
Setelah perintah untuk mengosongkan area ballroom hotel terdengar, suasana hening nampak terjadi di ruangan tersebut menyisakan Felia, Arthur, Faris, Fadli dan juga Aruna di sana.
Felia yang seakan santai dengan apa yang terjadi saat ini, lantas terlihat mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah dimana Aruna dan juga Fadli berada kemudian mengambil posisi bersendekap dada menatap lurus ke arah depan.
"Lepaskan dia Fad, kau belum tahu bagaimana marahnya Arthur jika kau berani melukai barang berharga miliknya!" ucap Felia dengan nada yang terdengar santai, namun berhasil membuat Fadli sedikit merasa ragu dengan tindakannya saat ini.
"Persetan dengan hal tersebut, lagi pula tidak ada bedanya jika aku melakukannya atau tidak. Aku yakin dia akan tetap memburu ku setelah ini." ucap Fadli sambil terus menekan area leher Aruna, membuat Aruna meringis kesakitan karenanya.
Fadli yang tentu saja tahu jika Arthur tetap akan memburunya, lantas terlihat mulai mengambil langkah kaki mundur secara perlahan. Membuat Arthur yang mendapati hal tersebut terlihat mulai mengepalkan tangannya.
"Lepaskan Aruna sekarang juga selagi aku masih bersikap baik kepadamu, aku sudah menuruti perkataan mu dengan mengosongkan tempat ini. Jadi sekarang kau juga harus menuruti perkataan ku." ucap Arthur sambil mulai mengikuti langkah kaki Fadli yang terus mundur mendekat ke arah pintu saat itu.
Mendengar perkataan Arthur barusan lantas membuat Fadli mulai tersudut. Ia tentu tidak sebodoh itu dan melepaskan Aruna dari genggaman tangannya. Namun membawa Aruna bersama dengannya tentu saja sangat beresiko tinggi, yang mungkin saja akan menuntunnya ke arah lubang neraka yang lainnya lagi.
"Tapi dia hanyalah seorang wanita, aku yakin sebuah kata cinta tidak pernah ada di kamus orang kaya seperti mereka." ucap Fadli dalam hati seakan berusaha untuk meyakinkan dirinya saat itu.
"Ku mohon lepaskan aku... Aku.. Janji akan membantu mu melarikan diri dari Arthur.. Jika kau mau melepaskan aku.." ucap Aruna dengan nada yang terdengar lirih sambil menahan rasa sakit di area lehernya yang sudah tergores saat itu.
"Diam kau jangan berisik, ikuti saja aku..." ucap Fadli sambil terus menarik Aruna agar mengikuti langkah kakinya saat itu.
Fadli menarik Aruna keluar dari Ballroom saat itu dengan langkah kaki yang bergegas, membuat Aruna yang mendapati hal tersebut hanya bisa pasrah dan mengikuti arah tarikan Fadli saat itu.
Arthur yang melihat langkah kaki Fadli yang semakin bergegas menuju ke arah lorong, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya dengan sejenak membuat Faris menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang mengernyit.
"Hentikan operasi lift di area hotel ini, aku yakin ia akan kabur dan membawa Aruna melalui lift." ucap Arthur memberikan perintah sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Felia dan juga Faris.
Faris yang baru saja mendapatkan perintah, lantas langsung melangkahkan kakinya secara berlawanan arah dengan Arthur sambil menelpon seseorang. Membuat Felia yang mendapati keduanya pergi begitu saja, hanya mendengus dengan kesal sambil menatap ke arah punggung Arthur yang terlihat semakin menjauh saat itu.
"Tidak bisakah Fadli melakukan hal yang benar? Jika ingin kabur harusnya kabur saja, apa-apaan dia malah melakukan hal tersebut dan membuat masalah semakin besar!" ucap Felia dengan raut wajah yang kesal akan sikap Fadli yang terkesan pengecut itu.
