Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Sebuah rasa terdalam



Ruangan kerja Bagas


Keheningan nampak terjadi di ruangan tersebut, dimana Arthur yang tak menginginkan kedudukan sebagai penerus harus tetap mau melanjutkan tongkat kepemimpinan keluarga besar Gavanza.


Meski Arthur terus menolak keputusannya, namun Bagas tetap bersikukuh dan menginginkan jika Arthur harus melanjutkan dan bersedia menjadi penerus dirinya.


"Aku sudah sangat tenang hidup dengan cara ku Pa, lagi pula Papa masih punya kak Felia dan juga Max bukan? Jadi mengapa Papa tetap saja kekeh dan menginginkan aku untuk meneruskannya? Ayolah Pa.. Jangan ganggu hari tenang ku!" ucap Arthur dengan nada yang mulai kesal ketika Bagas terus saja kekeh tanpa mau di runding sama sekali.


"Justru itu adalah alasan mengapa Papa memilih mu karena Papa percaya kepadamu, Felia itu putri Papa dan sebentar lagi ia akan menikah dan memiliki keluarga tentu tidak akan sempat mengurusi perusahaan. Sedangkan Maxim bukannya Papa tidak mau memberikan kepadanya, hanya saja Maxim tidak terlalu bisa dipercaya untuk memimpin perusahaan sebesar itu." ucap Bagas mencoba untuk berunding dengan Arthur siapa tahu Arthur akan luluh dan mengiyakan keputusannya.


Arthur yang mendengar perkataan Bagas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang, berbicara dengan Bagas benar-benar membuatnya sangat kesal. Arthur terdiam sejenak mencoba mencari solusi terbaik dalam masalah ini, sampai kemudian sebuah ide mendadak muncul di benaknya ketika Arthur mencoba untuk mencari jalan keluar atas masalahnya.


"Baik aku akan menuruti perkataan Papa asalkan dengan satu syarat dan harus Papa penuhi secepatnya." ucap Arthur kemudian dengan tersenyum simpul menatap ke arah Bagas.


"Apa syaratnya?" tanya Bagas dengan raut wajah yang penasaran.


"Restui aku dengan Aruna, hanya itu syarat yang aku minta dari Papa." ucap Arthur kemudian.


Arthur yakin Bagas pasti akan kembali memikirkan ulang tentang hal ini. Apa yang menjadi keputusan Bagas di awal sampai kapan pun Bagas tidak akan pernah mengubahnya. Membuat Arthur lantas memberikan syarat tersebut karena Arthur yakin jika Bagas tidak akan mau merubah keputusan sebelumnya yang begitu menentang hubungannya dengan Aruna.


Hingga kemudian helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulut Bagas, membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah Arthur ketika mendengar helaan napas Bagas barusan.


"Setidaknya meski aku tidak menjadi penerus keluarga ini aku bahkan masih bisa menikahi Aruna. Masalah restu hanyalah sebuah permainan belakangan agar Papa tidak terus memaksa ku untuk menjadi pemimpin." ucap Arthur dalam hati dengan yakin jika Bagas akan menyerah ketika mendapat syarat tersebut.


"Baik, karena kamu sudah memberi Papa syarat jadi tidak ada salahnya bagi Papa untuk mengabulkan syarat itu agar kamu juga mengikuti keinginan Papa. Menikahlah dengan Aruna bulan ini, Papa merestui kalian berdua." ucap Bagas dengan nada yang santai namun berhasil membuat bola mata Arthur membulat dengan seketika.


"Apa..."


**


Area Ruang tamu


Disaat langkah kaki Arthur terus membawanya melewati ruang tamu, sebuah suara yang berasal dari Felia lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Bagaimana rasanya menjadi seorang penerus kerajaan bisnis terbesar di negara ini, walau kau sudah hampir di coret dari kartu keluarga?" ucap sebuah suara yang berasal dari Felia.


