
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Arthur dan juga Faris dengan spontan menoleh seketika ke arah sumber suara.
Ada raut wajah terkejut ketika keduanya menoleh ke arah sumber suara dimana mereka berdua melihat Bagas dan juga asistennya Indra tengah berdiri tak jauh dari posisi mereka berada saat ini. Faris yang melihat kedatangan Bagas tentu saja langsung memberi hormat kepadanya, sedangkan Arthur tentu saja langsung menegang dengan seketika. Bayangan tentang makan malam keluarga malam itu saja masih teringat jelas dan membekas di kepalanya, bagaimana mungkin Arthur tidak tegang jika bertemu kembali dengan Bagas saat ini.
Faris yang tak melihat respon apapun dari Arthur, lantas langsung mencoba menyentuh punggung Arthur agar mulai bergerak dan memberi hormat kepada Bagas saat ini. Membuat Arthur yang terkejut akan hal tersebut lantas semakin terlihat aneh di mata Bagas dan juga Indra.
"Tuan.." ucap Arthur keceplosan yang semakin membuat suasana kian aneh di sana.
"Ah sial!" ucap Faris dalam hati.
Hening sesaat tepat setelah kata "Tuan" keluar dari mulut Arthur baru saja, membuat tatapan aneh lantas terlihat dari manik mata Bagas. Arthur yang tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan kemudian lantas mendekat ke arah Bagas dan mulai menyapanya mencoba untuk memperbaiki suasana agar tidak terasa lebih canggung lagi atau bahkan lebih buruk dari ini.
"Apa Papa perlu sesuatu hingga Papa sampai mampir ke sini?" tanya Arthur kemudian yang langsung merubah tatapan dari Bagas kepadanya.
"Ada sesuatu yang harus Papa bicarakan kepadamu." ucap Bagas kemudian sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Arthur untuk mulai berbicara empat mata dengan putranya itu.
Baik Arthur maupun Faris yang melihat langkah kaki Bagas menuju ke arah ruangannya lantas saling berpandangan satu sama lain. Keduanya benar-benar terkejut ketika Bagas mendadak mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah sana, bukan tanpa alasan masalahnya di dalam ruangan tersebut ada Aruna. Jika sampai Bagas melihat Aruna menduduki kursi CEO, sudah pasti Bagas akan sangat marah mengingat bahwa kursi itu bukanlah kursi sembarangan yang bisa di duduki oleh semua orang. Arthur dan juga Faris yang melihat langkah kaki Bagas kian mendekat ke arah ruangan CEO, lantas buru-buru menyusul langkah kaki Bagas dan menahannya agar tidak sampai masuk ke dalam.
"Eh Pa.. Papa tunggu Pah... Tunggu jangan dulu masuk Pah..." teriak Arthur sambil berusaha mengejar langkah kaki Bagas dan berhenti tepat di depan pintu ruangan CEO.
Melihat tingkah aneh dari Arthur dan juga Faris tentu saja langsung membuat Bagas mengernyit dengan tatapan yang bingung. Tidak hanya Bagas bahkan Indra yang juga melihat gerak-gerik keduanya yang terkesan begitu aneh, lantas bertanya-tanya sekaligus curiga akan apa yang telah mereka sembunyikan di dalam ruangan tersebut.
"Minggir Ar Papa mau masuk!" ucap Bagas kemudian sambil menatap aneh ke arah Arthur.
"Maaf tuan besar ruangannya sedang diperbaiki, ada beberapa yang rusak saya takut anda tidak nyaman jika berada di dalam ruangan ini." ucap Faris kemudian mencoba mencari alasan.
"Benar itu Pa... Sebaiknya kita ke Resto depan saja sekalian makan siang, pasti Papa belum makan bukan?" ucap Arthur kemudian seakan membenarkan perkataan dari Faris barusan.
