Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Permintaan maaf



Setelah puas mengeluarkan unek-uneknya, Aruna yang tidak lagi memperdulikan dirinya lantas terlihat melangkahkan kakinya membelah derasnya air hujan yang mengguyur Ibukota pagi itu. Entah apa yang sedang ia pikirkan, namun Aruna rasa perkataan dari Arthur sebelumnya benar-benar melukai perasaannya.


Aruna nampak menangis di bawah guyuran air hujan saat itu sambil terus membawa langkah kakinya yang entah harus kemana. Hanya saja disaat rasa kecewa dan juga sedih bercampur menjadi satu, sebuah tarikan tangan nampak mulai terasa dan menghentikan langkah kakinya saat itu.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa sakit jika berlari di tengah hujan lebat seperti ini. Lagi pula apa kamu tidak takut tersambar petir?" ucap Arthur dengan nada yang berteriak karena suara hujan yang begitu terdengar bising di telinga saat itu.


Aruna yang mengetahui dengan jelas jika yang menarik tangannya barusan adalah Arthur, lantas terlihat menghempaskan tangan Arthur begitu saja. Membuat Arthur yang mendapati hal tersebut langsung menghela napasnya dengan panjang.


"Apa perduli Tuan tentang diriku? Mau aku sakit, aku jatuh, atau bahkan mati sekalipun semua itu bukan urusan anda. Jadi aku mohon berhenti membuat ku berharap dan juga bergantung kepada anda!" pekik Aruna dengan nada yang begitu kesal.


Kali ini di bawah guyuran hujan Aruna ingin mengungkapkan segala isi hatinya. Entah Arthur kesal, marah atau bahkan ingin membuangnya sekalipun. Saat ini Aruna benar-benar tidak perduli.


"Apa yang kamu katakan? Aku benar-benar minta maaf jika kata-kata ku menyinggung perasaan mu. Aku akui aku terlalu terbawa emosi dalam segala hal. Aku yang terbiasa hidup sendiri dan juga keras sampai melupakan jika aku juga membutuhkan sebuah sandaran. Kamu tanya apakah aku marah? Ya, aku sangat-sangat marah. Aku marah ketika melihat mu begitu dekat dengan seorang wanita yang seharusnya sedari dulu menemani tumbuh kembangku dan mengajariku banyak hal. Aku hanya terlalu marah akan keadaan sampai tidak sengaja melampiaskan kepadamu. Aku bahkan begitu membenci segala hal yang terjadi di hidup ku selama ini. Aku... Aku benar-benar minta maaf..." ucap Arthur sambil berteriak ikut meluapkan segala isi hatinya saat itu.


Sedangkan Aruna yang mendengar segala penuturan dari Arthur barusan tentu saja langsung terdiam dengan seketika. Melihat Arthur yang seperti ini tentu saja langsung membuat hatinya luluh dengan begitu saja. Namun sebenarnya di sudut hatinya yang terlalu dalam, ada sebuah perasaan kesal dan juga marah akan sikap Arthur yang tidak percaya kepadanya.


Hanya saja sayangnya sekuat apapun perasaan marah tersebut mendorongnya untuk meluap, nyatanya selalu saja kalah dengan rasa cintanya kepada Arthur yang begitu besar dan seperti orang yang bodoh tersebut.


"Aku benar-benar minta maaf, aku minta maaf atas kejadian tadi pagi maupun barusan. Aku benar-benar salah telah menuduh mu tanpa melihat bukti atau bahkan mencari kebenarannya terlebih dahulu. Maafkan aku Aruna..." ucap Arthur sekali lagi.


"..."


Arthur yang melihat Aruna hanya terdiam di tempatnya saat itu, lantas langsung menarik tubuh Aruna secara perlahan dan membawanya ke dalam pelukannya.


Sedangkan Aruna yang mendapati tingkah Arthur yang memeluknya seperti itu, tentu saja membuat Aruna tidak lagi bisa mengeluarkan kata-katanya. Aruna benar-benar telah terjebak dan jatuh semakin dalam pada sebuah perasaan mencintai, sehingga egonya tertekan dan tidak lagi bisa bergerak ketika mendengar kata maaf keluar dari mulut Arthur saat itu.


