
Keesokan paginya
Arthur yang terkejut ketika melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 7. 20 lantas terlihat langsung bangkit dari tidurnya dengan kemeja yang sudah acak-acakan. Arthur menggaruk rambutnya yang tidak gatal kemudian menatap ke arah ranjang dan kembali terkejut ketika ia melihat di sana sudah kosong tak ada siapapun.
"Matilah aku... Bagaimana aku bisa kesiangan? Tuan Arthur pasti akan sangat marah kepada ku!" ucap Arthur dengan nada yang terlihat begitu panik.
Arthur yang tidak ingin menyianyiakan waktu lagi lantas berlarian memasuki area kamar mandi untuk sekedar membasuh mukanya tanpa harus mandi atau ia akan semakin memakan waktu yang lama, baru setelah itu menuju walk in closet dan mengambil kemeja plus jas dengan serampangan dan tak ketinggalan dasi juga jam tangan karena itu adalah salah satu ciri khas dari seorang Arthur yang tak pernah absen.
Dengan gerakan yang terburu-buru Arthur mulai memasang satu persatu pakaiannya, setelah di rasa pas ia lantas melangkahkan kakinya dengan terburu-buru keluar dari kamar hendak pergi ke kantor saat itu juga.
"Arggg benar-benar sial." ucap Arthur sambil berusaha memasang dasi di lehernya dengan gerakan yang terburu-buru.
Di tengah langkah kakinya yang bergegas Arthur yang mendengar sebuah suara tak asing di pendengarannya, lantas menghentikan langkah kakinya begitu mendengar suara tawa dari area dapur Apartment ini.
"Bukan kah itu suara tuan dan.... Faris!" pekik Arthur yang terkejut ketika mendengar bahwa suara Faris juga ada di sini.
"Apa aku ketinggalan berita baru?" ucapnya lagi sambil bertanya-tanya.
Arthur yang tidak ingin hanya menerka-nerka saja lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah sumber suara.
**
Dapur
Arthur yang baru saja tiba di area meja makan begitu melihat Faris tengah sibuk menyajikan satu persatu makanan di hadapan Aruna sambil sesekali berbincang, lantas terlihat mengernyit dengan tatapan yang bingung seakan bertanya-tanya apa yang tengah keduanya lakukan saat ini tanpa dirinya.
Arthur yang melihat keduanya di area meja makan pada akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Arthur dan juga Faris berada saat ini.
"Tuan mengapa pakaian anda santai sekali? Bukankah seharusnya pakaian formal karena kita akan berangkat bekerja? Lagi pula mengapa Faris juga sangat santai ini sudah pukul 7. 20 lebih, bukankah kita akan terlambat nantinya?" ucap Arthur yang tidak mengerti akan kondisi yang sebenarnya terjadi saat ini sehingga hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan yang kebingungan dan juga bertanya-tanya.
Mendengar sebuah suara dengan tiba-tiba lantas membuat Aruna dan juga Faris menoleh ke arah sumber suara. Baik Faris maupun Aruna yang melihat penampilan Arthur acak-acakan seperti itu malah saling pandang antara satu sama lain, terlebih lagi Faris yang baru kali ini melihat tuannya berpakaian dengan berantakan seperti itu padahal dulu Arthur terkenal begitu rapi dan juga perfeksionis.
"Benar-benar dua kepribadian yang berbeda..." ucap Faris dalam hati sambil menatap ke arah Arthur dari atas hingga bawah.
"Apa-apaan penampilan mu itu? Benar-benar merusak citra seorang Arthur Alterio Gavanza!" pekik Aruna dengan kesal ketika melihat *Aruna memakaikan pakaian secara serampangan ke tubuhnya, sungguh tidak mencerminkan kewibawaan sama sekali.
"Tuan itu tidaklah penting, ini sudah sing tuan... Tidakkah kita harus berangkat ke kantor sekarang?" ucap Arthur dengan raut wajah yang kebingungan namun sambil mencomot satu udang tempura di meja dan memakannya begitu saja.
Melihat hal tersebut Faris yang mengetahui tingkah laku Arthur barusan, lantas langsung menatap dengan tajam ke arah Arthur namun Arthur yang mendapat tatapan tersebut malah santai seakan tidak terjadi apa-apa. Membuat Arthur Faris hanya bisa menghela napasnya dengan panjang karena protes pun pasti akan sangat percuma saat ini.
Sedangkan Aruna yang sedari tadi tengah sibuk hendak memulai makannya, mendengar Arthur terus mengulang kata-kata yang sama lantas mulai meletakkan sendoknya.
"Kau ini lupa atau memang hilang ingatan? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa Papa sudah mencoret ku dari hak Ahli waris? Lalu untuk apa lagi aku datang ke kantor? bukankah begitu?" ucap Aruna dengan nada yang santai membuat Arthur tentu saja langsung terkejut seketika.
"Apa tuan? Jadi kita bertiga resmi menjadi seorang pengangguran sekarang?" ucap Arthur dengan raut wajah yang terkejut membuat Faris dan juga Aruna lantas terkekeh dengan geli melihat raut wajah polos yang di tunjukkan oleh Arthur barusan.
"Pengangguran? Sepertinya hanya berlaku untuk mu saja sebutan itu!" ucap Aruna sambil menyendokkan kuah kaldu dalam mangkok kemudian ia arahkan ke dalam mulutnya.
Mendengar hal tersebut Arthur yang tadinya hendak menggigit udang tempura yang baru saja ia ambil kembali, lantas tidak jadi dan kembali meletakkan makanan tersebut ke piring, membuat Faris yang melihat tingkah Arthur barusan lantas langsung mengernyit dengan seketika. Sampai kemudian Arthur yang tanpa merasa berdosa sama sekali malah dengan santai menggamit tangan Aruna yang sedang makan dan mulai memasang wajah yang memelas.
"Tuan ijinkan saya ikut dengan mu tuan... Saya bisa melakukan segalanya, jangan buang saya tuan.... Tuan... Tuan..." ucap Arthur dengan nada yang merengek sambil terus merecoki Aruna yang sedang menikmati makanannya saat ini.
"Diam lah aku sedang makan saat ini!" ucap Aruna dengan nada yang kesal namun sama sekali tak membuat Arthur menghentikan niatannya.
"Ayolah tuan saya mohon kasihanilah saya..." ucap Arthur terus merengek membuat Aruna hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar ketika melihat tingkah Arthur yang terus-terusan seperti itu.
***
Sementara itu di mansion kediaman Gavanza tepatnya di ruangan kerja. Terlihat Arka tengah melangkahkan kakinya dari arah pintu masuk mendekat ke arah meja kebesaran milik Bagas saat ini. Bagas yang memang sedang sibuk memeriksa beberapa laporan keuangan dari masing-masing cabang anak perusahaannya, begitu melihat langkah kaki Arka yang kian mendekat lantas langsung menghentikan aktivitasnya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Bagas kemudian ketika melihat ke arah raut wajah Arka yang terlihat begitu masam saat ini.
Arka yang mendengar pertanyaan dari Bagas barusan lantas menghela napasnya dengan panjang kemudian. Arka yang tahu bahwa Bagas pasti akan sangat marah jika mengetahui sebuah berita yang akan ia sampaikan.
Setelah memutuskannya Bagas kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Bagas berada untuk membisikkannya sesuatu, membuat Bagas yang memperhatikan segala gerak gerik Arka sedari tadi.
"Apa kau bilang?" pekik Bagas yang terkejut setelah mendengar bisikan dari Arka barusan.
Bersambung