
Apartment Arthur
Dari arah pintu masuk terlihat Arthur tengah melangkahkan kakinya sambil memapah Aruna secara perlahan. Keduanya baru saja pulang dari Rumah sakit sebelumnya, membuat Aruna sedikit merasa baikan meskipun masih terasa sedikit ngilu.
Arthur menuntun Aruna agar duduk di atas sofa secara perlahan, membuat Aruna sedikit meringis ketika mendapati kakinya yang terasa ngilu ketika ia duduk di sofa.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arthur kemudian sambil menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang penuh khawatir.
"Lebih baik, terima kasih banyak karena sudah menolongku Tuan." ucap Aruna dengan tersenyum simpul menatap kepada Arthur.
Namun Arthur yang mendengar jawaban dari Aruna barusan hanya menatapnya dengan tatapan yang intens kemudian sambil bersendekap dada, membuat Aruna lantas mengernyit melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Arthur barusan.
"Kamu benar-benar gadis yang nakal ya? Siapa suruh kau untuk pergi? Bagaimana rasanya? Apa kau sudah kapok?" ucap Arthur dengan nada yang kesal membuat Aruna langsung terdiam seketika.
"Saya benar-benar minta maaf Tuan, saya hanya.." ucap Aruna namun terhenti, ia bahkan tidak tahu lagi harus mengatakan apa sekarang kepada Arthur.
Arthur yang melihat Aruna kembali menunduk lantas menghela napasnya dengan panjang, Arthur kemudian mengambil posisi duduk tepat di dekat Aruna dan menatapnya dengan tatapan yang interest membuat Aruna semakin serba salah ketika menyadari tatapan tersebut.
"Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu untuk jangan pergi? Mengapa kau nekat sekali untuk pergi? Apa aku benar-benar tidak berarti untukmu?" ucap arti dengan nada yang mulai terdengar melembah.
"Saya hanya melakukan apa yang saya katakan kepada anda Tuan? Bukankah saya pernah mengatakannya jika jiwa kita kembali ke tubuh kita masing-masing saya akan pergi dan memulai hidup yang baru? Saya juga tidak menginginkan hal ini tapi saya harus melakukannya karena..." ucap Aruna namun kembali terhenti ketika manik matanya tak sengaja menatap manik mata Arthur saat itu.
Arthur yang melihat Aruna lagi-lagi kembali menunduk, lantas menghela napasnya dengan panjang. Diambilnya dagu Aruna secara perlahan dan di hadapkannya tepat ke arahnya agar Arthur bisa menatap manik matanya semakin dalam lagi.
"Karena apa?" tanya Arthur kemudian dengan nada yang penasaran.
"Karena.... Karena aku mencintaimu" ucap Aruna sambil langsung memejamkan matanya.
Aruna bahkan tidak lagi memikirkan apa reaksi Arthur ketika mendengar hal tersebut, yang ia pikirkan saat ini hanyalah Arthur di kepalanya. Setelah ia mendapat kejaran dari Pandu dan melihat Arthur menyelamatkannya, membuat Aruna tersadar jika ia benar-benar mencintai Arthur saat ini.
Arthur yang mendengar hal tersebut tentu saja terkejut bukan main, namun detik berikutnya langsung tersenyum. Ditatapnya raut wajah Aruna yang saat ini terlihat tengah ketakutan sambil memejamkan matanya, membuat seulas senyum kembali terlihat dari raut wajah Arthur saat itu. Perlahan-lahan Arthur kemudian mendekatkan raut wajahnya tepat ke arah telinga Aruna untuk membisikkannya sesuatu.
"Aku juga mencintaimu Aruna..." ucap Arthur dengan nada yang berbisik, membuat kelopak mata Aruna langsung terbuka lebar dengan seketika begitu mendengar perkataan dari Arthur barusan.
"Apa Tuan? Hik... Hik..." ucap Aruna yang terkejut.
Suara cegukan bahkan langsung terdengar menggema di ruangan tersebut yang berasal dari Aruna, membuat tawa kecil lantas terdengar beriringan bersama suara cegukan Aruna kala itu. Arthur bahkan tidak mengira jika perkataannya sampai membuat Aruna mengalami cegukan.
