
"Benar-benar di luar ekspetasi ku!" ucap Aruna kemudian yang lantas membuat Maria terkejut seketika.
Maria yang melanggar jawaban dari Aruna barusan tentu saja terkejut bukan main, Maria bahkan tidak menyangka bahwa Aruna akan menanggapi perkataannya dengan jawaban yang seperti itu. Kebanyakan dari para gadis yang mendekati para anak konglomerat ketika ibu dari si Pria mengatakan hal tersebut, tentu saja mereka akan langsung terkejut atau bahkan berterima kasih kepadanya karena memberikan uang mereka dengan percuma namun tetap mengizinkan mereka untuk mengencani putra mereka. Hanya saja entah mengapa untuk Aruna kali ini situasinya sungguh berbeda membuat Maria yang melihat hal tersebut lantas langsung bertanya-tanya sambil menatap bingung ke arah Aruna.
"Apa maksud dari perkataan mu barusan?" ucap Maria dengan raut wajah yang kebingungan menatap ke arah Aruna saat ini.
Sedangkan Aruna yang mendengar pertanyaan dari Maria barusan hanya tersenyum dengan tipis, membuat Maria semakin kebingungan ketika melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Maria barusan.
"Jika pertemuan kita hanya mempermasalahkan soal uang, saya sama sekali tidak berniat untuk menerima uang anda. Arthur memberikan begitu banyak uang dan juga barang-barang branded dengan harga yang fantastis tanpa harus memperolehnya dari anda. Jadi jika hanya untuk uang ataupun penyogokan, saya harap anda tidak perlu menghubungi saya lagi karena tanpa anda minta sekalipun saya akan tetap berada di sisi Arthur." ucap Aruna kemudian dengan senyum yang mengembang membuat Maria yang mendengar hal tersebut lantas terkejut dengan seketika.
"Sombong sekali kau! Seorang wanita rendahan seperti mu sungguh tak pantas mengucapkan hal tersebut kepadaku." ucap Maria dengan nada yang menyindir.
Mendengar hal tersebut Aruna bukannya takut ia malah tertawa, membuat Maria lantas lagi-lagi dibuat bingung akan reaksi yang ditunjukkan oleh Aruna baru saja.
"Nyonya.. Nyonya... Apakah saat ini anda sedang menyindir diri anda sendiri? Saya dan anda tidaklah jauh berbeda, bukankah dulu anda juga berasal dari kalangan seperti saya? Jadi sebelum anda berbicara akan sesuatu hal sebaiknya anda berkaca terlebih dahulu. Terima kasih atas perjamuannya nyonya saya permisi." ucap Aruna kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Setelah mengatakan hal tersebut Aruna langsung melangkahkan kakinya pergi begitu saja meninggalkan tempat tersebut dengan senyuman yang puas karena berhasil meng skak mat Maria. Hal ini bahkan sudah ia nantikan sejak dulu, siapa sangka ia malah bisa membalas Maria ketika jiwanya berada di dalam tubuh Aruna.
Sedangkan Maria yang mendengar setiap kata dan juga sindiran yang berasal dari mulut Aruna tentu saja langsung mengepalkan tangannya dengan erat. Maria benar-benar tersinggung akan perkataan yang keluar dari mulut Aruna. Ini bahkan pertama kalinya ia diperlakukan seperti ini oleh seseorang.
"Benar-benar perempuan rendahan!" ucap Maria dengan raut wajah yang kesal sambil terus menatap ke arah kepergian Aruna yang tidak lagi terlihat pada pandangannya saat ini.
***
Di luar area cafe
Aruna yang sangat puas akan dirinya sendiri yang berhasil mempermalukan Maria di dalam, lantas tak henti-hentinya mengulum senyum sambil terus melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah parkiran Resto tersebut.
"Aku benar-benar puas telah mempermalukan seorang Maria... Bukankah aku sungguh luar biasa? Harusnya Aruna mengucapkan beribu-ribu terima kasih karena aku telah menciptakan image wanita kuat sekaligus anggun dalam dirinya." ucap Aruna pada diri sendiri sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana mobilnya terparkir saat ini.
"Aruna..." panggil seseorang yang langsung membuat Aruna berbalik badan begitu mendengar namanya dipanggil.
Seorang pria yang sama sekali tidak Aruna kenali lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Aruna berada. Pria itu lantas langsung menarik tangan Aruna begitu saja sambil tersenyum dengan lebar, membuat Faris yang melihat hal tersebut lantas langsung berusaha menghentikan gerakan dari Pria tersebut. Namun tangan Aruna yang mengangkat ke atas membuat Faris lantas menghentikan gerakannya dan tidak jadi untuk mengusir Pria tersebut, membuat Pria itu lantas langsung tersenyum begitu melihat Aruna menghentikan gerakan Faris agar tidak mendekat ke arah keduanya.
"Aku bahkan benar-benar terkejut ketika melihat mu Run... Aku tidak menyangka bahwa kamu berubah cukup drastis, lihatlah pakaian mu dan mobil ini... Wah kau benar-benar sesuatu." ucap Pria itu dengan manik mata yang berbinar membuat Aruna yang sama sekali tidak mengenalinya lantas hanya menatapi Pria itu dari atas hingga bawah tanpa berkomentar sama sekali.
"Siap kau?" ucap Aruna dengan raut wajah yang datar namun berhasil membuat Pria itu terkejut dengan seketika.
"Apa kau sungguh melupakan ku? Ayolah Run.. Aku sudah menyesalinya saat itu, kau bahkan sudah memenjarakan ku, tidakkah kau mempunyai belas kasihan kepada ku?" ucap Pria itu yang semakin membuat Aruna kebingungan ketika mendengarnya.
"Jika kau memang tidak ingin mengatakannya maka kita sudahi saja sampai di sini karena aku masih banyak urusan jadi jangan menggangguku lagi." ucap Aruna kemudian berbalik badan hendak membuka pintu dan masuk ke dalamnya, namun tangan pria itu malah mencegahnya agar tidak masuk ke dalam mobil tersebut.
"Aku minta maaf, waktu lima tahun tidak lah sebentar.. Aku harap kamu bisa mempertimbangkan ku kembali." ucap Pria itu lagi sambil memasang raut wajah yang sendu.
Mendengar perkataan dari Pria itu yang kian melantur membuat Aruna langsung menatap ke arah Faris dan mengisyaratkan kepadanya untuk mulai menyeret pergi Pria itu dari hadapannya sekarang juga.
Faris yang seakan mengerti akan kode tersebut kemudian mulai bergerak dan mendorong mundur Pria itu, membuat Aruna yang melihat hal tersebut lantas langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan lagi Pria itu yang terus berteriak seperti orang gila.
"Kamu harus mempertimbangkan ku kembali Run... Aku adalah Pandu! Seorang Pandu tidak akan pernah menyerah begitu saja meski harus menyebrangi lautan api sekalipun! Lepaskan aku!" teriak Pria tersebut yang menyebut namanya Pandu.
Faris yang melihat Aruna sudah masuk ke dalam mobil lantas langsung melepaskan cengkeramannya kepada Pria tersebut.
"Tidak perlu berteriak aku pasti akan melepaskan mu!" ucap Faris dengan nada yang ketus kemudian berlalu pergi dari sana.
"Awas saja kau Run, sampai kapan pun kau adalah milik ku." ucap Pandu dengan menatap tajam ke arah mobil tersebut.
Bersambung