Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Ketiduran



"Apa.. Apaan yang kau lakukan ini? Apa kau ingin membunuh ku sekarang?" ucap Pandu sambil menahan rasa sakit di area kepalanya.


Namun Aruna yang mendengar perkataan dari Pandu barusan bukannya melepaskan Pandu malah tersenyum dengan senang ketika melihat Pandu yang terus merengek minta untuk di lepaskan. Baginya hal itu merupakan sebuah kesenangan yang tersendiri bagi Aruna ketika melihat Pandu tersiksa seperti itu. Setidaknya dengan begini Aruna dapat melihat raut wajahnya yang menahan kesakitan dan meminta untuk dilepaskan.


"Sudah ku bilang jangan menyentuh ku secara sembarangan! Apa kau tidak mengerti bahasa manusia?" ucap Aruna dengan nada yang penuh penekanan membuat Pandu langsung mendengus dengan kesal.


Disaat Aruna tengah menikmati kesengsaraan dari Pandu saat ini, sebuah suara yang asing nampak terdengar menyapa telinganya membuat Aruna langsung menoleh dengan seketika.


"Apakah ada sesuatu neng Aruna?" ucap seorang satpam area komplek tersebut dengan nametag Jali di dadanya.


Aruna yang melihat seorang satpam tengah berdiri di sampingnya, lantas langsung fokus menatap ke arah nametag yang ada di dadanya. Aruna terdiam sejenak tak langsung menanggapi Jali seakan tengah mencari kebiasaan yang pas agar ia tidak di curigai.


"Jika dia memanggil *Aruna dengan sebutan neng, otomatis dia berasal dari Jawa barat bukan? Lalu berarti aku harus memanggilnya Mang, bukan... Entahlah kita coba saja!" ucap Aruna dalam hati sambil mencoba menerka-nerka.


"Dia melakukan hal yang tidak senono kepada saya mang, bisa-bisanya dia pegang-pegang saya." ucap Aruna kemudian mulai mengadu.


"Wah gak bener nih, serahin ke mang Jali aja neng biar mang Jali yang urus!" ucap Jali kemudian.


"Bohong! Sa...saya tidak melakukan apapun kepadanya!" ucap Pandu seakan menyangkal perkataan Aruna barusan.


Aruna yang mendengar sangkalan dari Pandu barusan tentu saja langsung kesal, dilepaskannya tangan Aruna dari wajah Pandu kemudian dengan spontan memukul pantat Pandu dengan keras membuatnya langsung meringis kesakitan begitu mendapatkannya.


"Aw.." pekik Pandu mengadu kesakitan.


"Bawa dia pak!" ucap Aruna kemudian sambil mendorong tubuh Pandu ke arah Jali.


"Siap neng, neng mah gak usah khawatir pokoknya." ucap Jali kemudian dengan senyuman yang lebar.


Setelah mengatakan hal tersebut Jali kemudian menyeret tubuh Pandu agar mulai mengikuti langkah kakinya, membuat Pandu hanya bisa mengikuti arah seretan dari Jali sambil berdecak dengan kesal. Pandu sesekali terlihat menatap ke arah belakang dimana Aruna juga tengah menatapnya saat ini.


"Awas saja kau Run!" ucapnya dalam hati sambil menatap kesal ke arah Aruna yang saat ini malah melambaikan tangan ke arahnya seakan seperti sedang mengejeknya sekarang.


***


Aruna yang baru saja berhasil membuat Pandu pergi dari hadapannya, lantas langsung menepuk jidatnya ketika ia baru mengingat jika Arthur tak kunjung keluar juga sedari tadi dari rumah kontrakannya. Dengan langkah kaki yang bergegas Aruna kemudian mulai membawa langkah kakinya memasuki area rumah kontrakannya dan mencari keberadaan Arthur di sana.


***


Di area dalam rumah kontrakan *Aruna


Setelah hampir memutari setiap sudut area rumah kontrakan *Aruna dan mencarinya hingga ke dalam kamar mandi. Langkah kaki Aruna kemudian lantas terhenti ketika ia sampai di kamar *Aruna dan mendapati Arthur tengah tertidur lelap sambil memeluk boneka boba sebagai guling yang menemani tidurnya. Aruna menghela napasnya dengan panjang sambil menggelengkan kepalanya secara perlahan.