Mendengar hal tersebut membuat Bagas lantas terdiam seketika, Bagas bahkan masih curiga akan apa yang disembunyikan oleh putranya di dalam ruangannya saat ini. Namun ketika suara Indra yang mulai membisikkannya sesuatu, lantas membuatnya menghela nafas dengan panjang begitu mendengar bisikan dari Indra barusan.
"Apa yang dikatakan oleh Tuan muda ada benarnya juga tuan." ucap Indra kemudian dimana mengingat Bagas yang sulit sekali untuk makan, sehingga membuatnya berinisiatif agar Bagas mengiyakan ajakan putranya itu.
"Baiklah kita pergi sekarang karena aku tidak punya waktu banyak." ucap Bagas pada akhirnya yang langsung membuat raut wajah Arthur dan juga Faris sumringah dengan seketika.
***
Resto
Suara dentingan garpu dan juga sendok terdengar menggema di salah satu sudut ruangan yang terletak di Resto tersebut, keduanya terlihat tengah sibuk memakan stik di meja mereka masing-masing. Hingga kemudian Bagas yang baru saja menyelesaikan makannya, lantas mulai meletakkan sendok dan garpunya membuat Arthur ikut meletakkan sendok dan garpunya begitu melihat Bagas sudah menyelesaikan makannya walau ia belum menghabiskan seluruh makanannya sekalipun.
Bagas terlihat mengelap mulutnya secara perlahan kemudian berganti menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang menelisik, membuat Arthur langsung salah tingkah dengan seketika disaat mendapat tatapan tersebut dari Bagas.
Arthur yang mulai melihat Bagas hendak berbicara lantas menekan tombol rekam pada layar ponselnya. Arthur benar-benar takut jika hanya dia sendiri yang mendengarkan pembicaraan serius ini pasti akan salah persepsi, sehingga Arthur memutuskan untuk merekam segala percakapannya agar Aruna nantinya juga bisa mendengarnya ulang dan mengambil langkah untuk tindakannya selanjutnya.
"Apa kamu tahu jika Monica sudah kembali?" ucap Bagas kemudian mulai membuka pembicaraan diantara keduanya.
Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja membuat Arthur langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung, Arthur bahkan terkejut ketika Bagas menyebut nama Monica saat ini tadinya Arthur mengira bahwa Bagas akan membahas sebuah proyek atau bahkan sejenisnya, namun nyatanya bukanlah hal tersebut yang saat ini hendak di bahas oleh Bagas.
Arthur menelan salivanya dengan kasar ketika kembali membayangkan tentang amarah Aruna ketika mendengar nama Monica di sebut tadi pagi. Jika nanti ia salah berbicara pasti Aruna akan langsung melemparnya ke kandang buaya kali ini.
"Iya, kemarin aku berjumpa dengannya di Supermarket. Apa ada sesuatu Pa?" ucap Arthur kemudian mencoba untuk bersikap biasa saja walau sebenarnya lidahnya begitu keluh bingung hendak berkata apa untuk menanggapi pembahasan kali ini.
Seulas senyum nampak terlihat dari raut wajah Bagas begitu mendengar bahwa Arthur mengetahui kepulangan Monica kembali ke Negara ini. Sambil membenarkan posisi duduknya Bagas kemudian lantas kembali menatap ke arah Arthur sambil meneguk minumannya sebentar.
"Keluarga Hermawan menawarkan bisnis pembangunan pulau pribadi di Swiss, ini adalah proyek besar dan Papa yakin kamu cocok untuk memimpinnya, hanya saja keluarga mereka memberikan persyaratan sebelum tanda tangan kontrak di mulai." ucap Bagas memulai penjelasannya akan maksud dari kedatangannya menemui Arthur hingga ke kantornya.
"Apa persyaratannya Pa?" tanya Arthur kemudian dengan raut wajah yang penasaran menunggu kelanjutan dari perkataan Bagas barusan.
"Mereka meminta perjodohan antara kamu dan juga Monica kembali dilanjutkan." ucap Bagas lagi namun berhasil membuat keterkejutan dalam diri Arthur saat ini.
"Apa?"
Bersambung