"Mengapa mulut ku tidak bisa berkata-kata setelah mendengar perkataan Tuan?" ucap Aruna dalam hati yang hingga kini masih terpaku di dalam pelukan Arthur saat ini.


**


Sementara itu di dalam sebuah mobil yang di kendarai oleh Alina saat itu, terlihat Alina saat ini tengah berhenti di sebuah SPBU untuk mengisi bahan bakar mobilnya. Sambil menunggu petugas SPBU tersebut mengisi bahan bakar mobilnya. Alina nampak terdiam sejenak, pikirannya saat ini kembali melayang membayangkan segala hal yang baru saja terjadi antara dirinya dan juga Aruna.


Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Alina kala itu. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada sebuah kursi penumpang dimana ia melihat sebuah kalung terlihat jelas di sana.


"Siapa pemilik kalung ini?" ucap Alina sambil mengingat-ingat dimana ia pernah melihatnya.


"Sepertinya aku harus mengembalikannya, siapa tahu kalung ini penting baginya." ucap Alina kemudian.


Setelah menyelesaikan pembayaran Alina nampak mulai melajukan mobilnya kembali menuju ke area Apartment milik Arthur.


.


.


Lobby Apartment


Alina terlihat mulai memarkirkan mobilnya di area parkiran depan. Sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar Alina nampak menarik napasnya dalam-dalam sebelum pada akhirnya memutuskan untuk turun dan menemui Aruna.


"Semoga saja *Arthur tidak mengusir ku..." ucap Alina kemudian sambil memantapkan hatinya.


Dengan langkah kaki yang perlahan Alina nampak membawa langkah kakinya hendak memasuki gedung Apartment tersebut. Hanya sanya langkah kakinya langsung terhenti dengan seketika begitu melihat bayangan seseorang tengah berlarian di tengah derasnya guyuran hujan saat itu.


"Bukankah itu Arthur dan juga wanita itu?" ucap Alina yang nampak mengernyit dengan tatapan yang bingung ketika melihat keduanya yang berlarian menerjang hujan kala itu.


Alina yang tadinya hanya berniat ingin mengembalikan kalung tersebut, melihat ada yang aneh dengan aksi keduanya nampak mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah keduanya saat itu. Diambilnya sebuah payung yang akan ia gunakan dan satu lagi payung cadangan untuk keduanya.


Dengan langkah kaki yang perlahan dan raut wajah yang penasaran, Alina mulai terus membawa langkah kakinya semakin mendekat ke arah keduanya. Hingga kemudian sebuah teriakan isi hati seorang Arthur nampak terdengar di bawah guyuran air hujan dan langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


"Aku benar-benar minta maaf jika kata-kata ku menyinggung perasaan mu. Aku akui aku terlalu terbawa emosi dalam segala hal. Aku yang terbiasa hidup sendiri dan juga keras sampai melupakan jika aku juga membutuhkan sebuah sandaran. Kamu tanya apakah aku marah? Ya, aku sangat-sangat marah. Aku marah ketika melihat mu begitu dekat dengan seorang wanita yang seharusnya sedari dulu menemani tumbuh kembangku dan mengajariku banyak hal. Aku hanya terlalu marah akan keadaan sampai tidak sengaja melampiaskan kepadamu. Aku bahkan begitu membenci segala hal yang terjadi di hidup ku selama ini. Aku... Aku benar-benar minta maaf..." ucap Arthur sambil berteriak ikut meluapkan segala isi hatinya saat itu.


Deg


Mendengar hal tersebut lantas membuat jantungnya berdebar dengan kencang, hingga tanpa menyadari jika ia kembali melangkahkan kakinya dan mengambil langkah kaki yang besar mendekat ke arah keduanya saat itu.


"Arthur!" pekik Alina kemudian.


Bersambung