Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Tertukar?



"Arthur..." ucapnya dengan bibir yang bergetar.


Melihat putranya berada di tempat yang sama dengannya tentu saja membuat Alina terkejut sekaligus senang. Alina melangkahkan kakinya dengan perlahan mendekat kemudian bersembunyi di salah satu sudut dinding sebelah tangga darurat, Alina benar-benar tahu jika itu adalah Arthur putranya. Tidak hanya karena feeling setiap hari, setiap detik dan setiap jam Alina selalu tak pernah melewatkan informasi sedikitpun tentang Arthur. Semua surat kabar dan juga majalah selalu membahas tentang Arthur seorang pebisnis muda yang berhasil dalam membentuk usahanya, membuat Alina selalu saja tahu kabar dan perkembangan Arthur melalui surat kabar bisnis maupun majalah.


Alina bersyukur jika putranya adalah seorang pebisnis terkenal jadi ia bisa memantau sekaligus melihat wajah putranya melalui surat kabar dan juga majalah ketika ia tengah merindukan putranya ketika mengadu nasib di negeri orang.


"Arthur..." ucapnya lagi dengan nada yang lirih namun masih bersembunyi di sudut tembok.


Entah mengapa Alina bersembunyi, hanya saja Alina seakan tidak berani untuk menemui putranya padahal kedatangannya kembali ke tanah air adalah untuk bertemu dengan putranya.


Di saat Alina tengah bersembunyi di salah satu sudut tembok yang terletak di tangga darurat, dari arah yang tak jauh dari keduanya berada nampak Aruna dan juga Faris tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang kesal mendekat ke arah di mana Arthur berada. Baik Aruna maupun Faris benar-benar kesal karena Arthur malah enak-enakan duduk di saat mereka berdua tengah serius bekerja.


Aruna yang menghentikan langkah kakinya tepat di depan Arthur, lantas mengambil posisi bersendekap dada dan menatap tajam ke arah Arthur saat ini, membuat Arthur lantas menghembuskan napasnya panjang kemudian tersenyum dengan garing menatap ke arah Aruna saat ini.


"Apakah kau bosnya di sini? Bagus sekali ya? Bagaimana kursinya, apakah sangat empuk?" ucap Aruna dengan nada yang menyindir.


"Saya hanya istirahat sebentar Tuan, berilah saya waktu jeda saya janji tidak akan lama." ucap Arthur dengan nada yang memelas.


"Aruna bangun!" ucap Aruna dengan tegas namun berhasil membuat Alina mengernyit ketika mendengarnya.


Mendengar namanya di sebut tentu saja membuat Arthur menatap dengan cemberut ke arah Aruna saat ini. Sambil mulai bangkit dengan perlahan Arthur nampak menatap kesal ke arah Aruna saat ini.


"Tuan muda Arthur yang terhormat bukankah anda mengatakan akan bersikap lebih lembut lagi? Apakah anda tidak ingin segera kembali? Ayolah Tuan..." ucap Arthur dengan nada yang merengek.


Melihat hal tersebut tentu saja membuat Faris memutar bola matanya dengan jengah, selalu saja seperti ini jika *Arthur memarahinya. Agak mengesalkan namun juga terasa aneh bagi Faris mengingat jika *Arthur adalah sosok yang berwibawa namun ketika jiwa *Aruna berada di tubuhnya, sikap *Arthur benar-benar berubah dan terkadang membuat Faris geli ketika melihat *Arthur lemah gemulai seperti itu.


"Meski aku tahu itu bukan Tuan, tapi mengapa rasanya masih terasa aneh?" ucap Faris dalam hati.


"Perbaiki sikap mu! Sudah ku bilang jika sedang berada di luar jadilah seorang..." ucap Aruna namun terpotong dengan perkataan Arthur.


"Seorang Arthur Alterio Gavanza, saya sudah tahu Tuan bahkan hal itu sudah tertanam di kepala saya!" ucap Arthur memotong pembicaraan Aruna.


Mendengar hal tersebut membuat Aruna lantas menghela napasnya dengan panjang, berbicara dengan Arthur haruslah secara perlahan dan lebih lembut. Apalagi ketika Aruna mengingat jika ingin kembali ke raga mereka masing-masing, Arthur dan juga Aruna harus membangun perasaan antara satu sama lainnya dan hal itu membuat Aruna semakin pusing mengingat tingkah laku Arthur yang menyebalkan.


