
Apartment Pandu
Di area mini bar Apartemennya, terlihat Pandu tengah menatap kosong ke arah dinding bercat warna putih di ruangan tersebut dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Entah apa yang tengah memenuhi pikirannya saat ini, tapi yang jelas Pandu yakin jika ada yang tidak beres dengan Aruna dan juga Arthur. Pandu merasa tingkah keduanya benar-benar terasa begitu aneh untuknya, beberapa hal yang melekat dalam diri Aruna dan sangat Pandu kenali mendadak berubah seakan seperti orang asing bagi Pandu.
"Pasti ada sesuatu... Tapi apa itu? Mengapa aku merasa ada yang tidak beres?" ucap Pandu sambil memutar gelas yang berisi minuman beralkohol di tangannya.
Pikiran Pandu kemudian melayang membayangkan setiap kejadian yang menurutnya begitu aneh. Dimana ketika pertama kali ia bertemu dengan Aruna di basement namun Aruna malah bersikap seolah olah tidak mengenalnya, tidak hanya sampai di situ kelakuan aneh Aruna ketika berada di kontrakannya juga tak luput dari pemikiran gila Pandu saat ini. Pandu benar-benar merasa seperti asing kepada sosok Aruna saat ini.
"Bukankah Aruna tidak pernah belajar ilmu bela diri? Bagaimana mungkin Aruna tiba-tiba bisa melawan ku seperti itu?" ucap Pandu dengan raut wajah yang bingung.
Pandu yang masih tidak percaya dengan pemikirannya sendiri, lantas mulai mengambil ponsel dan berselancar pada layar ponsel miliknya mencari tahu informasi tentang pertukaran jiwa. Ada beberapa artikel yang di temukan oleh Pandu dan salah satunya mengatakan tentang pertukaran jiwa yang pernah terjadi di berbagai negara, dalam artikel tersebut mengatakan jika pertukaran jiwa tersebut terjadi karena beberapa hal yang salah satunya akibat dari tabrakan yang terjadi ketika kedua raga berada dalam jarak yang berdekatan. Atau mungkin juga hal tersebut bisa terjadi disaat kita melakukan sebuah perjalanan spiritual, dan tentu saja opsi tersebut tidaklah mungkin mengingat Aruna sama sekali tidak mempunyai kemampuan tersebut.
Melihat informasi tersebut tentu saja langsung membuat Pandu mengernyit. Jika memang dalam artikel tersebut mengatakan demikian itu artinya yang terjadi kepada Arthur dan juga Aruna bukanlah hanya perasaannya saja atau bahkan imajinasinya yang berlebihan.
"Jika memang jiwa mereka sedang bertukar itu artinya yang saat ini berada dalam tubuh Aruna adalah Arthur sedangkan yang berada di dalam tubuh Arthur adalah Aruna. Wah, bagaimana bisa mereka melakukannya selama ini? Bukankah ini sebuah penemuan yang sangat mencengangkan? Jika sampai media tahu tentu ini akan membuat gempar seluruh negeri!" ucap Pandu dengan senyum yang mengembang.
Sebuah penemuan yang besar tentunya bagi seorang Pandu, jika memang pemikirannya benar-benar terjadi tentu itu akan membuat Pandu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Pandu jelas tahu bagaimana karakter Aruna sehingga ia pasti akan memanfaatkannya sebaik mungkin tanpa memberikan ampun kepada Aruna.
***
Apartment *Arthur
Dari arah dapur terlihat Aruna tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Arthur berada sambil membawa segelas air putih untuknya. Diletakkannya gelas berisi air putih di hadapan Arthur dan menggesernya lebih dekat agar bisa langsung diminum oleh Arthur.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Aruna dengan raut wajah yang khawatir.
Mendengar pertanyaan tersebut hanya membuat Arthur mendongak sekilas ke arah Aruna kemudian meminum air di gelasnya dengan tangan yang gemetar, membuat Aruna yang melihat hal tersebut lantas menghela napasnya dengan panjang kemudian membantu Arthur dengan memegang gelasnya agar tidak jatuh.
