
Kediaman Hermawan
Dari arah tangga terlihat Monica tengah menuruni satu-persatu anak tangga menuju ke arah taman rumahnya. Ada sesuatu yang ingin Monica tanyakan kepada Ayahnya saat ini juga, dengan raut wajah yang sumringah Monica nampak menuruni anak tangga dengan langkah kaki yang bergegas kemudian mulai berlarian menuju ke arah taman dimana Ayahnya biasanya sering menghabiskan waktu untuk membaca koran sambil minum kopi di sana.
Monica yang melihat tebakannya tentang Ayahnya benar, lantas terlihat bersendekap dada sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.
"Tuan Adipati Hermawan, apakah membaca koran sambil meminum kopi lebih penting ketimbang putri mu ini?" ucap Monica dengan nada yang manja sambil mengambil posisi duduk tepat di sebelah Adipati.
Adipati yang mendengar nada bicara putrinya yang manja tersebut lantas langsung tersenyum sambil meletakkan koran yang sedari tadi ia baca tepat ke atas meja. Ditatapnya Monica dengan tatapan yang bertanya-tanya seakan tengah menunggu apa lagi yang akan diminta oleh putri semata wayangnya itu kali ini.
"Katakan ada apa lagi sekarang?" ucap Adipati kemudian dengan nada yang menyindir.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Monica lantas tersenyum dengan lebar karena tahu jika Ayahnya pasti akan mengabulkan semua permintaannya.
"Soal Errando... Apa Papa..." ucap Monica sedikit ragu hendak mengatakannya kepada Adipati.
Adipati yang seakan tahu apa yang hendak dikatakan oleh Monica, lantas membuatnya langsung tersenyum seketika. Adipati kemudian bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya secara perlahan sambil memandangi ke arah kolam renang, membuat Monica lantas ikut bangkit dari tempat duduknya mendekat ke arah dimana Adipati berada.
"Untuk masalah itu kamu tidak perlu takut, Papa sudah menawarkan proyek besar sebagai imbalan jika Arthur setuju untuk menyambung kembali tali pertunangan tersebut." ucap Adipati kemudian dengan nada bicara yang datar namun mampu membuat hati Monica menjadi berbunga ketika mendengarnya.
"Apa itu benar Pah? Bagaimana jika Arthur tidak menyetujuinya? Mengingat apa yang telah aku lakukan kepadanya beberapa tahun yang lalu." ucap Monica dengan nada sendu.
Mendengar perkataan dari Monica barusan membuat Adipati langsung menoleh dengan seketika ke arah Monica. Diusapnya rambut Monica dengan perlahan kemudian tersenyum.
"Jangan khawatir, Papa masih punya seribu cara agar kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan." ucap Adipati seakan mencoba untuk menenangkan Monica.
"Terima kasih banyak Pa.." ucap Monica sambil memeluk tubuh Adipati dengan erat karena saking bahagianya ketika mendengar perkataan Adipati barusan.
**
Sementara itu di depan ruangan CEO, terlihat Arthur tengah menghentikan langkah kakinya tepat di pintu masuk ruangan tersebut. Membuat Faris yang melihat tingkah Arthur barusan lantas menatapnya dengan tatapan yang bertanya dan juga penasaran akan apa yang dilakukan oleh Arthur saat ini.
"Apa ada sesuatu?" tanya Faris kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Diam lah sebentar aku tengah menyiapkan mental saat ini. Aku yakin tuan pasti akan langsung membunuh ku begitu mengetahui apa yang akan aku katakan kepadanya." ucap Arthur dengan raut wajah yang masam.
"Sudahlah masuk saja, lagi pula kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika belum mencobanya, bukan?" ucap Faris kemudian sambil mendorong tubuh Arthur agar segera masuk ke dalam ruangan Aruna saat ini juga.
Arthur yang di dorong oleh Faris tentu saja langsung kesal dan berusaha untuk melepas dorongan tersebut kemudian mulai melangkahkan kakinya memutar dan berbalik mendorong tubuh Faris, membuat Faris yang tiba-tiba malah jadi ia yang di dorong oleh Arthur lantas berusaha untuk terbebas dari dorongan Arthur. Pada akhirnya antara Arthur dan juga Faris malah terlibat aksi saling dorong antara satu sama lain yang malah menimbulkan suara berisik di luar ruangan.
"Harusnya kau dulu yang masuk bukan aku, lagi pula kau asisten kepercayaannya bukan?" ucap Arthur sambil berusaha mendorong tubuh Faris agar bisa masuk lebih dulu ke dalam.
Namun sayangnya Faris yang tidak ingin ia menjadi pelampiasan kemarahan Aruna lantas berusaha menahan sekuat tenaga dengan kedua tangannya agar pintu tersebut tidak sampai di buka olehnya.
"Ti...dak akan pernah, jika kau mau sebaiknya kau saja yang pergi lebih dahulu!" ucap Faris sambil berusaha membalikkan keadaaan dan mulai mendorong tubuh Arthur saat ini.
**
Sementara itu di dalam ruangan CEO, Aruna yang tengah sibuk mengerjakan beberapa file yang harus ia selesaikan dalam minggu ini. Mendengar suara berisik di luar lantas membuat Aruna langsung mendongak menatap ke arah pintu ruangannya dengan tatapan yang penasaran. Aruna yang tadinya ingin mengacuhkan suara ribut-ribut itu malah menjadi terganggu ketika suara berisik itu kian menjadi-jadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi di luar? Apa mereka sedang senggang semua? Dasar pemakan gaji buta!" ucap Aruna menggerutu sambil bangkit dari posisinya.
Aruna yang sudah mulai kesal akan suara berisik di dalam, kemudian perlahan mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu masuk dan bersiap untuk mengomeli siapapun yang ada di depan pintu ruangannya dan membuat suara gaduh sedari tadi. Sambil berkacak pinggang sebentar, Aruna yang terlanjur kesal lantas langsung membuka pintu ruangannya begitu saja.
Bruk
Suara benda jatuh dengan cukup keras terdengar menggema begitu pintu ruangan kantornya di buka oleh Aruna. Mungkin lebih tepatnya bukan sebuah benda melainkan suara Arthur dan juga Faris yang jatuh ke lantai secara bersamaan, membuat Aruna yang baru saja membuka pintu ruangannya lantas menatap keduanya dengan tatapan yang bingung sekaligus bertanya-tanya akan apa yang saat ini sedang dilakukan oleh keduanya.
"Apa kalian begitu senggang? Hingga bisa bermain-main seperti ini?" ucap Aruna kemudian dengan nada yang menyindir sambil menatap ke arah keduanya dengan tatapan yang tajam.
Mendengar nada suara Aruna yang begitu ketus membuat Faris dan juga Arthur langsung menelan salivanya dengan kasar. Dengan gerakan yang bergegas begitu mendengar suara melengking milik Aruna, membuat Faris dan juga Arthur langsung bangkit berdiri sambil membenarkan baju mereka masing-masing. Arthur yang tahu Aruna tengah marah saat ini lantas langsung menundukkan kepalanya dan bersiap menerima amarah dari Aruna sebentar lagi.
"Bagus sekali kalian berdua ya? Aku bahkan..." ucap Aruna hendak memarahi keduanya namun terpotong ketika Faris mulai terdengar bersuara.
"Tunggu tuan... Ada hal penting yang harus kami bicarakan dengan anda." ucap Faris kemudian.
Bersambung