Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Bukan aku



Di sebuah ruangan kamar


Terlihat Felia tengah menatap kosong ke arah dinding bercat putih di ruangan kamarnya. Pikirannya melayang memikirkan segala hal yang mungkin saja akan terjadi tepat setelah Arthur menemukan keberadaan Fadli.


Felia menghela napasnya dengan panjang, bayangan bagaimana kebersamaan yang telah ia lalui bersama dengan Fadli benar-benar berputar di kepalanya saat itu. Sebuah perasaan kasihan dan juga tak rela mendadak terlintas di pikirannya saat itu, membuatnya segala lamunannya langsung buyar dengan seketika.


"Tidak-tidak apa yang telah di lakukan Fadli adalah sebuah kejahatan. Aku tidak mau berurusan dengan Arthur lagi ketika aku bahkan sudah mendapat semua yang aku inginkan, bukankah aku terkesan begitu serakah? Lagi pula Pria biadab seperti dia pantas untuk di beri hukuman yang setimpal!" ucap Felia seakan berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri dan membuang jauh-jauh pikiran tersebut.


Felisa menghentikan langkah kakinya yang saat ini sudah hampir mirip setrikaan itu, kemudian mengusap perutnya yang masih rata saat ini.


"Ada apa? Apa kau juga kasihan dengan dia? Aku rasa sebaiknya tidak perlu karena dia bukan pria baik-baik." ucap Felia dengan raut wajah yang di buat-buat saat itu.


.


.


.


Beberapa menit kemudian


Dari arah tangga terlihat Felia tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang terburu-buru menuruni satu persatu anak tangga Rumahnya. Bagas yang baru saja sampai setelah menyelesaikan urusan di Rumah sakit, lantas terlihat sedikit mengernyit begitu mendapati Felia tengah melangkahkan kakinya dengan terburu-buru saat itu.


"Mau kemana kamu?" ucap Bagas yang menatap dengan raut wajah penasaran ke arah Felia saat itu.


"Melakukan sesuatu yang seharusnya aku lakukan sejak dulu!" ucap Felia dengan raut wajah yang datar sambil berlalu pergi begitu saja meninggalkan Bagas dengan berjuta tanda tanya di kepalanya.


Bagas yang tidak tahu akan maksud dari perkataan Felia, lantas hanya bisa menatap punggung putrinya yang kini tidak lagi terlihat di pandangannya.


"Tuan apakah pemakamannya akan di adakan sekarang?" ucap Arka yang terlihat baru saja memasuki area pintu utama.


"Kita tunggu sebentar lagi sampai Arthur pulang, lagi pula aku tidak punya hak untuk melakukan pemberangkatan terakhir bagi Aruna." ucap Bagas yang lantas di balas anggukan kepala oleh Arka saat itu.


***


Basement Apartment


Dengan gerakan yang terburu-buru Felia mulai menuruni mobilnya dengan cepat. Di langkahkan kakinya dengan langkah kaki yang lebar menuju ke arah unit Apartment Fadli. Entah mengapa Felia begitu yakin jika saat ini Arthur sudah berada di unit Apartment Fadli.


.


.


.


Ting


"Sudah ku bilang untuk bangun! Siapa yang menyuruh mu untuk mati!" pekik Arthur sambil memukul area dada Fadli dengan kuat saat itu.


Uhuk uhuk


Berkat pukulan keras serta cpr secara manual yang di lakukan oleh Arthur saat itu, membuat Fadli langsung kembali dari ambang kematian. Fadli nampak terbatuk beberapa kali sambil terlihat meraba area lehernya yang terasa begitu sakit saat itu.


Mendapati hal tersebut membuat Arthur langsung terduduk dengan seketika. Diusapnya raut wajah Arthur dengan kasar saat itu, raut wajah Arthur bahkan terlihat jelas begitu frustasi seperti tak ada secercah cahaya di wajahnya. Melihat hal itu membuat Felia langsung tertegun dengan seketika. Ini adalah pertama kalinya Felia melihat Arthur yang seperti ini.


Perasaan menggebu yang semula memenuhi hatinya mendadak luntur ketika melihat raut wajah frustasi Arthur saat ini. Antara hati dan juga pikirannya benar-benar tidak selaras saat ini, diliriknya beberapa peralatan makan yang terletak di meja makan saat itu. Membuat Felia yang mendapati hal tersebut lantas langsung memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke arah sana.


Diambilnya sebuah garpu dan ia pegang dengan erat saat itu. Apa yang terjadi kepada Arthur memang bukanlah keinginan semua orang, tapi melihat Arthur yang begitu frustasi tentu saja membuat hatinya sangat terluka. Felia dan juga Arthur memang tidaklah dekat seperti kebanyakan saudara pada umumnya, namun sebagai seorang kakak melihat Arthur yang seperti itu tentu saja membuat hati kecilnya terluka.


"Setidaknya aku akan melakukan apa yang tidak pernah aku lakukan untuk dia..." ucap Felia sambil menatap ke arah garpu dan juga Arthur secara bergantian.


Dengan langkah kaki yang yakin Felia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Arthur berada, kemudian melempar garpu tersebut. Membuat Arthur yang tidak menyadari akan kehadiran Felia saat itu, lantas langsung mendongak dengan tatapan yang sendu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" ucap Arthur dengan nada suara yang serak.


Mendengar hal tersebut membuat Felia menghela napasnya panjang dan melirik ke arah Fadli yang saat ini seperti tengah berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya.


"Lakukan sekarang Ar, bukankah dia membunuh Aruna dengan benda itu. Lakukan hal yang sama kepadanya aku mendukung mu!" ucap Felia dengan nada yang datar, membuat Arthur lantas langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengarnya secara langsung dari mulut Felia.


Fadli yang semula berharap jika Felia datang untuk membantunya saat itu, yang terjadi malah sebaliknya. Membuat Fadli lantas mulai ketar-ketir ketika mendapati dua orang kakak beradik yang gila itu. Entah apa yang akan terjadi kepadanya namun yang jelas situasinya sama sekali tidak aman saat ini.


"Fel kamu jangan gila.. Ji...jika aku mati maka anak kita akan kehilangan Ayahnya..." ucap Fadli sambil mulai mengambil langkah ngesot mundur ke belakang secara perlahan.


Namun Felia yang mendengar hal tersebut hanya berdecak kemudian memalingkan wajahnya, seakan tidak perduli akan perkataan dari Fadli barusan.


"Ayah kakimu! Kau bahkan pernah mengajak ku untuk membunuhnya, jadi jika sekarang aku dan anak yang ada di dalam kandungan ku melihat kematian mu, bukankah hal ini akan terlihat begitu impas?" ucap Felia dengan nada yang terdengar datar saat itu, membuat keringat dingin mulai membasahi kening Fadli saat itu.


"Sial!" pekiknya dalam hati.


Arthur yang mendengar percakapan keduanya, lantas bangkit dari posisinya sambil memegang dengan erat garpu pemberian Felia sebelumnya. Ditatapnya Fadli yang saat itu tengah fokus menatap ke arah dimana Felia berada dengan tatapan yang tajam.


"Aku akan membuat mu merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh Aruna saat itu!" pekik Arthur sambil mulai mendekat ke arah Fadli dengan cepat.


"Tunggu! Bukan aku yang membunuhnya tapi perempuan paruh baya itu yang tiba-tiba jatuh dan membuat garpu itu menancap ke leher Aruna!" pekik Fadli sambil menutup matanya, membuat tangan Arthur yang sudah hampir sampai mendaratkan garpu tersebut ke leher Fadli, lantas terhenti dengan seketika.


"Apa!"


Bersambung