"Apakah aku perlu mengusirnya dari Apartment ini untuk mu? Aku tahu kamu sangat terkejut akan kepindahannya yang tiba-tiba dan sialnya letak unit Apartemennya tepat dihadapan kita." ucap Aruna sambil berdecak dengan kesal karena tak menyangka jika Pandu se-toxic itu.
"Jangan ku mohon aku... Aku hanya ingin hidup dengan tenang..." ucap Arthur dengan raut wajah yang menunduk dan mata terpejam.
Mendengar hal tersebut lantas membuat Aruna mengambil posisi berjongkok untuk menyamai posisi Arthur yang saat ini tengah menundukkan kepalanya karena takut.
"Jangan takut Run karena ada aku di sini, selama kamu masih mempunyai aku di sisi mu aku akan berdiri tegak dan membantu mu." ucap Aruna dengan nada yang lembut.
Membuat secercah harapan lantas langsung timbul di benak Arthur saat itu, namun detik berikutnya Arthur langsung menggeleng dengan keras sambil melepas genggamannya, membuat Aruna yang mengetahui hal tersebut tentu saja dibuat semakin bingung akan tingkah Arthur saat ini.
"Jangan memberi ku sebuah harapan karena aku tidak pantas untuk mendapatkannya, aku...aku benar-benar tidak pantas, jadi aku harap kamu tak perlu ikut campur tentang hal ini." ucap Arthur sambil bangkit dari posisinya dengan terburu-buru.
Saking buru-burunya Arthur bahkan sampai menabrak kursi di area meja makan, beruntung Aruna yang sigap lantas langsung memegangi lengannya jika tidak mungkin Arthur akan berakhir dengan jatuh ke lantai.
"Ada apa sebenarnya ini Run? Jangan membuat ku bingung seperti ini, bisakah kamu untuk tidak lari dan menjelaskan detailnya kepada ku?" ucap Aruna yang mulai kesal karena yang di lakukan oleh Arthur hanyalah berputar-putar saja tanpa mengatakan lebih jelas lagi kepadanya.
Arthur yang mendengar segala perkataan Aruna barusan, lantas mendongak menatap ke arah manik mata Aruna lebih dalam lagi. Entah mengapa saat ini Arthur benar-benar merasa takut jika sampai Aruna tidak mau dekat lagi dengannya atau bahkan merasa jijik kepadanya. Arthur bahkan benar-benar tidak tahu bagaimana cara untuk memberitahu Aruna saat ini tentang masalahnya.
Aruna yang hanya melihat Arthur terdiam sedari tadi lantas menghela napasnya dengan panjang, kemudian melepas genggaman tangannya yang saat itu melingkar di lengan Arthur ketika ia tadi hendak membantunya.
"Aku benar-benar minta maaf karena telah memaksamu, jika memang kamu tidak mau mengatakannya kepada ku tak apa. Pergilah dan tenangkan pikiran mu, aku tahu kamu sedang butuh waktu sendiri saat ini." ucap Aruna pada akhirnya memilih untuk membiarkan Arthur pergi saat ini.
Hanya saja, nyatanya semua kata-kata Arthur dan juga tingkah lakunya yang menghindar sama sekali tidak bisa membuat masalahnya selesai malah semakin bertambah berat. Membuat Arthur yang melihat Aruna saat ini tengah dalam posisi memunggunginya sambil berkacak pinggang.
Arthur nampak tertegun melihat sosok Aruna dari belakang yang nampak kecewa kepadanya, membuat Arthur lantas berpikir dua kali dan bersiap mengatakan rahasia terbesarnya selama ini kepada Aruna. Mengingat jika hanya Aruna lah orang yang paling ia percayai saat ini.
"Aku... Aku sudah kotor Tuan!" ucap Arthur kemudian yang lantas membuat Aruna langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika begitu mendengar suara serak milik Arthur saat itu.
Bersambung