Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Buka matamu



"Apa yang kamu lakukan ha?" pekik Bagas sambil menarik tangan Maria saat itu.


Namun Maria yang sudah mabuk bercampur dengan perasaan marah dan juga cemburu di dalam dadanya. Membuatnya hilang kendali dan menghempaskan tangan Bagas begitu saja di depan pasang mata yang tengah menatap ketiganya saat itu.


"Kau tangan mengapa? Harusnya kau yang tanya kenapa? Disaat istri mu ada di sini kau malah asyik berduaan dengan mantan istri mu. Apa kau sudah kehilangan akal?" ucap Maria dengan nada yang meninggi saat itu.


Mendengar perkataan Maria yang kian melantur, tentu saja membuat bola mata Bagas membulat dengan seketika. Diedarkannya pandangannya saat ini dan betul saja semua mata sedang tertuju tepat ke arahnya saat ini. Tingkah laku Maria yang seperti ini benar-benar mencoreng nama baiknya di depan para koleganya sekaligus tamu undangan putrinya.


"Sial! Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan sekarang?" ucap Bagas dalam hati sambil menatap lurus ke arah depan.


"Ada apa? Apa kau terkejut aku mengatakan hal ini di depan umum? Kau tahu? Aku benar-benar sudah muak! Kau membuat ku gila setiap harinya. Selama ini kau memang bersama dengan ku tapi pikiran dan juga segalanya tentang mu tetap untuk wanita ini. Apa bagusnya dia ketimbang aku ha? Katakan apa?" ucap Maria dengan nada yang semakin berteriak.


"Tutup mulut mu! Sebaiknya kita pergi dan jangan buat keributan disini." ucap Bagas yang seakan enggan menjawab perkataan dari Maria barusan.


Sambil menyeret tangan Maria pergi dari sana, Bagas terus melangkahkan kakinya membelah kerumunan saat itu. Namun lagi dan lagi Maria kembali menghempaskan tangan Bagas begitu saja. Mendapati hal tersebut Bagas menarik napasnya dalam-dalam wanita ini suka sekali mencari keributan dan hari ini adalah yang paling parah baginya.


"Hentikan semua ini dan cepat ikuti aku!" ucap Bagas dengan nada penuh penekanan.


"Apanya yang berhenti? Kau bilang berhenti? Yang harusnya berhenti itu aku, kamu atau dia? Lihatlah wajahnya yang sok polos itu! Kau lihat? Kau yang begitu naif bisa-bisanya dipermainkan wanita seperti dia. Dia pergi dan meninggalkan anak-anak mu tapi setelah uang yang ia miliki habis, mendadak ia datang dan memainkan peran seakan ia adalah wanita yang terzalimi selama ini. Buka matamu.. Apakah mata mu itu benar-benar sudah tertutup dengan api asmara hingga tidak bisa melihat segala sesuatunya." ucap Maria dengan nada yang menyindir sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alina mencoba untuk mempermalukan Alina.


Byur....


Segelas wine yang serupa mengalir deras dari ujung rambut hingga baju Maria saat itu. Membuat Maria yang mendapati hal tersebut tentu saja terkejut bukan main, karena tidak menyangka jika Alina akan melakukan hal ini kepadanya.


"Kau..." ucap Maria dengan raut wajah yang terkejut.


"Ada apa? Lagi pula kau sudah membuat image ku begitu buruk di mata mereka semua. Apa menurut mu aku akan diam saja seperti wanita lain di drama ikan terbang? Jangan pernah berharap, sudah cukup kesabaran ku selama ini! Asal kamu tahu Nyonya.. Kedatangan ku kemari hanya untuk melihat pernikahan Putri ku atas undangan Putra ku. Apa hak mu melarang ku untuk datang?" ucap Alina yang tidak ingin tinggal diam begitu saja.


Cukup sudah segala kebahagian Alina hancur di renggut oleh orang tua Bagas dahulu. Saat ini ketika ia berdiri di kakinya sendiri, Alina pastikan jika ia tidak akan kembali mengalah seperti dahulu.


Mendengar setiap ucapannya di potong oleh Alina, lantas membuat Maria mengepalkan tangannya dengan erat. Maria yang tidak terima akan sikap Alina yang mempermalukannya lantas terlihat bersiap memukul Alina dengan gelas di tangannya. Namun di saat ia baru saja mengangkat tangannya saat itu, respon Bagas yang langsung melindunginya lantas menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


Pyar...


Gelas itu jatuh begitu saja berserakan di lantai, sikap Bagas yang lebih memperhatikan dan membela Alina benar-benar membuatnya terkejut saat itu.


***


Ditepuknya pundak Arthur saat itu, membuat Arthur lantas langsung menoleh dengan seketika ke arah Aruna.


"Ada apa?" tanya Arthur dengan raut wajah yang penasaran.


"Tidakkah harusnya kamu memisah keduanya? Semua orang tengah menyaksikannya saat ini, jika kamu tidak bertindak hal ini akan menjadi tranding topik di berita." ucap Aruna dengan raut wajah yang khawatir.


Mendengar perkataan Aruna barusan bukannya segera bergerak, yang Arthur lakukan malah bersendekap dada dan menatap santai ke arah depan. Membuat Aruna yang mendapati hal tersebut tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung.


"Jangan terlalu terburu-buru, aku benar-benar menikmati drama keluarga ini. Lagipula sebentar lagi akan ada beberapa hal yang mulai terungkap ke permukaan. Pastikan saja kamu menyimaknya, jika memang masalah ini akan tersebar.. Bukankah bagus itu nenek sihir itu, setidaknya mereka semua akan tahu jika image istri dan juga Ibu idaman hanyalah sebagai hiasan saja untuknya." ucap Arthur dengan nada yang terdengar begitu santai saat itu.


"Apa maksud perkataan mu sebenarnya?" ucap Aruna yang tidak mengerti akan perkataan Arthur barusan.


"Tidak perlu kamu pikirkan, cukup fokus dan perhatikan segalanya. Aku pastikan akan ada tontonan menarik sebentar lagi." ucap Arthur kembali sambil tersenyum dengan simpul.


***


Maxim yang melihat situasinya sudah semakin memanas tentu saja mencoba untuk bertindak. Dengan langkah kaki yang lebar Maxim mulai mendekat ke arah Maria dan memegang tangannya saat itu. Membuat Maria langsung menoleh ke arah Maxim dengan seketika.


"Ma sudahlah Ma... Jangan seperti ini.... Semua orang sedang menatap aneh ke arah Mama, apakah Mama tidak menyadarinya?" bisik Maxim yang lantas membuat Maria menoleh ke arah sekeliling.


"Biar saja Max.. Biar mereka tahu ji perempuan ini sama sekali tidak tahu malu! Biar mereka sekalian tahu juga jika selama ini suami Mama sendiri masih menyimpan cinta yang begitu besar kepada mantan istrinya!" ucap Maria dengan kesetanan saat itu.


"Max bawa Ibumu pergi sekarang!" ucap Bagas dengan nada yang terdengar begitu datar.


Disaat situasi tengah begitu tegang saat ini, sebuah rekaman vidio beserta suara yang begitu jernih terdengar mulai berputar di layar besar dekat panggung Pernikahan saat itu. Semua tamu undangan yang juga ikut menyaksikan vidio tersebut, tentu saja langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Apa-apaan itu!" ucap Maria dengan raut wajah yang terkejut.


Bersambung