
Di kamar Apartment Arthur
Di sofa yang terletak di kamar tersebut terlihat Arthur tengah mengompres jidatnya yang saat ini terlihat memerah akibat benturan antara kepala yang dilakukan olehnya dan juga Aruna tadi. Sedangkan Aruna saat ini masih pingsan akibat dari benturan tadi, sepertinya karena jarang olahraga fisik Aruna lebih lemah daripada Arthur. Mengingat ia yang juga baru mengalami kecelakaan sehingga ketika Aruna terlalu memforsir tenaganya maka tubuhnya tidak akan kuat menanggung beban tersebut.
Faris melirik sekilas ke arah Aruna yang saat ini masih menutup matanya tersebut dengan perasaan yang penuh khawatir, kemudian berganti melirik ke arah Arthur yang tanpa dosa dan dengan santainya terus menatap ke arah layar laptop melihat kembali sebuah drama tentang pemindahan jiwa, membuat Faris lantas mendengus dengan kesal ketika melihat tingkah Arthur yang seperti itu. Faris yang mulai tidak sabaran dan sedikit emosi lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Arthur berada dan langsung menutup layar laptop di hadapan Arthur begitu saja. Melihat hal tersebut tentu saja membuat Arthur kesal dan langsung mendongak sambil menatap tajam ke arah Faris yang terlihat tengah bersendekap dada menatap ke arahnya.
"Ada apa dengan ekspresi mu itu? Lagi pula tuanmu itu tidak akan mati hanya karena benturan ringan seperti itu." ucap Arthur dengan nada yang santai membuat Faris lantas melotot dengan tajam begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Arthur barusan.
"Aku memang tidak terlalu tahu akan masalah pemindahan jiwa, tapi aku harap kau tidak melakukan yang tidak-tidak sehingga membuat nyawa tuan Arthur terancam karena cara sesat mu itu!" ucap Faris dengan nada penuh penekanan seakan memperingatkan Arthur agar tidak macam-macam dan mencari cara aneh yang membahayakan jiwa Arthur di dalam tubuh Aruna saat ini.
Sedangkan Arthur yang mendengar kata-kata peringatan yang keluar dari mulut Faris barusan, hanya mendengus dengan kesal. Di dalam isi kepala Faris yang ada hanyalah tuan tuan tuan dan tuan. Selalu saja seperti itu, segala hal yang berurusan dengan Arthur adalah prioritasnya sedangkan yang lainnya adalah minoritas. Dan pada akhirnya jiwa *Aruna yang saat ini mendiami tubuh Arthur hanya bisa cemberut ketika mendengar perkataan dari Faris, meskipun kenyataannya semua hal yang di lakukan oleh *Aruna adalah untuk mengembalikan jiwa keduanya pada tubuh masing-masing.
"Apapun yang aku lakukan selalu saja salah, dasar!" gerutu *Aruna dalam hati namun tidak bisa berkata apa-apa lagi selain hanya diam dan mendengarkan omelan Faris.
***
Malam harinya
Di dalam kamar Apartemen Arthur, terlihat Aruna mulai mengerjakan kelopak matanya selama beberapa kali. Sebuah cahaya yang begitu terang mulai menusuk retinanya dan pada akhirnya membuat Aruna mau tidak mau harus bangun dari tidurnya. Sambil memegang pelipisnya yang terasa berdenyut dan tentu saja sakit, Aruna mulai bangkit dari posisinya dan mengedarkan pandangannya ke area sekitar. Aruna yang mengingat kejadian sebelum ia pingsan, lantas mendengus dengan kesal disaat ia teringat kembali akan cara konyol yang ia lakukan atas arahan dari jiwa *Aruna.
"Dasar Aruna... Awas saja kalau sampai ketemu!" ucap Aruna dengan nada yang kesal ketika kembali mengingat kebodohannya yang mau saja melakukan hal tersebut tanpa dasar pertimbangan yang jelas.
