"Tentu Nyonya, apakah anda akan langsung menuju ke sana?" ucap Indra kemudian.
Maria yang mendengar pertanyaan dari Indra barusan lantas terdiam sejenak di tempatnya, Maria memainkan jari tangannya sejenak seakan mulai berpikir, apakah ia akan benar-benar menemuinya atau tidak?
"Atur saja semuanya, tapi sebelum itu antar aku ke Hotel Tamara!" ucap Maria kemudian mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.
"Baik Nyonya..." jawab Indra yang mengerti akan perintah dari Maria barusan.
***
Sementara itu tanpa Maria sadari ketika langkah kaki Maria hendak masuk ke dalam mobil, Bagas yang hendak berangkat bekerja lantas memperhatikan segala hal yang dilakukan oleh Maria dengan asistennya itu. Bagas menghentikan langkah kakinya di ambang pintu dan menatap ke arah mobil milik Maria yang terlihat mulai melaju meninggalkan kediamannya.
"Mau kemana mereka pagi-pagi begini? Apa ada sesuatu yang direncanakan olehnya tanpa sepengetahuan ku?" tanya Bagas kemudian namun masih dengan tatapan yang lurus ke arah depan meski mobil milik Maria tidak lagi terlihat pada pandangannya.
"Saya tidak tahu mengenai hal itu, hanya saja terakhir kali saya mendapatkan informasi jika Nyonya Maria bertemu dengan Aruna beberapa waktu yang lalu." ucap Arka kemudian sambil mengingat-ingat detailnya.
"Untuk apa ia bertemu dengan Aruna?" tanya Bagas kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Saya rasa ini ada kaitannya dengan Tuan muda Arthur, bukankah keduanya saling berhubungan saat ini?" ucap Arka lagi.
Mendengar jawaban dari Arka barusan lantas membuat Bagas menghela napasnya dengan panjang. Bagas bahkan sudah menduga hal ini namun ia benar-benar tidak menyangka jika Maria akan bertindak secepat ini. Lagi pula perkataannya tentang mencoret nama Arthur dari hak ahli waris hanyalah sebuah gertakan, mungkin hal itulah yang mendasari Maria mulai bertindak sebelum nantinya Arthur kembali ke Mansion ini.
"Awasi segala gerak-geriknya dan laporkan kepada ku!" ucap Bagas kemudian memberikan perintah kepada Arka.
"Tentu Tuan..." ucapnya dengan singkat.
Setelah mengatakan hal tersebut Bagas kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana mobilnya terparkir saat ini. Hanya saja ketika jarak mobilnya hanya tinggal beberapa langkah lagi, Bagas terlihat menghentikan langkah kakinya yang lantas membuat Arka mengernyit dengan tatapan yang bingung.
"Sebelum itu kosongkan jadwal ku sore ini karena aku akan mengunjungi Arthur, sudah terlalu lama aku membiarkan anak itu. Aku hanya takut jika terus dibiarkan dia akan terlena dan asyik dalam dunianya sendiri." ucap Bagas kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Arka, kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah mobilnya dengan diikuti oleh Arka.
***
Hotel Tamara
Seperti perintah dari Maria sebelum berangkat tadi, saat ini mobil yang dilajukan oleh Indra nampak berhenti tepat di dekat area pintu masuk Hotel Tamara. Maria nampak membuka sedikit kaca mobilnya ketika kebetulan melihat Arthur, Aruna dan juga Faris baru saja turun dari mobil mereka.
Interaksi keduanya benar-benar terlihat intens membuat Maria yang melihat hal tersebut lantas tersenyum dengan tipis sambil terus menatap ke arah ketiganya.
"Benar-benar sebuah hubungan percintaan anak muda yang begitu klise, tapi tak apa... Aku malah menyukainya karena dengan begitu Arthur tidak akan mengganggu Maxim ku..." ucap Maria dengan raut wajah yang sinis.
Setelah puas memperhatikan Arthur, Maria terlihat menutup kaca jendelanya kemudian menyuruh Indra untuk kembali melajukan mobilnya ke sebuah tempat yang telah Indra atur sebelumnya.
***
Resto
Maria yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam Resto, lantas terlihat tersenyum dengan tipis begitu melihat sosok yang dibicarakan oleh Indra tadi tengah terduduk di sudut Resto sambil sibuk memainkan laptopnya. Melihat hal tersebut membuat Maria mempercepat langkah kakinya menuju ke arah sana.
"Apa aku boleh duduk di sini dan bergabung dengan mu?" ucap Maria kemudian sambil mendudukkan pantatnya begitu saja di sana, membuat seseorang yang sedari tadi tengah sibuk dengan laptopnya langsung mendongak dengan seketika begitu mendengar sebuah suara asing yang menyapa telinganya saat ini.
"Sepertinya aku tidak mengenal mu, jadi aku harap sebaiknya kamu pergi dari sini atau aku yang akan memanggil satpam untuk mengusir mu!" ucap Pria itu dengan raut wajah yang kesal.
Maria yang mendengar ancaman dari Pria itu tentu saja langsung tersenyum dengan tipis kemudian menatap intens ke arah Pria itu.
"Kamu memang tidak mengenalku, tapi aku yakin kamu pasti mengenal Aruna, bukankah begitu Pandu Atmaja?"
Bersambung