Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Sosok Pandu bagi *Aruna



Apartment


Dari arah pintu masuk terlihat Aruna tengah melangkahkan kakinya memasuki area Apartemen dengan langkah kaki yang perlahan, membuat Arthur yang sedari tadi sudah merasa bosan karena ditinggal sendirian tanpa alasan yang jelas dari Aruna maupun Faris. Lantas langsung tersenyum dengan raut wajah yang bahagia ketika mendengar suara langkah kaki datang dari arah pintu depan.


"Anda dari mana saja Tuan? Saya sudah menanti anda sedari tadi..." ucap Arthur dengan raut wajah yang cemberut seperti seorang anak kecil yang di tinggal pergi di rumah oleh orang tuanya.


Mendengar perkataan dari Arthur barusan lantas langsung membuat Aruna tersenyum dengan seketika. Entah mengapa melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Arthur barusan, lantas membuat Aruna tersenyum dengan spontan padahal sama sekali tidak ada yang lucu dari apa yang ditunjukkan oleh Arthur barusan, sedangkan Arthur yang melihat Aruna tersenyum malah tambah memasang wajah yang cemberut karena mengira bahwa Aruna tengah mengejeknya saat ini.


"Sudah.. Sudah.. Aku membawa pangsit kuah kesukaan mu, apa kau ingin makan bersama-sama?" ucap Aruna dengan memasang senyum simpul ke arah Arthur sambil mengusap pundak Arthur secara perlahan, kemudian setelah itu melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur tanpa rasa bersalah sama sekali.


Sementara Arthur yang mendapat perlakuan tersebut tentu saja langsung terdiam seketika di tempatnya, tidak biasanya Aruna begitu baik kepadanya sampai-sampai rela membawakan ia pangsit kuah kesukaannya. Melihat hal tersebut membuat Arthur langsung memutar badannya dan mengikuti arah langkah kaki Aruna yang kini menuju ke arah meja makan.


Melihat hal tersebut bahkan membuat kelopak mata Arthur saat ini terlihat menyipit ketika mencium bau-bau yang aneh dari Aruna, membuat Aruna langsung mengernyit dengan seketika begitu melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Arthur saat ini.


"Ada apa ini Tuan? Tumben anda baik sekali hari ini? Anda tidak sedang menyembunyikan sesuatu bukan?" ucap Arthur sambil menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang menelisik seakan mencoba mencari tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Aruna saat ini.


Hanya saja meski Arthur telah mencoba sekuat tenaga, tapi itu akan tetap terasa sia-sia karena Arthur yang memang tidak memiliki kemampuan untuk bisa membaca isi hati Aruna saat ini.


"Apa yang kau lakukan? Apa sekarang membelikan sebuah makanan seperti membelikan sebuah emas untuk mu? Aku bahkan tidak ada niatan apa-apa, ayolah jangan terlalu berlebihan!" ucap Aruna dengan nada yang santai sambil mendudukkan bokongnya di kursi meja makan.


Mendengar perkataan Aruna barusan, lantas membuat Arthur manggut-manggut karena apa yang dikatakan oleh Aruna barusan ada benarnya juga. Arthur yang sudah tidak curiga lantas mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur dan mengambil dua mangkuk kosong lengkap beserta sendok dan garpunya kemudian kembali ke meja makan dan mendekat ke arah dimana Aruna berada.


"Baiklah tuan, ngomong-ngomong terima kasih banyak pangsit kuahnya." ucap Arthur kemudian sambil tersenyum dengan lebar.


Mendengar perkataan dari Arthur barusan lantas langsung membuat Aruna tersenyum dengan seketika. Ia benar-benar puas kali ini, bukan karena ucapan terima kasih yang berasal dari Arthur melainkan rasa puas karena ia berhasil menampar telak Maria tadi di Resto. Sampai beberapa menit kemudian senyuman yang semula terlukis jelas pada raut wajahnya perlahan-lahan mulai berubah ketika Aruna teringat kembali akan sosok Pria yang mengaku bernama Pandu tadi di parkiran.