Aruna yang mulai merasa perutnya keroncongan lantas perlahan-lahan mulai bangkit dari tempat tidur sambil terus mengusap area pelipisnya yang terasa sakit akibat benturan dengan kepala Arthur tadi, dengan melangkahkan kakinya secara perlahan Aruna terlihat mulai keluar dari kamar Apartemennya dan melihat keadaan sekitar sambil mencari keberadaan Arthur di sekitaran sana. Namun sayangnya meski Aruna sudah hampir mengelilingi area Apartemennya, Arthur sama sekali tidak terlihat dimanapun juga. Membuat Aruna lantas mengernyit karena tidak mendapati kehadiran Arthur dimanapun.
"Apa dia sedang keluar? Cih aku bahkan hendak memarahinya tapi dia sudah tidak ada di sini." ucap Aruna dengan berdecih sambil menetap ke arah sekitaran seakan masih mencari keberadaan Arthur di sana.
Krucuk-krucuk...
"Sialan... Apa dia benar-benar sedang menguji ku saat ini?" ucap Aruna kembali menggerutu ketika tak mendapati Arthur di Apartemennya.
Dengan langkah kaki yang terpaksa, pada akhirnya membuat Aruna mau tidak mau lantas malah mencari keberadaan Arthur di luar Apartment. Meski tidak terlalu yakin bahwa Arthur sedang berada di bawah atau bahkan masih di area Apartment, tapi setidaknya Aruna tetap harus mencarinya bukan? Jika Aruna benar-benar ingin memakan pasta tersebut.
Sambil melangkahkan kakinya dengan malas, Aruna terlihat mulai melangkahkan kakinya keluar di mulai dari lobi, taman, parkiran dan terakhir area kolam renang. Aruna yang memang dalam posisi lapar, ketika ia tak kunjung menemukan keberadaan Arthur dimanapun, membuat Aruna kian menjadi kesal akan hal tersebut. Sampai kemudian ketika Aruna yang sudah hampir menyerah dengan keberadaan Arthur yang tak kunjung ketemu juga, lantas menghentikan langkah kakinya ketika ia tak sengaja melihat seseorang yang tak asing di ingatannya tengah duduk termenung di tepi kolam renang. Aruna yang melihat hal tersebut tentu saja langsung mengerutkan keningnya dengan bingung seakan bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan oleh Arthur di tepi kolam seperti itu.
Aruna yang penasaran akan apa yang sedang dilakukan oleh Arthur di sana, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arthur sambil bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan oleh Arthur sebenarnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sedang mencari wangsit?" tanya Aruna dengan nada yang ketus dan tentu saja langsung membuyarkan lamunan Arthur dengan seketika.
Arthur yang mendengar sebuah suara tak asing di telinganya lantas dengan spontan mendongak ke arah sumber suara kemudian bangkit ketika melihat Aruna tengah berdiri di sisinya saat ini. Arthur yang melihat Aruna tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang kesal, lantas tersenyum dengan garing seakan berusaha untuk mencairkan suasana saat ini, membuat Aruna yang melihat senyuman tersebut langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Arthur barusan.
"Apa anda tahu jika saat ini adalah malam bulan purnama penuh tuan?" tanya Arthur kemudian yang lantas membuat Aruna mengernyit dengan bingung akan arah dari pembicaraan Arthur barusan.
"Bulan Purnama merupakan sebuah fenomena dimana bulan terletak di belahan bumi sehingga tidak tersinari oleh matahari. Karena satu fase bulan lamanya 29,5 hari, maka bulan purnama biasanya terjadi di antara hari ke-14 dan 15 dalam kalender lunar. Ada beberapa mitos yang terkandung ketika bulan purnama terjadi dan saya ingin membuktikan hal tersebut." ucap Arthur kembali menjelaskan.
"Apa maksud ucapan mu?" tanya Aruna yang tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Arthur barusan.
"Maafkan saya tuan..." ucap Arthur kemudian.
Byur....
Bersambung