***
Area tangga darurat lantai 6
Alina yang di tarik paksa sedari tadi, lantas terlihat menghempaskan tarikan tangan Maria yang terus membawanya menaiki satu persatu anak tangga saat itu. Entah kemana Maria akan membawanya, namun yang jelas Alina tidak bisa hanya diam saja seperti ini tanpa melakukan sesuatu sama sekali.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan ha?" pekik Alina dengan raut wajah yang kesal.
"Kau benar-benar sudah tidak waras! Jika kau menginginkannya ambil saja, aku sama sekali tidak berminat untuk berebut dia dengan mu." ucap Alina sambil tersenyum tipis sebelum pada akhirnya berbalik badan hendak berlalu pergi dari sana.
Melihat sikap acuh tak acuh yang di tunjukkan oleh Alina saat itu, lantas membuat Maria semakin kesal. Dijambaknya rambut area belakang Alina saat itu dengan kuat sambil kemudian menyudutkannya ke arah pegangan tangga. Maria yang saat itu tengah berada dalam pengaruh alkohol lantas mencengkram dengan kuat leher Alina tanpa peringatan, membuat Alina semakin tersudut karena posisinya yang sama sekali tidak baik saat ini.
"Aku tidak akan bisa tenang jika kau masih hidup, akan aku pastikan kau mati agar Bagas tidak bisa melihat mu lagi hahahaha!" ucap Maria dengan tawa yang menggema di ruangan tersebut.
Disaat situasi sedang tidak terkendali saat itu, dari arah pintu masuk area tangga darurat sebuah suara yang sama sekali tidak Maria harapkan lantas terdengar dan membuyarkan segalanya.
"Lepaskan dia Maria! Apa yang kau lakukan?" pekik sebuah suara saat itu.
"Pa...pa.." ucap Maria dengan raut wajah yang terkejut.
Melihat Maria yang mulai lengah ketika itu, lantas membuat Alina memanfaatkan situasinya dengan mendorong tubuh Maria dengan kuat. Hanya saja sepertinya Alina salah perhitungan saat itu, dimana tepat ketika ia mendorong tubuh Maria dengan kuat. Cengkraman tangan Maria yang menempel dilehernya, lantas membuatnya tertarik dan jatuh ke arah belakang melewati pembatas tangga. Sedangkan Maria tubuhnya menggelinding begitu saja menuruni anak tangga dengan cepat akibat dorongan tersebut.
Bruk
***
Fadli yang terus berusaha kabur saat itu lantas terlihat menghentikan langkah kakinya di depan pintu lift. Hanya saja setelah berusaha mencoba menekan tombol lift berulang kali, pintu lift tidak kunjung terbuka juga membuat Fadli lantas berdecak dengan kesal karenanya.
"Disini sudah tidak ada siapapun kau boleh pergi, asalkan lepaskan aku.. Ku mohon..." ucap Aruna dengan nada yang lirih.
"Diam dan ikuti saja aku, kau cerewet sekali. Lagi pula meski aku melepaskan mu sekarang Arthur tetap akan memburu ku!" ucap Fadli dengan nada yang kesal sambil menyeret Aruna agar mengikuti langkah kakinya saat itu.
"Lepaskan aku!" ucap Aruna yang mulai terlihat memberontak ketika sadar jika Fadli tidak akan melepaskannya dengan mudah.
Fadli yang seakan menulikan pendengarannya terlihat terus menyeret Aruna agar mengikuti langkah kakinya. Karena tidak ada jalan lain lagi selain tangga darurat, membuat Fadli mau tidak mau lantas mulai melangkahkan kakinya memasuki area tangga darurat.
Entah ini adalah sebuah kebetulan atau tidak, tepat ketika Fadli dan juga Aruna baru saja masuk ke dalam tangga darurat saat itu. Sebuah suara teriakan terdengar nyaring di telinga keduanya, tak lama setelah itu sebuah benda besar jatuh begitu saja menimpa keduanya dari atas.
Bruk....
Bersambung