Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Terasa sama namun berbeda



Apartment Arthur


Arthur yang sudah menaruh tas kerja dan juga laptop milik Aruna, lantas terlihat full senyum karena pada akhirnya ia bisa pulang juga dan merebahkan dirinya pada kasur kontrakannya setelah sekian lama ia tinggal karena insiden kecelakaan tersebut.


Setelah dari ruangan kerja *Arthur dan meletakkan barang-barangnya, *Aruna kemudian lantas mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan bersiap untuk pulang. Hanya saja ketika langkah kaki Arthur sudah hampir sampai di pintu keluar Apartemen, sebuah suara khas perempuan yang menggelegar terdengar menggema memenuhi ruangan tersebut. Membuat Arthur lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika begitu mendengar suara yang tak asing di pendengarannya tersebut.


"Mau kemana kamu?" tanya sebuah suara yang berasal dari Aruna.


"Tentu saja pulang tuan." ucap Arthur sambil menunjuk ke arah pintu.


Mendengar perkataan Arthur barusan membuat Aruna langsung berkacak pinggang karena Arthur terus-terusan bertindak bodoh padahal dirinya sudah mengingatkannya berulang kali untuk bersikap seperti biasa. Seperti biasa yang dimaksud oleh Aruna bukanlah kembali ke kehidupan mereka masing-masing, melainkan antara Arthur dan juga Aruna yang harus saling menjalani kehidupan mereka walau dengan jiwa yang berbeda. Dengan kata lain jiwa *Aruna harus berperan dan juga bertindak selayaknya Arthur sedangkan jiwa *Arthur juga harus bertindak sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh Aruna, mungkin kata lainnya seperti bertukar tempat namun dengan *Arthur yang tidak ingin rugi dan malah mengekang *Aruna.


"Kau mulai hari ini tinggal di sini!" ucap Aruna dengan nada yang terdengar memerintah.


Sedangkan Arthur yang mendengar perkataan Aruna barusan tentu saja langsung terkejut seketika. *Aruna memang masuk ke dalam tubuh Arthur dan ia juga menyanggupi untuk bertindak sebagai Arthur selama jiwanya belum bisa kembali ke raganya. Hanya saja jika untuk tinggal bersama dalam waktu yang tidak di tentukan, bukankah itu sedikit berlebihan?


Arthur benar-benar tidak mengerti dimana jalan pikiran Aruna saat ini. Sehingga ia hanya bisa berdecak dengan kesal ketika mendengar ide gila dari Aruna sambil terus melangkahkan kakinya kembali mendekat ke arah Aruna saat ini.


"Tuan anda jangan bercanda, kita ini beda gender maksud saya antara wanita dan juga perempuan tidak bisa tinggal dalam satu atap tanpa ikatan, jadi saya harap jangan terlalu aneh-aneh tuan." ucap Arthur mulai mengutarakan ketidaksetujuannya tentang perkataan Aruna yang mengada-ada.


Sedangkan Aruna yang mendengar protes dari Arthur lantas mengernyit dengan seketika. Dalam pikiran Aruna saat ini seakan tidak mengerti akan jawaban Arthur barusan lagi pula, bukankah Aruna hanya meminta untuk tinggal bersama bukan sebuah pernikahan, namun Arthur malah membahas masalah ikatan. Apakah semenjak bertukar raga otak jiwa *Aruna juga ikut bergoyang?


"Apa yang salah? Aku bahkan meminta kita untuk tinggal bersama bukan hidup bersama. Lagi pula jangan terlalu GR kau bahkan bukan tipe ku sama sekali." ucap Aruna dengan senyum yang mengejek menatap ke arah Arthur saat ini.


"Tuan disini hanya ada satu kamar, jika anda meminta ku untuk tinggal, aku akan tidur dimana?" ucap Arthur kemudian mencoba untuk kembali mencari alasan agar Aruna bisa membiarkannya pulang ke rumah kontrakannya.


"Untuk apa kau bingung, di sana banyak kursi dan banyak tempat, kau bisa memilihnya sesuka hatimu." jawab Aruna dengan nada yang singkat.


"Anda menyuruh ku untuk tidur di luar begitu tuan? Ini tubuh anda loh, apa anda yakin akan membiarkannya untuk tidur di luar? Walau anda tidak mengasihi ku sebaiknya kasihanilah tubuh anda sendiri tuan." ucap Arthur tak percaya ketika mendengar perkataan dari Aruna barusan.


Arthur yang melihat perkataannya berhasil meresap ke dalam hati Aruna, lantas membuat Arthur langsung tersenyum dengan sumringah karena ia yakin pasti sebentar lagi Aruna akan menyuruhnya untuk pulang ke rumah kontrakannya.


"Maka dari itu tuan sebaiknya saya permisi dan pulang ke rumah kontrakan..." ucap Arthur namun terpotong oleh ucapan Aruna yang tiba-tiba saja mengejutkannya.


"Jika begitu kita akan tidur satu kamar!" ucap Aruna dengan nada yang datar dan tidak ingin dibantah sama sekali.


"Apa tuan..." ucap Arthur yang terkejut akan perkataan Aruna barusan yang memintanya untuk tidur sekamar dengannya sambil memasang wajah yang datar seakan itu bukanlah masalah yang besar baginya.


****


Di sebuah kamar dengan suasana yang hening dan tanpa pencahayaan apapun selain yang berasal dari sinar rembulan melalui balkon kamar tersebut. Terlihat Maxim tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah sebuah kursi goyang untuk menghampiri Maria yang terlihat tengah menatap ke arah langit malam saat itu. Maxim yang melihat ibunya tidak tertidur saat itu, lantas langsung menghentikan langkah kakinya begitu jarak diantara keduanya hanya tersisa beberapa centimeter saja.


"Mama belum tidur?" tanya Maxim dengan basa-basi.


Mendengar sebuah suara menyapa telinganya membuat Maria dengan spontan mendongak ke arah sumber suara, kemudian kembali menatap ke arah langit malam kala itu begitu mengetahui suara itu adalah putranya sendiri.


"Apakah ada sesuatu yang kau temukan darinya?" tanya Maria kemudian yang lantas membuat Maxim terdiam seketika.


Mendapat pertanyaan tersebut pikiran Maxim lantas melayang memutar kembali ingatannya tentang kejadian tadi di area meja makan. Entah mengapa Maxim merasa ada yang berbeda dari Arthur saat itu. Terasa sama namun juga berbeda, membuat Maxim sedikit merasa ada yang tidak beres dengan Arthur namun sayangnya Maxim sama sekali tidak tahu apa itu. Maxim menimbang keputusannya antara mengatakan apa yang ia rasakan atau memilih menutupi segalanya, membuat helaan napas lantas terdengar dari mulut Maxim ketika ia merasakan kebimbangan akan jawaban apa yang harus ia katakan kepada Maria saat ini.


Maria yang tak kunjung mendengar jawaban apapun dari Maxim, lantas langsung menoleh ke arah putranya itu seakan sedang menanti jawaban dari putranya yang tak kunjung terdengar sampai saat ini. Hingga ketika Maria yang tak sabaran menunggu dan hendak kembali bertanya, lantas mengurungkan niatnya ketika ia mendengar Maxim mulai membuka suaranya.


"Saya rasa tidak ada sesuatu yang aneh dengan Arthur, Mama tidak perlu khawatir." ucap Maxim kemudian yang pada akhirnya memilih untuk menyembunyikan segalanya dari Maria sebelum Maxim benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya.


"Apa kau yakin?"


Bersambung