***
Setelah mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung saat ini, Felia lantas memutuskan untuk menemui Fadli. Segalanya harus diluruskan saat ini juga bersama dengan Fadli atau keadaan akan semakin runyam ketika Bagas mengetahui segalanya.
Dengan langkah kaki yang bergegas Felia terus membawa langkah kakinya masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Fadli di sana. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada sosok seorang lelaki yang saat ini tengah duduk dengan santai tepat di meja paling sudut Cafe tersebut.
"Hai Baby, apa kamu begitu merindukanku hingga menyuruhku untuk cepat datang kemari?" ucap Fadli dengan nada yang santai namun sama sekali tidak dijawab oleh Felia, yang Felia lakukan langsung mengambil duduk tepat di hadapan Fadli saat itu.
"Sekarang bukan saatnya bercanda, aku punya hal serius untuk dibicarakan denganmu saat ini." ucap Felia kemudian yang tentu saja langsung membuat raut wajah Fadli mengernyit dengan seketika begitu mendengar perkataan dari Felia barusan.
"Ada apa ini Fel? Jangan membuatku takut?" ucap Fadli kemudian yang seakan menatap ke arah Felia dengan raut wajah yang penasaran.
Felia yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung terdiam sejenak, ia menarik napasnya dalam-dalam seakan mencoba untuk mencari ketenangan sebelum mengatakan hal tersebut kepada Fadli. Entah mengapa Felia merasa ragu akan hal ini, yang Felia rasakan saat ini ia benar-benar takut dan juga khawatir jika Bagas sampai mengetahui tentang kehamilannya.
"Aku hamil dan itu karena ulahmu, tidak-tidak aku juga bersalah dalam hal ini. Namun kamu tidak perlu takut dan juga khawatir karena aku memutuskan untuk untuk mengaborsinya. Jadi kita berdua bisa sama-sama terbebas dari tanggung jawab ini, apa kamu menyetujui akan tindakan ku?" ucap Felia kemudian yang tentu saja langsung membuat Fadli terkejut dengan seketika begitu mendengarnya.
"Apa hamil? Kamu benar-benar hamil? Ini bahkan kabar yang sangat membahagiakan, ada apa dengan mu? Tidakkah kau kasihan kepadanya?" ucap Fadli yang tak habis pikir ketika mendengar perkataan dari Felia barusan yang mengatakan akan melenyapkannya.
"Apa kau sudah gila? Jika sampai Papa tahu akan hal ini pasti papa akan membuang ku dari keluarga besar Gavanza dan aku tidak menginginkan hal itu. Jadi please kumohon kepadamu jangan membuat segalanya menjadi semakin rumit, apa kau mengerti?" bentak Felia dengan seketika membuat suasana semakin hening terjadi diantara keduanya.
"Apanya yang tidak bisa Fel? Lagi pula jika kita berbicara dengan Papa mu secara baik-baik, aku yakin Papa mu pasti akan mengerti." ucap Fadli berusaha untuk menjelaskan kepada Felia.
"Sekali kubilang tidak ya tidak, mengapa kamu keras kepala sekali sih?" ucap Felia dengan nada yang mulai terdengar kesal.
"Sial, mengapa sulit sekali untuk meyakinkan dirinya?" ucap Fadli di dalam hati setelah mendengar bentakan dari Felia barusan.
***
Sementara itu di sebuah ruangan yang gelap dan juga terbengkalai, Pandu terlihat mulai mengerjakan kelopak matanya setelah pingsan selama beberapa jam. Ketika kelompok matanya terbuka dengan lebar suasana di sekitarnya begitu gelap dan juga tidak terlihat cahaya apapun. Posisi tangan Pandu benar-benar terikat begitu pula kakinya, membuat ia sama sekali tidak bisa bergerak. Sedangkan hembusan napasnya terdengar begitu kasar dan juga berat ketika ia menyadari sebuah penutup kepala lantas menutup kepalanya dengan sangat rapat.
"Aku dimana?"
Bersambung