Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Keceplosan



Ruangan CEO


Felisa yang memang sedang ada perlu dengan Arthur lantas terlihat melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Felia yang melihat ruangan tersebut kosong tanpa ada seorang pun di sana, lantas mengernyit sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba mencari keberadaan Arthur di sekitaran sana namun tidak ada dimanapun.


"Tumben sepi, Arthur ke mana?" ucap Felia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


Felia yang tidak melihat keberadaan Arthur di sana, lantas mulai melangkahkan kakinya menuju ke ruang peristirahatan yang terletak di sebelah. Namun ketika Felia masuk ke dalamnya Arthur tetap tidak ada dimana pun juga, Felia yang tak ingin pulang dengan tangan kosong lantas mulai melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi sambil mencoba memutar handel kamar mandi untuk melihat apakah Arthur ada di dalam sana, hanya saja posisi pintu kamar mandi yang terkunci membuat Felia lantas mengernyit dengan seketika disaat mengetahui hal tersebut.


Tok tok tok


"Apa kamu ada di dalam Ar?" teriak Felia sambil mengetuk pintu kamar mandi, membuat Aruna yang posisinya memang sedang berada di dalam untuk memenuhi panggilan alamnya lantas langsung terkejut dengan seketika begitu mendengar suara kakaknya barusan.


"Sial!" ucap Aruna dengan nada yang lirih tepat di area dalam kamar mandi.


Felia yang tidak mendengar jawaban apapun dari balik pintu kamar mandi, lantas langsung mendengus dengan kesal sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba mencari sesuatu di sana, namun Felia tak kunjung mendapatkan apa-apa sehingga pada akhirnya membuat ia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan pribadi Arthur dan menunggu Arthur di ruangan kerjanya.


Ketika langkah kaki Felia keluar dari ruangan pribadi Arthur, pandangan matanya tertuju pada kursi kebesaran milik Arthur yang saat itu terlihat tengah kosong tanpa penghuninya. Dengan raut wajah yang bahagia Felia kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah kursi kebesaran milik Arthur dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan. Dipegangnya area pegangan kursi tersebut dengan lembut setelah itu Felia mendudukkan bokongnya tepat pada kursi kebesaran Arthur. Sambil menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, Felia terlihat begitu bahagia bisa duduk di kursi tersebut.


"Sayangnya Papa yang bodoh itu malah mempercayakan segalanya kepada Arthur, bukankah seharusnya semuanya jatuh kepada ku yang jelas-jelas adalah anak pertama keluarga ini. Ah benar-benar mengesalkan sekali." ucap Felia dengan nada yang menggerutu sambil terus memainkan kursi kerja milik Arthur tersebut.


Di saat Felia tengah sibuk dan hanyut ke dalam pemikirannya sendiri, sebuah suara pintu yang terbuka dari luar lantas mulai mengejutkan Felia. Felia yang hendak berbalik badan untuk melihat siapa yang baru saja datang, lantas langsung menghentikan gerakannya ketika sebuah suara tak asing terdengar dengan jelas di pendengarannya. Membuat Felia lantas mengernyit dengan seketika begitu mendengar suara tersebut mengatakan sesuatu yang aneh menurutnya.


"Tuan saya sungguh ingin minta maaf kepada anda karena telah bersikap arogan dan juga egois, saya..." ucap Arthur namun terpotong ketika melihat kursi kebesaran Aruna mulai berputar.


Arthur yang tadinya mengira bahwa yang sedang duduk di kursi kebesaran tersebut adalah Aruna, lantas langsung terkejut seketika begitu melihat kursi itu diputar dan yang duduk di atasnya adalah Felia. Arthur benar-benar tidak tahu jika Felia saat ini tengah berada di ruangan Aruna entah sejak kapan. Sedangkan Aruna yang posisinya berada di ruang pribadinya dan mencoba mendengar sekaligus mengintip apa yang dilakukan Felia di ruangannya, begitu mendengar sebuah suara yang tak asing yang berasal dari Arthur lantas langsung membuat Aruna menepuk jidatnya dengan pelan. Aruna benar-benar tidak menyangka bahwa Arthur akan kembali bertindak bodoh seperti ini.


Tidak hanya Arthur saja yang terkejut ketika mendengar perkataan dari Arthur barusan, Felia yang sedang berada di atas kursi kebesaran milik Arthur lantas ikut terkejut ketika mendengar perkataan Arthur yang terkesan begitu aneh bagi Felia. Keheningan terjadi diantara keduanya tepat setelah perkataan tersebut terdengar di ruangan tersebut, membuat suasana kian menjadi tidak enak ditambah lagi dengan raut wajah Arthur yang seakan sedang mati kutu saat ini.


"Tuan? Siapa yang tengah kamu maksud sebenarnya?" ucap Felia kemudian bertanya-tanya.


"Emm anu kak... tadi ada seorang klien yang sedang menunggu ku di ruangan ini, aku kira ketika tidak melihatnya di sofa klien itu berpindah duduk di kursi tersebut ketika melihat kursi milik ku tengah bergoyang-goyang sedari tadi." ucap Arthur mulai mencari sebuah alasan.


"Alasan macam apa itu, semua orang juga tahu jika aku tidak akan membiarkan siapapun menduduki kursi kerja ku! Bagaimana bisa dia malah memberikan alasan seperti itu." ucap Aruna di dalam hati yang mendengar semua percakapan keduanya di sana.


Felia yang mendengar jawaban aneh dari Arthur barusan lantas terlihat mengernyit dengan seketika. Sebuah jawaban yang aneh bagi Felia mengingat Arthur merupakan sosok yang sama sekali tidak ingin ada seseorang yang menyentuh barang-barang miliknya, bagaimana mungkin Arthur tiba-tiba membiarkannya begitu saja tanpa marah sama sekali?


"Apa kamu yakin? Bukan karena sesuatu hal yang lain?" ucap Felia yang seakan tidak percaya akan alasan dari Arthur barusan.


Mendengar pertanyaan dari Felia barusan tentu saja langsung membuat Arthur terdiam seketika, Arthur sendiri tidak tahu alasan apa yang akan ia berikan kembali kepada Felia akan pertanyaan darinya barusan. Arthur yang mulai ketakutan bahwa ia akan ketahuan, lantas mulai menegakkan badannya sambil memasang wajah yang datar Arthur kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Felia, membuat Felia lantas semakin mengernyit dengan tatapan yang bingung ketika melihat perubahan ekspresi dari wajah Arthur barusan.


"Sudahlah kak, lagi pula ada perlu apa kakak kemari? Apakah Papa yang menyuruh kakak? Atau Mommy?" ucap Arthur kemudian mencoba untuk membalikkan keadaan dan membuat Felia kembali percaya kepadanya.


Felia yang mendengar pertanyaan balik dari Arthur barusan lantas membuat raut wajahnya menjadi masam. Perubahan Arthur yang begitu cepat membuat Felia mulai muak terus bermain keluarga-keluargaan dengan Arthur saat ini. Jika saja ia tidak di wanti-wanti oleh Bagas untuk datang ke perusahaan Arthur, Felia tidak akan mau jauh-jauh datang ke tempat ini.


"Aku kemari hanya untuk memberitahumu jika nanti adalah acara makan malam keluarga. Jangan sampai tidak datang karena akan ada hal yang penting pada makan malam kali ini." ucap Felia kemudian dengan nada yang datar.


"Apa? Makan malam lagi?"


Bersambung