Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Bingung



Resto


Di area sudut Resto terlihat Felia dan juga Fadli saat ini tengah berbincang-bincang sambil memakan beberapa makanan yang sudah mereka berdua pesan sedari tadi, keduanya nampak terlibat pembicaraan yang sangat ringan dan juga menyenangkan sehingga beberapa kali mengundang canda tawa diantara keduanya seakan pembicaraan diantara Fadli dan juga Felia terjalin dengan cukup baik.


Setelah telpon dari Felia saat itu, keduanya memutuskan untuk bertemu di Resto sekedar untuk makan siang dan mengisi waktu kosong dengan mengobrol bersama. Fadli yang tentu saja sangat senang ketika mengetahui mangsanya masuk ke dalam perangkap yang telah ia siapkan, membuat Fadli lantas memanfaatkan segalanya dengan baik.


"Terima kasih banyak atas bunganya aku benar-benar bahagia karena ada seseorang yang masih mengingat ku." ucap Felia dengan raut wajah yang cemberut ketika mengatakannya, membuat Fadli langsung menghentikan tawanya dengan seketika.


"Ayolah Fel, aku bahkan memberikan mu bunga itu untuk membuat mu senang, mengapa kau malah cemberut seperti itu?" ucap Fadli kemudian sambil menggenggam dengan erat tangan Felia.


Felia yang mendapat perlakuan tersebut tentu saja langsung melayang dengan seketika. Felia benar-benar bahagia karena bisa bertemu dengan sosok Pria seperti Fadli, seseorang yang begitu menenangkan hatinya dan juga mencuri hatinya dalam beberapa hari belakangan ini.


"Maaf aku telah merusak suasana.." ucap Felia dengan raut wajah yang menyesal, namun Fadli malah menanggapinya dengan senyuman.


"Tak apa, tak perlu mengkhawatirkan suasananya santai saja..." ucap Fadli yang lantas membuat Felia tersenyum ketika mendengarnya.


"Terima kasih banyak" ucap Felia kemudian.


"Tentu" jawab Fadli dengan nada yang lembut.


***


Sementara itu di ruangan CEO terlihat Aruna dan juga Faris tengah sibuk menyiapkan beberapa berkas yang harus mereka kerjakan sebelum meeting. Aruna terlihat fokus menatap ke arah layar iPadnya dengan raut wajah yang serius. Hanya saja disaat kedua orang tersebut tengah sibuk dengan pekerjaannya, lain halnya dengan Arthur yang nampak melamun memikirkan segala hal yang terjadi kepadanya belakangan ini. Bayangan bagaimana senyuman sinis milik Pandu yang baru saja terlintas dibenaknya menyisakan sebuah trauma besar dalam hidupnya. Membuat Arthur tidak bisa berhenti memikirkannya sedari tadi.


Perlakuan Pandu yang hampir merenggut sesuatu yang paling berharga di hidupnya, lantas membuat *Aruna begitu trauma jika berhubungan kembali dengan Pandu meski ia telah dipenjara selama lima tahun untuk menebus kesalahannya.


"Run apa kamu sudah menghubungi pihak vendor dan memastikan waktunya?" ucap Aruna kemudian sambil masih fokus menatap ke arah layar iPad miliknya.


Arthur yang ditanya sama sekali tidak mendengar perkataan Aruna karena memang sedari tadi sedang sibuk melamun tanpa melakukan apapun. Membuat Aruna yang tak kunjung mendapat jawaban apapun dari Arthur, lantas mulai menatap ke arah dimana Arthur berada dan mengernyit dengan tatapan yang bingung.


"Run... Aruna!" pekik Aruna kemudian yang langsung membuat Faris mendongak dengan seketika disaat mendengar teriakan dari Aruna barusan.


Sedangkan Arthur yang juga mendengar teriakan dari Aruna barusan langsung membuyarkan lamunannya dengan seketika, dengan spontan Arthur lantas bangkit dari tempat duduknya yang malah menambah kesan aneh di mata Aruna saat itu.


