Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Kembali berlanjut



Disaat semua tatapan beberapa pihak keluarga yang melihat kedatangan Arthur dan juga Aruna, keduanya nampak terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana semuanya berada sekedar untuk berbasa basi. Aruna yang memang sudah mengetahui dengan pasti akan ekspresi orang-orang ketika melihat kedatangannya, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan angkuh melewati beberapa pasang mata yang dimana juga terlihat Monica di sana kini tengah menatap dengan tatapan yang tidak suka ke arahnya.


Berbeda dengan Aruna yang begitu mendalami peran, Arthur yang tidak terlalu siap dan terbiasa dalam situasi seperti ini. Mendadak menjadi pusat perhatian membuatnya sedikit canggung dan merasa gugup tentunya.


"Ah sial! Mengapa aku harus terlibat dalam drama keluarga ini sih?" batin *Aruna yang masih merasa tidak terbiasa dengan jiwanya yang saat ini mendiami tubuh Arthur.


Ketika langkah kaki keduanya berhenti tepat di hadapan Bagas, Aruna yang tahu Arthur tengah gugup saat ini lantas menyenggol dengan pelan pinggangnya seakan memberi kode kepada Arthur untuk mulai berakting saat ini.


"Selamat malam Pa.." sapa Arthur dengan tersenyum singkat.


Mendapat sapaan tersebut membuat Bagas melengos dengan pelan, sambil meminum anggur di gelasnya Bagas kemudian meletakkan gelas anggur tersebut ke atas meja.


"Untuk apa kau membawanya? Bukankah Felia sudah mengatakan kepadamu bahwa malam ini adalah sebuah acara keluarga?" ucap Bagas dengan nada yang lirih namun penuh penekanan.


"Bukankah dia sebentar lagi akan jadi bagian dari keluarga Pa? Lalu tidak ada bedanya bukan? Lagi pula Papa juga mengundang Monica untuk datang, bukankah status keduanya sama di keluarga ini?" ucap Arthur dengan nada yang di buat setegas mungkin.


Mendengar Arthur yang mulai bisa bermain akting dalam satu frame bersamanya, lantas membuat Aruna tersenyum dengan tipis. Setidaknya usahanya melatih *Aruna untuk menjadi dirinya tidaklah gagal, melihat Arthur yang bisa bersikap seperti ini saja membuat Aruna bangga karena telah berhasil mendidiknya (mungkin).


"Kau..." ucap Bagas hendak memarahi Arthur namun situasi yang tidak memungkinkan untuknya membuat Bagas hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat saja tanpa bisa melampiaskannya.


"Om kenalkan saya Aruna..." ucap Aruna yang tidak tepat waktunya membuat Arthur yang mendengar hal tersebut lantas ikut terkejut dengan seketika.


"Antoni.. Sajikan hidangannya sekarang!" ucap Bagas sambil berlalu pergi begitu saja meninggalkan keduanya.


"Baik tuan..." jawab Antoni.


Bagas yang sama sekali tidak menyukai kehadiran Aruna di sana, melihat Aruna menyapanya lantas langsung berlalu pergi tanpa menanggapi sapaan Aruna kepadanya. Aruna yang mendapati hal tersebut hanya tersenyum dengan sinis kemudian berbalik badan dan menatap ke arah kepergian Bagas dengan senyuman yang licik. Arthur yang melihat semua tingkah Aruna saat ini lantas langsung menarik tangan Aruna, membuat Aruna dengan spontan menatap ke arahnya.


"Jaga cara bicara anda tuan, saya yang akan mati jika anda terus berulah seperti ini." ucap Arthur dengan nada yang berbisik, namun Aruna yang mendengar hal tersebut malah menanggapinya dengan tersenyum seakan sama sekali tidak menganggapnya sebagai beban.


"Tenanglah, aku tahu pasti sifat Papa jadi kamu tidak perlu khawatir, oke?" ucap Aruna dengan nada yang santai namun berhasil membuat Arthur langsung menelan salivanya dengan kasar.


