Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Apa yang sebenarnya terjadi di sini?



Kediaman Gavanza tepatnya di kamar Felia


Terlihat Felia tengah merebahkan tubuhnya pada kasur empuk miliknya sambil menatap ke arah langit-langit kamarnya. Pikirannya saat ini benar-benar penuh dengan ucapan Bagas yang terdengar menggema di telinganya hingga kini. Felia benar-benar kesal akan sikap Bagas yang tiba-tiba saja menyuruhnya putus dengan Fadli tanpa alasan yang jelas dan hanya bermodal satu kata saja yaitu "Casanova". Bukankah itu terdengar begitu menyebalkan?


"Bukankah Papa keterlaluan kepadaku? Aku bahkan belum sempat mengenalkannya tapi Papa sudah memotong pembicaraan ku." ucap Felia dengan raut wajah yang kesal.


**


Yang terjadi sebelumnya...


"Putuskan dia karena Papa tidak menyukainya!" ucap Bagas kemudian yang langsung membuat manik mata Felia membulat seketika.


"Apa yang Papa katakan barusan?" ucap Felia dengan raut wajah yang terkejut setelah mendengar perkataan dari Bagas bahkan sebelum Felia mengatakannya sekalipun.


Mendengar rengekan putrinya tersebut membuat Bagas lantas menatap ke arah Felia dengan tatapan yang menelisik, membuat Felia menjadi bertanya-tanya akan maksud dari tatapan Bagas kepadanya.


"Dia adalah seorang Casanova, cukup adik mu saja Arthur yang berantakan. Papa tidak mau kamu juga ikut berantakan dengan hidup bersama dirinya." ucap Bagas memberi peringatan kepada Felia.


"Tapi dia baik Pa, berikan Fadli satu kesempatan yang adil agar dia bisa berjuang. Jangan langsung memberi keputusan seperti ini Pa..." ucap Felia lagi sambil berusaha untuk membujuk Bagas agar mengerti akan dirinya.


Bagas yang kembali mendengar perkataan Felia untuk menyetujui dirinya, lantas membuat Bagas bangkit dari tempat duduknya dan kembali menatap ke arah Felia sebelum pada akhirnya beranjak pergi dari sana sambil kembali mengingatkan Felia untuk segera memutuskan Fadli.


"Papa tidak mau tahu, pokoknya kamu harus putus dengannya!" ucap Bagas sambil terus melangkahkan kakinya meninggalkan Felia di sana.


**


Helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Felia, perkataan Bagas selalu bersikap mutlak apapun yang terjadi. Felia tidak pernah mendengar Bagas memperingatinya hingga sampai seperti itu, membuat pikiran Felia merasa semakin gusar ketika ia bingung harus membuat keputusan tentang hal ini.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Felia pada diri sendiri sambil mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


Ketika Felia tengah dilanda kebingungan akan pikirannya yang saat ini sedang bercabang, sebuah deringan ponsel miliknya lantas terdengar menggema dan membuyarkan segala pemikirannya sedari tadi.


Felisa yang mendengar deringan ponsel miliknya lantas langsung mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelpon. Ada sedikit perasaan terkejut sekaligus bingung ketika Felia melihat nama Fadli tertulis dengan jelas pada layar ponsel miliknya.


"Astaga Fadli! Apa yang harus ku katakan kepadanya?" ucap Felia dengan raut wajah yang bingung sambil terus menatap ke arah layar ponsel miliknya.


****


Apartment *Arthur


Setelah kejadian yang terjadi diantara Arthur dan juga Aruna, saat ini keduanya tengah termenung sambil mulai memikirkan segalanya yang baru saja terjadi kepada keduanya. Tepat setelah ciuman itu terjadi jiwa mereka berdua mendadak kembali ke tubuh mereka masing-masing namun dengan kurun waktu hanya satu menit saja. Sebuah kejadian yang tentu saja membuat keduanya langsung terdiam seketika dengan pemikiran mereka masing-masing.