"Benar-benar mengesalkan perempuan itu! Aku bahkan mengkhawatirkan dirinya sedari tadi, tapi dia? Dia malah enak-enakan tidur di sini." ucap Aruna pada diri sendiri sambil mengambil posisi bersendekap dada menatap ke arah dimana Arthur tertidur saat ini.


Aruna melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang dimana Arthur tengah tertidur. Ditatapnya Arthur yang saat ini tengah tertidur dengan lelapnya, membuat Aruna lantas menghela napasnya dengan panjang. Sepertinya Arthur benar-benar sedang lelah saat ini terlihat dari bagaimana ia tertidur dengan mulut menganga seperti itu. Tawa kecil mulai terdengar dari mulut Aruna, sampai beberapa menit kemudian barulah ia menghentikan tawanya dengan seketika.


"Sudahlah aku akan menunggunya bangun satu atau dua jam lagi, sepertinya dia benar-benar lelah." ucap Aruna pada akhirnya membuat keputusan karena tidak tega ketika melihat Arthur yang tidur seperti itu.


***


Di dalam mobil yang di lajukan oleh Arthur, terlihat Arthur menguap selama beberapa kali membuat Aruna yang mengetahui hal tersebut lantas langsung berdecak dengan kesal.


"Jika kamu mengantuk sebaiknya kita menepi saja, aku tidak mau kejadian seperti waktu itu terulang kembali. Bukankah harusnya mata mu sudah terbuka saat ini? Kau bahkan sudah tertidur seperti kerbau tadi." ucap Aruna dengan nada yang menyindir, membuat Arthur yang mendengar hal tersebut lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah.


"Ayolah Tuan.. Mengapa anda selalu mengungkit hal tersebut? Bukankah itu keterlaluan?" ucap Arthur dengan nada yang menggerutu.


"Tentu saja karena aku paling tidak suka dengan orang yang tukang tidur!" ucap Aruna dengan nada yang menyindir.


"Terserah apa kata anda Tuan!" ucap Arthur kemudian dengan nada yang menyerah karena ia pasti tidak akan bisa menang dari Aruna walau ia terus menyangkalnya.


Setelah pembicaraan singkat tersebut keheningan lantas kembali terjadi diantara keduanya, sampai kemudian Aruna kembali bersuara ketika ia mengingat akan sesuatu.


"Oh ya, kosongkan jadwal untuk besok karena kita berdua akan pergi." ucap Aruna kemudian yang lantas membuat Arthur mengernyit dengan seketika begitu mendengar perkataan Aruna barusan.


"Pergi? Pergi kemana Tuan?" ucap Arthur bertanya dengan raut wajah yang penasaran sambil sesekali menatap ke arah kaca spion untuk melihat ekspresi raut wajah Aruna saat ini.


"Ke suatu tempat, yang perlu kalian lakukan hanya diam dan jangan bertanya lagi." ucap Aruna kemudian yang semakin membuat Arthur tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Aruna saat ini.


Pada akhirnya mobil yang dilajukan oleh Arthur terus melaju membelah jalanan Ibukota menuju ke arah Apartment milik *Arthur.


***


Kantor polisi


Dari arah pintu masuk terlihat seorang pria kisaran usia 40 an tengah berlarian masuk dan mendekat ke arah dimana Pandu berada.


"Maaf saya terlambat Pak, saya adalah asisten dari orang tua Pandu beliau sedang ada urusan di luar kota jadi tidak bisa kemari." ucap pria tersebut yang lantas membuat Pandu memutar bola matanya dengan jengah.


.


.


.


.


Setelah mengurusi segala halnya, Pandu dan juga Pria itu nampak terlihat melangkahkan kakinya keluar dari kantor polisi.


"Bapak sudah menunggu anda di rumah, mari ikut saya." ucap Pria tersebut sambi memberikan jalan kepada Pandu agar mulai melangkahkan kakinya dari sana.


"Aku yakin Papa pasti akan marah kali ini, awas saja kau Run ini semua gara-gara kamu!" ucap Pandu dalam hati sambil mulai melangkahkan kakinya mengikuti Pria tersebut.


Bersambung