"Yang benar saja tuan..." ucap Arthur dengan nada yang lirih sambil menatap dengan tatapan yang memelas ke arah Aruna saat ini.


***


Suasana hening benar-benar terjadi di area meja makan saat itu. Tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah kata apapun di sana tanpa perintah atau aba-aba dari Bagas sebagai tuan rumah di sini.


Sedangkan Monica yang melihat interaksi antara Arthur dan juga Aruna sedari tadi hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang tidak suka. Kedatangannya kemari adalah untuk menyambung kembali sebuah hubungan yang terputus dan itu pun atas undangan Bagas sang tuan rumah. Siapa yang menyangka ketika ia berada di sana yang terjadi malah sebaliknya, Monica menghela napasnya dengan panjang sambil sesekali memasukkan steak daging sapi ke dalam mulutnya.


"Jika tahu begini aku tidak akan pernah mau pergi kemari." ucap Monica di dalam hati dengan raut wajah yang cemberut.


Membuat Aruna yang kala itu tanpa sengaja memperhatikan Monica, lantas tersenyum dengan tipis seakan merasa bahagia akan pemandangan ini.


Klentang....


Suara dentingan sendok dan garpu yang di letakkan begitu saja oleh Bagas, lantas membuat semua orang yang saat itu sedang makan dalam keheningan kemudian terlihat mulai meletakkan peralatan makan mereka satu persatu mengikuti gerakan Bagas yang baru saja menyelesaikan makannya. Arthur yang memang pernah sekali makan malam bersama keluarga ini, ketika mendengar suara sendok dan garpu di letakkan di meja makan membuat Arthur lantas menghela napasnya dengan panjang karena harus menyelesaikan makanannya padahal ia masih ingin makan saat ini.


"Mengapa selalu saja di waktu yang tidak tepat, aku bahkan belum menghabiskan makanan ku!" ucap Arthur dalam hati dengan nada yang kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikutinya.


Sedangkan Maria yang sedari tadi melihat gerak-gerik Aruna yang seakan seperti tak asing lantas terus mengingat-ingat hal tersebut, namun semakin dipikirkan entah mengapa rasanya malah semakin tidak mungkin, membuat Maria lantas hanya mengernyit dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Aruna maupun juga Arthur.


"Mengapa rasanya aku malah melihat Arthur dalam diri Aruna? Apa ini hanya halusinasi ku saja?" ucap Maria dalam hati sambil terus menatap ke arah Aruna dan juga Arthur secara bergantian.


"Aku rasa memang ada sesuatu yang tidak beres di sini, namun apa itu sayangnya aku sama sekali tidak mengetahuinya." imbuh Maria lagi dalam hati yang yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres atau bahkan di sembunyikan oleh Arthur saat ini.


**


Sementara itu Bagas yang melihat semuanya saat ini terdiam lantas mulai menarik napasnya perlahan dan menghembuskannya dengan panjang. Bagas kemudian lantas membenarkan posisi duduknya dan bersiap untuk memberikan pengumuman kepada semua orang.


"Aku tahu kalian pasti bertanya-tanya akan alasan aku yang mengumpulkan kalian saat ini. Tidak ada alasan khusus apapun, aku hanya meminta kalian untuk datang dan menyaksikan sebuah pengumuman dimana tali silahturahmi yang sempat terputus kini akan kembali terjalin." ucap Bagas dengan nada yang datar namun berhasil mengejutkan semua orang.


Tidak hanya itu Aruna yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan segalanya, tepat ketika Bagas membahas tentang tali silahturahmi entah mengapa perasaan Aruna menjadi tidak enak dengan seketika. Tepat seperti dugaannya bahwa acara makan malam kali ini hanyalah sebagai sebuah kedok saja dan tidak lebih dari itu.


"Mulai hari ini aku memutuskan bahwa pertunangan antara Arthur dan juga Monica kembali berlanjut." ucap Bagas yang lantas membuat semua orang langsung terkejut seketika.


"Apa!" pekik Aruna yang langsung bangkit dari posisinya yang membuat suasana kian terasa aneh di sana.


Bersambung