"Baiklah-baiklah tapi tidak di sini, kita istirahat sejenak sambil mengisi perut kita di counter makanan." ucap Aruna kemudian pada akhirnya mengalah.


"Apakah itu sungguhan? Seorang Tuan muda makan di mall?" ucap Arthur dengan semangat.


"Ssttt kecilkan suara mu nanti ada orang yang mendengarnya!" ucap Aruna yang lantas membuat Arthur terdiam seketika.


"Tentu saja Tuan..." jawab Arthur dengan nada yang berbisik.


"Tentu saja Tuan, saya permisi.." ucap Faris kemudian berlalu pergi dari hadapan keduanya.


Setelah kepergian Faris dari sana, baik Aruna dan juga Arthur terlihat mulai melangkahkan kakinya dan melanjutkan survei mereka sambil menunggu Faris yang tengah memesankan makanan untuk mereka.


Disaat keduanya berlalu pergi dari sana, Alina nampak melangkahkan kakinya keluar dari tempat persembunyiannya dengan tatapan yang tidak mengeti akan segala hal yang terjadi. Apa yang ia lihat benar-benar membuatnya pusing dan juga bingung. Antara perempuan yang dipanggil Arthur sedangkan Arthur yang dipanggil Aruna, benar-benar membuat Alina tidak mengerti.


"Apakah jiwa mereka berdua tertukar? Sepertinya itu tidaklah mungkin, apakah mereka berdua tengah berakting? Tapi untuk apa? Jika hanya mereka berdua mungkin masih terlihat seperti sepasang kekasih namun Pria yang satunya, mengapa ia juga ikut memanggil wanita itu Tuan? Ada apa sebenarnya ini?" ucap Alina dengan raut wajah yang bingung menatap ke arah punggung keduanya yang terlihat tengah melangkahkan kakinya menyusuri area mall.


***


Salah satu counter makanan yang terkenal di mall tersebut terlihat Aruna, Arthur dan juga Faris tengah duduk dan menikmati sebuah menu olahan mie yang begitu kenyal di lidah mereka. Meski terasa aneh di lidah Aruna, namun ternyata ramen sangatlah enak ketika msauk ke lidah medoknya.


"Apa kau sungguh tidak pernah memakan ramen? Mengapa sampai seperti itu?" ucap Aruna yang menatap aneh ke arah cara makan Arthur saat ini.


"Tentu saja Tuan, ini adalah ramen pertama saya." ucap Arthur dengan raut wajah yang bahagia.


"Cih, dasar..." ucap Aruna sambil tersenyum simpul.


Sedangkan Faris yang melihat tingkah keduanya seperti itu hanya menatap dengan santai sambil menikmati makanannya saat ini. Sepertinya Faris sudah mulai terbiasa saat ini akan tingkah laku keduanya yang terkadang aneh namun juga terkadang saling perhatian.


Aruna yang baru selesai makan lantas mengelap mulutnya menggunakan sebuah tisu dan menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang intens.


"Bagaimana soal itu? Apakah kamu sudah mulai memikirkan segalanya dan membuka hatimu? Waktu kita tinggal 2 minggu lagi dari sekarang." ucap Aruna kemudian yang lantas langsung menghentikan gerakan tangan Arthur yang tengah menikmati kuah ramen.


"Sepertinya sudah mulai namun sedikit, bersikaplah lebih manis lagi Tuan... Jika anda lebih baik hati lagi mungkin aku akan langsung jatuh cinta kepada anda." ucap Arthur dengan nada yang terdengar manja namun berhasil membuat Faris tersedak ketika mendengarnya.


Uhuk uhuk..


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arthur kemudian.


"Maaf aku akan ke toilet sebentar." ucap Faris kemudian karena sepertinya pembicaraan keduanya membutuhkan sebuah privasi.


Setelah kepergian Faris dari sana Arthur lantas sedikit mencondongkan dirinya ke arah Aruna, membuat Aruna sedikit mengernyit.


"Tapi apakah anda yakin, cara ini bisa membuat kita kembali ke tubuh kita masing-masing? Kita bahkan bertukar jiwa karena sebuah kecelakaan, bagaimana mungkin kita kembali hanya dengan sebuah ciuman?" ucap Arthur dengan nada sedikit lirih berharap tidak ada yang mendengarnya.


"Apa? Bertukar jiwa?" ucap sebuah suara seorang wanita yang duduk tepat di belakang kursi keduanya, membuat Aruna dan juga Arthur langsung menoleh dengan seketika.


Bersambung