Arthur yang seakan hapal akan nada suara tersebut kemudian mulai berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara dengan tatapan yang datar.


"Kak aku mohon jangan sekarang.. Aku bahkan baru tahu jika Papa menyuruh ku kemari untuk mengatakan hal ini. Jadi aku minta kepadamu jangan mengajak ku berdebat saat ini." ucap Arthur dengan nada yang memohon.


Sejak kecil Arthur dan juga Felia tidak pernah akur antara satu sama lain, terlebih lagi setelah kepergian Ibu mereka berdua membuat jarak diantara mereka semakin merenggang dan menjauh. Felia yang merasa segala kemalangan dalam hidupnya terjadi sejak adanya Arthur, membuatnya sama sekali tak menyukai sosok Arthur di hidupnya. Apalagi ketika Bagas lebih memilih menyerahkan kepemimpinan keluarga besar ini kepada Arthur ketimbang dirinya yang notabennya adalah anak tertua di keluarga ini, membuat rasa benci dalam diri Felia semakin bertambah.


"Apa kau puas sekarang telah mendapatkan segalanya dan menghancurkan ku? Rupanya spesialis mu adalah menghancurkan sebuah hubungan, wah wah wah Arthur kau sesuatu sekali ya?" ucap Felia dengan nada yang ketus membuat helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulut Arthur.


"Asal kakak tahu, aku sama sekali tidak ingin menghancurkan siapapun. Kita berdua adalah keluarga, jika pertengkaran diantara kita hanya karena masalah tongkat kepemimpinan ini maka aku akan siap menyerahkannya kepada kakak. Bukankah dengan begitu masalah kita akan selesai?" ucap Arthur kemudian namun kali ini dengan nada yang lebih rendah.


"Kau jangan sok merasa jadi korban di sini, kepergian Mama juga karena kehadiran mu. Sebelum kau hadir, kehidupan kami bertiga bahkan sangat membahagiakan, namun setelah kau hadir semuanya berubah menjadi gelap. Apa kau sama sekali tidak menyadari akan hal itu?" pekik Felia dengan nada yang kesal pada akhirnya, perasaan ini bahkan sudah ia pendam sejak lama dan pada akhirnya tumpah juga hari ini.


"Apa yang kakak katakan? Bagaimana mungkin kakak menyangkut pautkan takdir dengan sebuah kedudukan. Jika kakak menginginkannya aku akan memberikannya secara sukarela. Namun untuk masalah perpisahan Papa dan Mama aku juga tak berdaya kak. Kakak kira hanya kakak yang hancur? Aku juga ikut hancur karena itu!" ucap Arthur dengan nada setengah berteriak membuat Felia yang mendengar hal tersebut lantas terdiam seketika.


Bibir Felia bahkan bergetar tak kuasa menahan perasaan yang bergejolak di hatinya. Perpisahan kedua orang tuanya begitu menyisakan luka tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi Arthur. Tak ada yang menginginkan hal tersebut namun kenyataan lah yang menuntut mereka agar sanggup memikul beban berat kedua orang tuanya. Nyatanya anak dari hubungan keluarga yang broken home hanya nampak baik di bagian luarnya saja, sedangkan jauh di lubuh hati mereka tak ada yang bisa mengetahuinya termasuk dengan Felia dan juga Arthur.


Arthur yang melihat Felia terdiam, lantas mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Felia berada dan menatapnya dengan tatapan yang menelisik.


"Apapun yang kakak pikirkan tentang aku itu semuanya salah. Jika sedari awal pertengkaran kita hanya karena masalah ini aku pasti akan dengan suka rela memberikannya kepada Kakak." ucap Arthur kemudian dengan nada yang lebih rendah sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.


"Pertengkaran antar saudara ini benar-benar sangatlah menarik, terus saja lakukan hal itu agar aku bisa membuat Maxim ku maju dan menggapai segalanya." ucap Maria dalam hati yang ternyata sedari tadi menyaksikan pertengkaran keduanya.


Bersambung