
GV Company
Tak tak tak
Derap langkah kaki terdengar menggema dengan jelas di area lorong perusahaan menuju ke arah ruang rapat. Hari ini adalah Rapat bulanan seperti biasanya yang diadakan untuk meninjau peningkatan dan juga progres bulanan dari setiap divisi yang ada di perusahaan.
Ceklek...
Pintu area ruang rapat nampak mulai terbuka dengan perlahan, menampilkan sosok Arthur dan juga Faris yang mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah kursi kebesaran milik CEO GV Company. Beberapa peserta rapat yang melihat sosok Arthur dan juga Faris yang kembali muncul setelah sekian lama tidak terlihat di perusahaan ini, tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung sambil bertanya-tanya akan maksud dari hadirnya Arthur saat ini kembali ke perusahaan.
Bisik-bisik dari beberapa karyawan mulai terdengar menggema di ruang rapat, membuat seulas senyum tipis yang terlihat dengan jelas tercetak di raut wajah Arthur saat itu ketika mendengar bisik-bisik tersebut yang tentu saja sedang membicarakan dirinya saat ini.
"Aku tahu kalian pasti bingung dengan apa yang terjadi sekarang, tapi mulai hari ini aku akan kembali memimpin perusahaan. Bersiaplah untuk kembali ke posisi kalian dan mulai mempresentasikan beberapa hal tentang profit dan juga progres perusahaan selam saya tidak ada di perusahaan." ucap Arthur dengan nada yang tegas membuat raut wajah beberapa orang nampak terlihat terkejut ketika mendengar hal tersebut.
Faris yang melihat Arthur kembali dalam mode dinginnya ketika mengadakan sebuah rapat, lantas hanya tersenyum dan simpul sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar. Beberapa raut wajah khawatir dan juga takut benar-benar terlihat dengan jelas pada setiap orang yang berada dalam ruang rapat tersebut. Sepertinya semua orang tengah terkejut akan kehadiran Arthur yang tiba-tiba di sana.
"Sepertinya Tuan tengah benar-benar kembali ke kehidupannya yang sebelumnya." Faris dengan nada yang yakin sambil menatap ke Arthur yang tengah sibuk mendengarkan setiap laporan dari masing-masing divisi selama rapat berlangsung.
**
Kediaman Gavanza
Maria yang mendengar berita jika Arthur telah kembali ke perusahaan tentu saja semakin merasa jengkel dan disisihkan, sambil melangkahkan kakinya naik ke lantai atas Maria nampak memasang raut wajah dengan kesal dan juga cemberut memasuki ruangan kamar utama. Ditutupnya pintu dengan cukup keras membuat Bagas yang baru saja keluar dari kamar mandi, lantas langsung terkejut mendengar suara pintu yang tertutup dengan keras barusan.
"Tidak bisakah kamu menutup pintu sedikit lebih pelan lagi?" ucap Bagas dengan raut wajah yang mulai kesal akan tingkah Maria yang seperti itu.
"Untuk apa aku mendengarkan mu? Bukankah kau menganggap ku tidak ada di rumah ini?" ucap Maria dengan tatapan yang tajam menatap ke arah Bagas, membuat Bagas lantas mengernyit karena tidak mengerti akan arah pembicaraan dari Maria saat ini.
"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya?" ucap Bagas dengan raut wajah yang penasaran.
Mendengar hal tersebut membuat Maria langsung berbalik badan menatap ke arah Bagas dengan tatapan yang penuh kilatan amarah.
"Kau selalu mengambil keputusan mu sendiri! Tidak hanya soal anak-anak bahkan tentang warisan dan juga perusahaan, apa aku sama sekali tidak berarti untuk mu Pa?" ucap Maria pada akhirnya yang lantas membuat Bagas mengernyit begitu mendengar perkataan tersebut keluar dari mulut Maria barusan.
Melihat hal tersebut tentu saja membuat Maria semakin kesal karenanya. Maria kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Bagas berada dan langsung menarik tangannya agar menatap ke arahnya saat ini.
"Apa hal ini karena aku istri kedua? Atau karena aku hanyalah orang biasa yang menikah dengan orang berada seperti mu? Atau memang karena Maxim bukanlah darah daging mu? Katakan alasan mana yang akan kau pakai kali ini ha?" pekik Maria yang sudah tidak tahan lagi akan tingkah Bagas yang sudah keterlaluan.
"Jaga cara bicara mu itu! Bagian mananya aku yang memperlakukan Maxim dengan berbeda? Aku bahkan juga memberikannya hal yang sama seperti Arthur dan juga Felia! Bagian mananya kutanya?" ucap Bagas yang juga terpancing akan perkataan Maria barusan.
"Kau memang memberikannya hal yang sama, tapi yang di terima oleh Felia dan juga Arthur jauh lebih besar dari yang di terima oleh Maxim!" pekik Maria dengan nada yang kesal.
"Karena keduanya adalah anak-anak ku, ya mereka tumbuh dan mendapatkan yang terbaik tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi. Aku memberikan mereka bertiga bagian yang sama, tapi baik Arthur dan juga Felia berusaha untuk mengembangkannya hingga jadi besar seperti ini. Namun Maxim, Maxim hanya stak dan berhenti di sana tanpa bisa melakukan perkembangan. Memang hotel tidak mengalami kerugian sama sekali, tapi profit yang di hasilkan selalu saja sama setiap tahunnya tanpa adanya perkembangan sama sekali. Lalu kau tanpa memperhatikan segalanya mengatakan seenak jidat mu jika aku membanding-bandingkan ketiganya? Bukan aku yang melakukannya, cara berkembang mereka yang berbeda yang menciptakan sebuah perbedaan terlihat jelas pada ketiganya." ucap Bagas panjang kali lebar yang lantas membuat Maria langsung terdiam dengan seketika.
"Berhenti mengatakan hal itu!" ucap Maria yang seakan tidak terima jika apa yang dikatakan oleh Bagas adalah kebenarannya.
"Ada apa? Apa kau mau menyangkalnya juga?" ucap Bagas dengan senyuman yang tipis.
"Sudah ku bilang untuk berhenti! Mengapa kau tidak mengerti juga..." pekik Maria sambil membanting beberapa barang yang ada di meja rias hingga menimbulkan suara yang begitu ribut karena beberapa benda yang jatuh dari tempat semula.
***
Sementara itu di area Supermarket, terlihat Aruna tengah sibuk memasukkan satu persatu belanjaannya ke dalam troli. Malam ini Aruna ingin membuat menu makanan yang spesial untuk Arthur. Sambil tersenyum dengan simpul Aruna mulai mengambil satu persatu bahan makanan favorit Arthur.
"Aku yakin Tuan pasti akan senang ketika aku memasakkannya sesuatu yang spesial nanti malam." ucap Aruna dengan senyuman yang mengembang.
Sampai kemudian ketika Aruna tengah sibuk memilih beberapa bahan makanan untuk Arthur, sebuah suara yang asing di pendengarannya lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika begitu Aruna mendengar suara tersebut menggema di telinganya.
"Arthur apakah itu kamu nak?" tanya sebuah suara yang lantas langsung membuat Aruna berbalik badan begitu mendengar seseorang memanggilnya dengan nama Arthur.
"Apakah aku mengenalnya? Bagaimana dia bisa tahu jika aku dan Tuan Arthur pernah bertukar jiwa sebelumnya?" ucap Aruna dalam hati dengan raut wajah yang kebingungan.
Bersambung