Jika memang mereka benar-benar bisa kembali ke tubuh mereka dengan cara berciuman, maka tidak ada salahnya bagi keduanya untuk mulai membuka hati mereka masing-masing agar bisa segera kembali ke tubuh mereka.


Aruna yang sedari terdiam kemudian lantas bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang intens.


Arthur yang mendapat pertanyaan tersebut nampak terdiam sejenak. Awalnya ia benar-benar tidak percaya jika keduanya bisa menciptakan sebuah perasaan selain rasa benci yang terjadi diantara keduanya. Namun setelah melihat apa yang terjadi tadi, membuat Arthur tidak lagi ragu akan perkataan Aruna dan memutuskan untuk bangkit sambil meyakini bahwa ia juga bisa kembali ke tubuhnya sebagai *Aruna yang seutuhnya.


"Baiklah, mari kita lakukan secara bersama-sama..." ucap Arthur kemudian sambil menerima jabatan tangan dari Aruna barusan.


***


Keesokan harinya


Seperti biasa Faris yang selalu datang dengan membawa sarapan untuk mereka bertiga, lantas membuat Faris terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur untuk menyiapkan segalanya sebelum pada akhirnya sarapan bersama. Faris nampak menyusun satu persatu menu makanan yang ia beli di salah satu Resto favorit *Arthur.


Tak lama setelah Faris menata setiap makanan di meja makan, Aruna dan juga Arthur nampak terlihat keluar dari arah kamar dengan raut wajah yang sumringah. Sebuah hal yang baru saja Faris lihat di pagi hari ini. Biasanya kedua orang itu pasti akan ribut dan tak pernah mengenal waktu, membuat Faris sedikit mengernyit ketika mendapati sikap keduanya yang terasa begitu aneh baginya.


"Selamat pagi..." Sapa Arthur dengan senyum yang mengembang.


"Pagi" jawab Faris dengan raut wajah yang bingung.


Setelah mengatakan sapaan tersebut Arthur lantas melangkahkan kakinya mendekat dan mengambil posisi duduk di meja makan. Semua makanan yang di beli Faris selalu tampak begitu menggoda dan enak, membuat seulas senyum tak henti-hentinya terlihat terbit dari wajah Arthur saat itu juga. Arthur yang melihat Aruna baru saja duduk di kursinya kemudian mulai mengambil piring Aruna dan menyentongkan nasi untuknya.


"Lauk apa yang anda inginkan Tuan?" ucap Arthur kemudian yang lantas membuat Faris semakin menatap bingung ke arah keduanya.


"Apapun yang kamu berikan aku akan memakannya." ucap Aruna dengan nada yang datar namun berhasil membuat Faris tersedak ketika mendnegarnya.


Uhuk uhuk...


Faris mengambil gelas miliknya dengan kasar kemudian meminumnya dengan cepat untuk mengurangi batuknya.


"Makanlah dengan pelan-pelan Ris tak perlu terburu-buru." ucap Arthur ketika mendengar Faris yang tersedak barusan.


"Tentu, maafkan aku..." ucap Faris sambil meletakkan gelas di atas meja.


Aruna yang mendengar percakapan keduanya lantas hanya menggelengkan kepalanya secara perlahan kemudian tersenyum dengan tipis. Aruna kemudian terlihat mengambil satu buah udang tempura dengan ukuran yang cukup besar kemudian memberikannya kepada Arthur, membuat Arthur langsung mendongak seketika begitu mengetahui Aruna memberinya udang tempura.


"Makanlah yang banyak..." ucap Aruna dengan lembut, membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari raut wajah Arthur saat itu.


"Terima kasih banyak..." jawab Arthur kemudian.


Melihat interaksi keduanya yang seperti itu membuat Faris sama sekali tidak bisa berkata-kata lagi. Faris bahkan sampai melongo ketika melihat aksi keduanya yang terkesan saling membalas itu.


"Apa yang sedang terjadi di sini sebenarnya?" ucap Faris dalam hati bertanya-tanya.


Bersambung