
Halaman kontrakan Aruna
Di halaman depan rumah kontrakan Aruna terlihat mobil yang dilanjukan oleh Arthur berhenti tepat di area halamannya. Seulas senyuman manis terlihat terbit dari wajah Arthur ketika ia pada akhirnya bisa berkunjung pulang ke rumah kontrakannya setelah sekian lama terus berada di Apartemen milik *Arthur.
"Akh akhirnya aku pulang juga... Ranjang ku tercinta aku datang..." ucap Arthur dalam hati sambil menatap ke arah pintu rumah kontrakannya dengan tatapan yang bahagia.
"Ingatlah untuk segera mengemasi semua barang-barang mu dan buang barang-barang yang tak terpakai. Mulai hari ini kamu akan tinggal bersama ku sampai batas waktu yang tak di tentukan." ucap Aruna yang saat ini tengah duduk di kursi belakang dengan nada yang memerintah.
Senyuman yang tadinya mengembang di wajah Arthur perlahan-lahan mulai menghilang tepat ketika mendengar perkataan dari Aruna barusan. Arthur yang tidak menyangka bahwa ini adalah tujuan Aruna ikut dengannya tadi, lantas terlihat berbalik badan dan menatap ke arah Aruna hendak melayangkan protes akan perintah tersebut.
"Tuan, bisakah anda tidak bertindak seenaknya seperti ini? Saya hanya ingin pulang ke rumah bukan mau pindahan!" ucap Arthur seakan tidak suka dengan tingkah Aruna saat ini.
"Ini perintah, tidak ada tawar menawar jadi kamu tetap harus melakukannya." ucap Aruna dengan nada yang tegas seakan tidak ingin di bantah sama sekali.
"Lagu pula saya tidak akan terus selamanya tinggal bersama dengan Tuan, bukankah sayang uang kontrakan yang sudah saya bayar selama setahun ful?" ucap Arthur mencoba untuk berdiskusi dengan Aruna, berharap Aruna mau memahami kondisinya saat ini.
"Untuk masalah itu kau katakan saja jumlahnya kepada Faris, biar Faris nanti yang akan membayarnya sebanyak dua kali lipat sekaligus sebagai uang ganti rugi untuk dirimu." jawab Aruna dengan nada yang terdengar begitu santai masih dengan menatap ke arah Ipad miliknya.
Mendengar perkataan Aruna barusan membuat Arthur semakin menekuk wajahnya dengan masam, tanpa melayangkan kembali protes kepada Aruna, Arthur yang mulai kesal akan tingkah Aruna yang konyol menurutnya, lantas langsung turun dari mobil dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke rumah kontrakannya dengan langkah kaki yang bergegas, membuat Aruna yang melihat tingkah laku Arthur barusan hanya bisa menggeleng kepalanya dengan perlahan kemudian kembali fokus menatap ke arah layar iPadnya.
"Dia benar-benar menggemaskan." ucap Aruna sambil tersenyum simpul dengan sesekali melirik ke arah kepergian Arthur yang mulai terlihat masuk ke dalam rumahnya.
***
Satu jam kemudian
Aruna yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya lantas terlihat menatap ke arah jam tangan yang melingkar dengan cantik di pergelangan tangannya. Sudah satu jam namun Arthur belum juga kembali dan keluar dari rumah kontrakannya, membuat Aruna mulai bosen terus menunggu Arthur di depan. Diliriknya beberapa kali ke arah pintu rumah kontrakan tersebut dengan tatapan yang penasaran seakan bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Arthur saat ini hingga masuk ke dalam rumahnya cukup lama.
"Seberapa banyak barang yang ia kemas? Bukankah ia hanya tinggal di rumah kontrakan, masak iya barang bawaannya sebanyak itu sampai saat ini belum keluar juga." ucap Aruna dengan tatapan yang bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan oleh Arthur saat ini.
"Aruna..." panggil sebuah suara yang ternyata berasal dari Pandu.
Melihat Pandu sudah berdiri tepat di hadapannya saat ini, lantas membuat Aruna langsung menghela napasnya dengan panjang. Entah mengapa Aruna merasa bahwa Pandu seperti sebuah parasit yang selalu saja menempel meski dimanapun ia berada. Aruna bahkan tidak menyangka jika Pandu bisa mengetahui kedatangannya dan juga Arthur kemari.
Aruna mengambil posisi bersendekap dada menatap ke arah Pandu, membuat Pandu yang melihat hal tersebut lantas tersenyum dengan tipis.
"Aku tahu jika alamat rumah mu belum berubah, sudah lama aku terus datang kemari dan mencari keberadaan mu tapi rumah mu selalu kosong dan saat ini ketika aku berhasil bertemu dengan mu tentu saja rasanya sangat bahagia, bukankah begitu?" ucap Pandu dengan tersenyum simpul namun malah membuat Aruna memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar perkataannya barusan.
"Benar-benar basi..." ucap Aruna dalam hati ketika mendengar perkataan Pandu barusan.
Aruna melengos menatap ke arah samping seakan sama sekali tak berniat untuk berbicara bersama dengan Pandu. Membuat Pandu yang melihat hal tersebut tentu saja tidak kehilangan akal dan tetap melancarkan aksinya secara intens.
"Aku begitu merindukan mu Run..." ucap Pandu namun terhenti ketika Aruna terlihat menghempaskan tangannya yang menyentuh pundak Aruna.
"Tolong jaga sikap mu, aku yang sekarang bukanlah aku yang dahulu. Jadi jangan kira kamu akan bisa menyentuh ku seperti dahulu." ucap Aruna dengan nada yang mengancam.
Pandu yang mendengar perkataan dari Aruna barusan lantas tersenyum kemudian mendorong tubuh Aruna menyudut ke arah mobil milik *Arthur, membuat Aruna yang tak bersiap akan serangan secara mendadak tersebut tentu saja terkejut dengan seketika dan hanya bisa mengikuti arah dorongan Pandu yang mengarah ke badan mobil.
"Aku adalah Pandu! Sekeras apapun kau berusaha pergi dari ku, aku akan tetap bisa menangkap mu hidup-hidup. Kau pikir dengan pakaian mu sekarang yang bermerk membuat kau di sebut nyonya besar? Tentu saja jawabannya tidak, yang ada hanyalah kau yang dijadikan seorang gundik dari para pria kaya di luaran sana termasuk dengan dia, Arthur! Bukankah begitu?" ucap Pandu dengan nada yang merendahkan sambil berusaha hendak meremas kedua gunung kembar milik Aruna di depan umum.
Aruna yang tersulut emosi karena perkataan dari Pandu barusan, lantas langsung berusaha membalik keadaan dengan menendang aset milik Pandu kuat-kuat kemudian mendorongnya ke arah kap mobil dan menempelkan kepala Pandu di sana.
"Kau pikir kau siapa? Bukankah sudah ku peringatkan kepadamu untuk tidak mengganggu ku? Sampah masyarakat seperti mu selalu saja bertindak sesuka hatinya namun sayangnya hal itu sama sekali tidak berlaku untuk ku." ucap Aruna sambil menekan kepala Pandu di kap mobil hingga membuat Pandu meringis kesakitan ketika mendapat tekanan tersebut.
"Apa.. Apaan yang kau lakukan? Apa kau ingin membunuh ku sekarang?" ucap Pandu sambil menahan rasa sakit di area kepalanya.
Bersambung