Ditatapnya raut wajah Arthur yang terlihat begitu bahagia saat ini dimana Arthur tengah sibuk dengan kuah pangsit di mangkuknya.


"Apa kamu kenal dengan yang namanya Pandu?" ucap Aruna kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Arthur.


Klontang...


Sebuah suara sendok milik Arthur yang mendadak terjatuh ke mangkuknya tepat ketika Aruna menanyakan seseorang bernama Pandu, lantas langsung mengejutkan Aruna. Aruna bahkan lebih terkejut lagi ketika melihat ekspresi raut wajah pucat milik Arthur ketika nama Pandu disebut olehnya.


"Ba...bagaimana anda mengenalnya?" ucap Arthur dengan bibir yang bergetar membuat Aruna langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung ke arah Arthur saat ini.


Mendapat pertanyaan tersebut lantas membuat Arthur terdiam dengan seketika. Lidah Arthur mendadak keluh tak bisa berkata-kata membuat Aruna yang melihat ekspresi Arthur barusan semakin dibuat kebingungan.


"Saya sudah selesai.. Terima kasih atas makanannya Tuan.." ucap Arthur kemudian sambil bangkit dari posisinya dan beranjak pergi dari meja makan seakan berusaha menghindari pertanyaan dari Aruna barusan tentang Pandu.


Sebuah pertanyaan lantas terlintas di kepala Aruna ketika melihat kepergian Arthur dari meja makan tepat setelah dirinya membahas tentang Pandu barusan.


"Pasti ada sesuatu yang tidak beres..." ucap Aruna kemudian sambil terus menatap kepergian Arthur dari meja makan.


***


Malam harinya


Di ruangan kerjanya yang terletak di Apartment, terlihat Aruna tengah menatap kosong ke arah dinding bercat putih di ruangannya. Pikiran Aruna melayang membayangkan setiap ekspresi yang ditunjukkan oleh Arthur tadi siang. Sebuah nama bisa merubah ekspresi Arthur hingga menjadi seperti itu. Padahal Aruna tadinya mengira bahwa Pandu hanyalah sebuah kenalan yang sama sekali tidak penting bagi *Aruna, namun ketika melihat ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Arthur, Aruna yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arthur akan sosok dari seorang Pandu.


"Apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua?" ucap Aruna bertanya-tanya pada diri sendiri.


Ketika Aruna tengah sibuk memikirkan tentang Pandu, sebuah ketukan pintu yang berasal dari luar ruangannya lantas membuyarkan lamunan Aruna dengan seketika.


"Masuk" ucap Aruna kemudian ketika mendengar suara ketukan pintu tersebut.


Tepat setelah mendengar suara Aruna yang mempersilahkan masuk, lantas pintu ruangannya terlihat mulai terbuka dan memperlihatkan Faris yang terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah kursi kebesarannya.


"Apa yang kau dapat? Apa kau berhasil mengetahui siapa pria itu?" tanya Aruna kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Faris saat ini.


Tepat setelah Aruna menyadari bahwa ada yang salah dengan Arthur ketika nama Pandu tanpa sengaja ia sebut, lantas membuat Aruna memutuskan untuk mencari tahu sendiri tentang sosok Pandu tanpa harus mengorek luka milik *Aruna melalui dirinya sendiri. Dan kini ketika Aruna melihat kedatangan Faris di ruangannya tentu saja langsung membuat rasa penasaran menghampiri Aruna saat ini.


Faris yang mendapat pertanyaan dari Aruna barusan lantas menyerahkan sebuah map yang berisi biodata milik Pandu dengan rinci, membuat Aruna yang menerima map tersebut lantas langsung membukanya untuk melihat apa yang telah terjadi antara *Aruna dan juga Pandu beberapa tahun yang lalu.


"Apa-apaan ini?"


Bersambung