"Baik Tuan saya berangkat!" ucapnya dengan spontan sambil bangkit berdiri.


Mendengar hal tersebut membuat Aruna dan juga Faris langsung saling pandang antara satu sama lain seakan bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan oleh Arthur saat ini.


"Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan?" ucap Aruna pada diri sendiri dengan tatapan yang bertanya-tanya.


Hingga satu menit kemudian setelah kepergian Arthur dari ruangan tersebut, Arthur terlihat menyembulkan kepalanya sedikit di pintu ruangan tersebut, membuat Faris dan juga Aruna langsung mengernyit dengan seketika begitu melihat kelakuan dari Arthur saat ini.


"Maaf Tuan.. Anda menyuruh saya pergi kemana ya?" ucap Arthur dengan senyuman yang garing.


Mendengar hal tersebut membuat Aruna langsung menghela napasnya dengan panjang karena tidak tahu lagi harus berkata apa ketika melihat tingkah Arthur yang seperti itu.


"Pergi ke Resto dan minumlah air mineral di sana, jernihkan pikiran mu agar bisa lebih fokus dalam bekerja!" ucap Aruna kemudian dengan nada yang menyindir kepada Arthur saking kesalnya akan tingkah Arthur saat ini.


Arthur yang mendapat perintah tersebut lantas terlihat manggut-manggut kemudian membuka pintu ruangan sedikit lebih lebar dan memberi hormat dengan badan sedikit menunduk.


"Baik Tuan saya akan pergi sekarang." ucap Arthur kemudian langsung menutup pintu ruangan tersebut dan berlalu pergi dari sana.


Aruna yang tidak bisa lagi berkata-kata hanya bisa melongo menatap tak percaya ke arah pintu ruangan yang saat ini sudah tertutup dengan rapat itu. Membuat helaan napas lantas terdengar dengan kasar berhembus keluar dari mulut Aruna.


"Apa anda baik-baik saja Tuan?" tanya Faris kemudian dengan nada hati-hati karena takut membangunkan singa yang sedang tertidur saat ini.


"Sebaiknya kamu susul dia sebelum aku ********** bulat-bulat!" ucap Aruna kemudian dengan nada yang terdengar serak karena menahan perasaan kesal di hatinya.


Mendengar perintah itu langsung membuat Faris bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi dari sana dengan gerakan yang cepat. Sepertinya Aruna akan benar-benar marah saat ini karena tingkah Arthur yang aneh itu.


"Sebenarnya apa yang ada di dalam pikirannya saat ini? Apakah ini tentang Pandu? Mengapa ia sampai tidak fokus seperti itu?" ucap Aruna kemudian bertanya-tanya pada diri sendiri setelah kepergian Faris dari ruangannya barusan.


***


Di sebuah ruangan kamar yang gelap dengan satu penerbangan kecil tepat di area meja kerja di ruangan tersebut. Terlihat Pandu tengah sibuk menata beberapa foto seseorang di sebuah papan. Seulas senyum terlihat terbit dari wajah Pandu begitu ia menempelkan sebuah foto milik Arthur di sana.


"Seorang pewaris perusahaan kaya raya dengan berbagai masalah pelik keluarganya, cukup menarik.. Aku sungguh tidak tahu jika Aruna bisa bergaul dengan orang-orang penting seperti dia. Sepertinya jika aku ikut bermain di dalamnya dan menciptakan sebuah situasi cinta segitiga, mungkin akan sangat menyenangkan?" ucap Pandu dengan senyuman yang mengembang menatap foto Arthur yang tertempel dengan jelas di papan tersebut.


Setelah berhasil menempelkan foto Arthur di sana, Pandu kemudian beralih dengan foto Aruna dan meletakkannya tak jauh dari foto Arthur di papan tersebut, membuat seulas senyuman smirk terlihat dengan jelas di wajah Pandu saat itu.


"Sebuah kombinasi yang sempurna." ucapnya lagi.


Bersambung