
Hanya saja ketika langkah kaki Aruna baru saja sampai keluar area kamar mandi, sebuah tarikan tangan yang tiba-tiba membawanya hingga ke sudut area tembok kamar mandi, lantas langsung membuat Aruna terkejut dengan seketika.
"Aw" pekik Aruna yang merasakan kesakitan karena tarikan dari Fadli barusan.
"Kau wanita udik yang tak tahu sopan santun, apa masalah mu terus mengganggu ku ha?" ucap Fadli dengan nada yang penuh penekanan sambil menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang tajam.
Aruna yang mendengar perkataan dari Fadli barusan tentu saja terkejut bukan main, entah apa yang coba dikatakan oleh Fadli namum Aruna sama sekali tidak mengerti akan alasan mengapa Fadli tiba-tiba marah kepadanya.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Aruna yang bingung sambil meringis menahan rasa sakit yang terletak di area pergelangan tangannya saat ini karena cengkraman tangan Fadli yang begitu kuat.
"Jangan berlagak sok polos, kau jelas tahu apa yang aku maksud barusan. Ingat satu hal, jika sampai kau berbuat macam-macam dan terus menyudutkan ku tanpa alasan yang jelas aku pastikan kau akan menanggung sendiri akibatnya!" ucap Fadli dengan tatapan yang tajam ke arah Aruna saat ini.
Setelah mengatakan hal tersebut Fadli langsung menghempaskan tangan Aruna begitu saja kemudian berlalu pergi dari sana sambil sekali melirik ke arah Aruna dengan tatapan yang malas. Sedangkan Aruna yang mendapati tingkah laku Fadli yang seperti itu, hanya bisa menatapnya dengan tetap termenung sambil mengusap area pergelangan tangannya yang terasa sedikit sakit akibat cengkraman tangan Fadli yang terlalu keras di sana.
"Ada apa dengannya dirinya sebenarnya? Apa dia marah soal perjanjian itu? Lalu mengapa harus ia limpahkan kepada ku?" ucap Aruna dengan tatapan yang bingung sambil melihat kepergian Fadli dari hadapannya saat ini.
***
Area depan mansion
Terlihat Arthur tengah menunggu kedatangan Aruna di sana, Arthur nampak sesekali menatap ke arah pintu utama dan melihat kedatangan Aruna. Hanya saja hingga beberapa menit berlalu Aruna tak kunjung juga datang, membuat Arthur lantas mengernyit dengan seketika.
"Apa yang ia lakukan di dalam? Mengapa lama sekali?" ucap Arthur dengan raut wajah yang penasaran.
Sampai kemudian Arthur yang tak kunjung mendapati Aruna keluar dari area dalam Mansion, lantas memutuskan untuk menyusul Aruna ke area kamar mandi. Namun ketika langkah kakinya hampir memasuki area pintu utama, Aruna terlihat mulai melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang perlahan keluar dari sana membuat Arthur lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Apa yang kamu lakukan di dalam? Mengapa kamu lama sekali?" ucap Arthur dengan penasaran tepat ketika Aruna keluar dari area pintu utama.
Aruna yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung menghela napasnya dengan panjang. Aruna yang tahu ada bekas cengkraman tangan Fadli di area pergelangan tangannya, lantas perlahan-lahan langsung membawa tangannya bersembunyi di belakangnya berharap Arthur tidak akan mengetahui hal tersebut.
"Maaf Tuan saya membuat anda menunggu lama." ucap Aruna kemudian sambil tersenyum dengan garing, membuat Arthur langsung menghela napasnya dengan panjang.
"Sudah kubilang jangan memanggil ku Tuan, apa kamu melupakannya?" ucap Arthur kemudian yang lantas membuat Aruna mengernyit begitu mendengar hal tersebut.
"Em... Mungkin bisa dengan panggilan sayang, honey, baby atau sejenisnya mungkin?" ucap Arthur yang tentu saja langsung membuat manik mata Aruna membulat dengan seketika disaat mendengar perkataan tersebut keluar dari mulut Arthur saat itu.
"Jangan bercanda Tuan panggilan itu sangat aneh untukku, sungguh tidak mungkin saya memanggil anda seperti itu." ucap Aruna sambil mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah mobil dengan perlahan.
Arthur yang mendengar perkataan sanggahan dari Aruna barusan lantas hanya tersenyum dengan simpul kemudian mulai mengikuti langkah kaki Aruna menuju ke dalam mobil saat itu. Disenggol nya sedikit pundak Aruna yang saat ini tengah berjalan kemudian mengambil langkah kaki mundur sambil menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang sumringah.
"Ayo panggil aku dengan sebutan yang aku katakan tadi! Ayolah Run aku ingin mendengarnya secara langsung darimu saat ini." ucap Arthur dengan nada yang terdengar merengek membuat senyuman manis terlihat tercetak dengan jelas di wajah Aruna saat itu.
Aruna yang terus mendengar Arthur merengek meminta untuk dipanggil sesuatu, lantas langsung membuat Aruna menghentikan langkah kakinya saat ini. Aruna terlihat menghentikan langkah kakinya tepat ketika ia hendak memasuki area pintu mobil yang saat ini ditahan oleh Arthur. Aruna yang melihat Arthur sama sekali tak ingin minggir dari pintu mobil, lantas langsung mendekatkan tubuhnya sedikit lebih dekat lagi ke arah Arthur untuk membisikkannya sesuatu saat itu.
"Baiklah sayang, bisakah kamu minggir dari sana? Aku hendak masuk ke dalam." ucap Aruna dengan nada sensual yang berbisik tepat di arah telinga Arthur saat itu, membuat Arthur langsung terdiam dengan seketika di tempatnya.
"Oh astaga, mengapa dia malah menggoda ku saat ini?" ucap Arthur dalam hati sambil terdiam seperti orang linglung tepat setelah Aruna membisikkan sesuatu ke telinganya saat itu.
***
Malam harinya
Sementara itu di kediaman Fadli, terlihat Fadli saat ini tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang perlahan menuju ke area balkon kamarnya sambil membawa segelas wine di tangannya, Fadli menatap ke arah langit malam itu dengan sesekali meneguk wine di gelasnya. Fadli benar-benar nampak kesal ketika membayangkan apa yang baru saja terjadi tadi di kediaman keluarga besar Gavanza.
Fadli yang mengira semuanya berjalan dengan mulus, nyatanya harus gagal dan juga berantakan tepat ketika kedatangan Arthur dan juga Aruna yang mengganggu segala rencananya saat itu. Raut wajah Aruna yang sok polos lantas tentu saja membuat pabrik geram ketika melihatnya saat itu.
Pyar...
Fadli melempar gelas yang berisi wine di tangannya dengan gerakan yang cepat sehingga menimbulkan suara bising akibat gelas tersebut yang bertabrakan dengan dinding. Tepat di area lantai balkon kamar Fadli terlihat pecahan kaca dari gelas tersebut nampak berserakan di area lantai beserta dengan wine yang masih tersisa di dalam gelas tersebut.
Fadli berdecak dengan kesal sambil mengambil posisi berkacak pinggang menatap ke arah langit malam itu yang sayangnya tidak ada satu pun bintang menghiasi langit malam tersebut.
"Jika sampai rencanaku gagal kali ini, akan aku pastikan dia menanggung segala akibatnya. Dasar perempuan udik yang tak tahu diri!" ucap Fadli dengan tatapan yang tajam ke arah depan.
Bersambung