Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Sudah ku bilang bangun!



Rumah sakit


Hari itu tidak ada lagi yang bisa di lakukan oleh Arthur selain melihat kepergian Aruna dengan mata kepalanya sendiri. Tawa dan juga canda gadis itu bahkan masih terngiang-ngiang di kepalanya saat ini. Setetes air mata nampak jatuh dan membasahi pipinya, ketika sebuah kain perlahan-lahan ditarik menutup tubuhnya yang sudah membiru itu.


Kelopak mata Arthur tertutup sejenak sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Tatapan membunuh terlihat dengan jelas tepat ketika kelopak matanya terbuka dengan sempurna.


"Aku tidak akan memaafkan mu Fadli!" ucap Arthur dengan napa penuh penekan.


Tepat setelah mengatakan hal tersebut Arthur nampak berbalik badan dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan UGD.


"Mau kemana kamu Ar?" ucap Bagas yang tidak sengaja berpapasan dengan Arthur di pintu ruangan tersebut.


Mendengar pertanyaan tersebut lantas membuat Arthur menghentikan langkah kakinya sejenak. Dengan perlahan Arthur nampak berbalik badan dan menatap ke arah Bagas dengan tatapan yang tajam layaknya seekor elang.


"Gigi harus di balas dengan gigi Pa, aku harap Papa tidak akan menghalangi ku untuk melakukan hal ini!" ucap Arthur dengan nada yang dingin sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Bagas.


Bagas yang mendengar perkataan dari Arthur barusan, lantas terlihat mengernyit sambil menatap punggung putranya yang kian jauh dari pandangannya. Entah apa yang sedang coba dikatakan oleh Arthur saat itu, namun detik berikutnya Bagas yang melihat kain putih menutupi tubuh Aruna tersebut lantas sedikit tersentak.


"Apa jangan-jangan..." ucap Bagas sambil kembali menatap ke arah putranya.


Bagas yang mulai mengerti akan maksud perkataan dari Arthur saat itu, lantas terlihat merogoh sakunya dan mengambil ponselnya di sana. Bagas mendial nomor Felia dengan cepat, berharap Felia dapat segera mengangkat panggilannya saat itu.


"Halo Pa..." ucap Felia di seberang sana.


"Aruna meninggal.." ucap Bagas hendak menjelaskan segalanya namun malah di potong begitu saja oleh Felia.


"Jika gadis itu meninggal, lalu apa hubungannya dengan ku? Harusnya Papa mengabari Arthur dong bukan malah Felia." cerocos Felia dengan nada yang terdengar kesal.


"Bisa tidak jangan menyela perkataan orang tua, Papa mengatakan hal tersebut kepadamu karena kematian Aruna ada kaitannya dengan Fadli. Papa yakin jika Arthur saat ini tengah menuntut balas kepadanya. Apa kamu mau anak mu lahir tanpa seorang Ayah? Setidaknya jika Arthur ingin mengeksekusinya lakukan setelah anak mu lahir!" ucap Bagas dengan nada yang ngegas karena tingkah Felia yang suka sekali memotong pembicaraan.


Felia terdiam dengan seketika, perkataan Bagas tentang Fadli benar-benar menyisakan tanda tanya besar di kepalanya saat ini.


"Aku sudah tidak perduli Pa, biarkan saja Arthur melakukan apa yang ia kehendaki." ucap Felia dengan nada datar pada akhirnya, sebelum kemudian menutup sambungan telponnya begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Bagas terlebih dahulu.


"Tapi Feli.. Halo.. Felia..." ucap Bagas dengan nada yang meninggi ketika tahu panggilan telponnya di putus begitu saja oleh Felia.


"Dasar anak tidak punya sopan santun!" pekik Bagas kemudian dengan raut wajah yang kesal. "Entah masalah apa lagi yang akan terjadi selanjutnya, namun aku yakin Arthur tidak akan melepaskan Fadli begitu saja." ucap Bagas kembali dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


***


Fadli yang tahu jika ia akan menjadi buruan Arthur tepat setelah tewasnya Aruna. Lantas terlihat mengemasi barang-barangnya dengan sembarangan. Pikirannya saat ini benar-benar kacau dan tidak beraturan. Entah apa yang akan di lakukan Arthur kepadanya, namun yang jelas ia harus mencari tempat berlindung yang aman terlebih dahulu sebelum Arthur menemukannya.


"Apapun yang terjadi aku harus mencari tempat teraman terlebih dahulu, setelahnya kita akan pikirkan lagi.. Yang penting aku harus selamat dari Arthur, sialan.. Aku benar-benar bernasib sial karena harus berurusan dengan keluarga mereka." ucap Fadli sambil terus memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


Disaat Fadli tengah terburu-buru membereskan segalanya, sebuah suara yang sama sekali tidak ia inginkan malah terdengar menggema di telinganya saat itu. Membuat Fadli yang mendapati hal tersebut lantas menelan salivanya dengan kasar.


"Mau kemana kau? Bukankah ada sesuatu yang harus kau urus sebelum pergi Fadli?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Fadli perlahan-lahan mulai menoleh ke arah sumber suara.


Fadli yang jelas tahu jika itu adalah Arthur lantas terlihat bangkit dari posisinya saat itu.


"Jangan mendekat! Kau sama sekali tidak tahu apapun, aku tidak berniat untuk membunuhnya sungguh...." ucap Fadli dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.


Mendengar rengekan Fadli yang seperti itu hanya membuat Arthur tersenyum tipis. Arthur yang seakan menulikan pendengarannya saat itu lantas mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Fadli berada, membuat Fadli yang mengetahui hal tersebut lantas mulai mengambil langkah kaki mundur.


"Oh ya? Lalu apa yang tidak aku lihat sebenarnya? Apa kau bisa menjelaskannya?" ucap Arthur dengan tatapan setajam elang.


"Kau hanya melihat gambaran kasarnya, masih ada banyak hal yang memungkinkan segalanya terjadi saat itu." ucap Fadli mencoba untuk menjelaskan segalanya, namun sepertinya Arthur tidak akan menerima penjelasan tersebut walau Fadli berteriak sekalipun.


Arthur yang tidak ingin terus bermain kata-kata bersama dengan Fadli saat itu, lantas langsung mempercepat langkah kakinya dan melompat mencengkram dengan erat leher Fadli saat itu. Membuat Fadli yang mendapati serangan tersebut tentu saja langsung meringis kesakitan karenanya.


"Kau pantas mati... Aku benar-benar membenci dirimu! Meski kau adalah kekasih kakak ku sekalipun, aku akan tetap membinasakan mu..." ucap Arthur sambil menekan area leher Fadli hingga raut wajahnya memerah karenanya.


Arthur yang memang menaruh dendam kepada Fadli akan kematian Aruna saat itu, lantas menekan semakin kuat area leher Fadli hingga ia kesulitan bernapas saat itu. Tak tanggung-tanggung Arthur bahkan sampai duduk di area atas tubuh Fadli dan terus memberikan tekanan di sana.


Sampai kemudian ketika perlawanan terus Fadli lakukan agar bisa lepas dari cengkraman Arthur. Namun detik berikutnya, tangan yang semula berusaha melakukan perlawanan kepada Arthur mendadak melemas dengan posisi mata yang melotot. Membuat Arthur lantas menghentikan gerakan tangannya saat itu ketika tidak mendapati pergerakan apapun dari Fadli saat ini.


"Bangun, kau tidak boleh mati dengan cepat! Kematian terlalu mudah untuk mu! Bangun ku bilang! Fadli..." ucap Arthur sambil menggoyang pundak Fadli berulang kali seakan berusaha untuk membangunkannya.


Arthur yang tidak melihat gerakan apapun di sana, lantas terlihat bangkit sambil memukul area dada Fadli saat itu. Sambil terus mengumpat serapah mengeluarkan segalanya, Arthur berusaha memompa jantung Fadli secara manual dengan gerakan yang cepat.


"Sudah ku bilang untuk bangun! Siapa yang menyuruh mu untuk mati!" pekik Arthur sambil memukul area dada Fadli dengan kuat saat itu.


Uhuk uhuk


Bersambung