Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Aku hamil



Arthur yang memiliki perasaan jika Aruna berlarian ke arah perkebunan teh lantas mulai mengambil langkah kaki menuju ke sana. Disusurinya area perkebunan tersebut dengan langkah kaki yang bergegas. Arthur benar-benar takut jika sesuatu terjadi kepada Aruna apabila ia tak segera bergegas mencari keberadaannya.


Setelah berlari dan berlari tanpa kepastian, Arthur terlihat menghentikan langkah kakinya barang sejenak dan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Perkebunan ini sangatlah luas, jika harus mengelilinginya tentu saja akan memakan waktu yang lama dan Arthur tidak menginginkan hal tersebut.


Disaat langkah kaki Arthur terhenti saat itu, pandangannya lantas tertuju kepada noda darah yang terletak di antara bebatuan tak jauh dari tempatnya berada.


"Bukankah Faris mengatakan jika salah satu dari keduanya terluka?" ucap Arthur kemudian kepada diri sendiri.


Arthur yang mendapati fakta tersebut kemudian lantas mulai mendekati batu itu dan menyentuh noda darah yang hampir mengering itu.


"Sepertinya ini baru..." ucap Arthur sambil bangkit dari posisinya.


Arthur yang mendapatkan petunjuk pada akhirnya memilih untuk mengikuti jejak noda darah di batu yang mungkin saja bisa menuntunnya menuju ke arah dimana Aruna berada saat ini.


***


Sementara itu di area tengah-tengah perkebunan.


"Tidak akan kubiarkan, jika memang kau tidak ingin melakukannya di kamar maka mari kita lakukan di sini. Bukankah di sini sungguh menyenangkan? Di bawah rintikan hujan kita bisa menyatu dan saling menjadi dua insan yang paling bahagia di dunia ini." ucap Pandu dengan nada yang terdengar gila membuat Aruna semakin tidak mengerti akan arah pikiran Pandu saat ini.


Disaat Pandu hendak bersiap untuk mencumbu Aruna di sana. Sebuah cengkraman tangan menariknya dengan erat dan membuat Pandu langsung bangkit dan terhempas dari posisinya.


"Sialan! Beraninya kau ikut campur dengan urusan ku!" pekik Pandu begitu mendapati seseorang tengah menariknya begitu saja.


Pandu yang semula tidak mengetahui jika yang menariknya adalah Arthur, lantas langsung terdiam seketika begitu bangkit dan melihat Arthur sudah berdiri dengan menatap tajam ke arahnya.


"Kau? Bagaimana bisa kau sampai ke tempat ini?" pekik Pandu yang terkejut akan kehadiran Arthur saat ini.


"Teleportasi!" jawab Arthur dengan nada yang singkat sambil melepas jas yang ia kenakan sedari tadi dan memberikannya kepada Aruna agar bisa menutupi bagian depan dress nya yang terbuka itu.


"Apa katamu?" ucap Pandu yang sama sekali tidak mengerti akan perkataan Arthur barusan yang terdengar begitu absurd.


Tanpa mengindahkan pertanyaan dari Pandu barusan, Arthur membantu Aruna untuk bangkit dari posisinya.


"Tuan aku..." ucap Aruna hendak menjelaskan segalanya, namun Arthur malah menggeleng dengan pelan menatap ke arah manik mata Aruna.


"Sudah tak perlu di jelaskan, sekarang ada aku kamu aman." ucap Arthur sambil tersenyum berusaha untuk menenangkan Aruna.


Sedangkan Pandu yang merasa di acuhkan begitu saja tentu saja menjadi kesal akan sikap keduanya itu. Pandu yang melihat Arthur dan juga Aruna hendak melangkahkan kakinya pergi dari sana, lantas langsung berusaha mengejar langkah kaki keduanya dan menarik pundak Arthur, membuat langkah kaki keduanya langsung terhenti dengan seketika.


"Berani-beraninya kau mengacuhkan aku begitu saja, aku bahkan..." ucap Pandu hendak memprotes namun sebuah pukulan mendarat dengan keras di wajah Pandu saat itu.


Bugh...


"Itu untuk tingkah mu yang seperti bajin**n dan ini untuk kau yang sudah berani menyentuh milik ku!" pekik Arthur sambil kembali mengarahkan pukulannya kembali ke rahang sebelah Pandu, hingga membuat sudut bibir Pandu berdarah karenanya.


"Kau benar-benar keterlaluan! Siapa kau? Yang mengklaim jika Aruna adalah milik mu?" pekik Pandu sambil berusaha untuk bangkit dari posisinya.


Melihat dan juga mendengar hal tersebut membuat Arthur hendak kembali melayangkan pukulan kepada Pandu, namun malah di tahan oleh Aruna yang membuat pukulannya berhenti di awang-awang.


"Apa yang kamu lakukan Run? Biarkan aku memberinya pelajaran!" ucap Arthur dengan kilatan amarah yang terlihat dengan jelas pada manik matanya.


"Sudah hentikan Tuan.. Jika Tuan melakukan hal tersebut, apa bedanya Tuan dengan dia?" ucap Aruna dengan nada yang lirih, membuat Arthur lantas terkejut begitu mendengarnya keluar langsung dari mulut Aruna.


"Tapi dia bahkan..." ucap Arthur hendak menolak perkataan Aruna barusan, namun Aruna malah langsung menggeleng dengan perlahan seakan mengisyaratkan kata tidak kepada Arthur saat ini.


"Kita pulang ya Tuan? Aku benar-benar sudah lelah..." ucap Aruna dengan nada yang lirih, membuat helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulut Aruna saat itu.


"Wel wel wel bukankah Aruna begitu berhati malaikat? Kamu benar-benar sesuatu Run, membuat ku menjadi semakin cinta kepadamu..." ucap Pandu yang mendengar dengan jelas perkataan dari Aruna barusan, membuat Arthur langsung terlihat mengepalkan tangannya menhan perasaan amarah yang kini menyelimuti dirinya.


Aruna menggenggam lengan Arthur yang mengepal dengan lembut kemudian membawa Arthur berlalu pergi dari sana dengan langkah kaki yang perlahan.


Disaat suasana hening tengah tercipta di sana, tak berapa lama Faris nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Arthur berada. Membuat Arthur langsung mengisyaratkan agar mendekat ke arahnya.


"Bereskan dia dan tunggu aku di tempat biasa, manusia sampah sepertinya sama sekali tidak layak untuk hidup di dunia ini!" ucap Arthur dengan nada yang berbisik takut jika Aruna mendengar perkataannya.


"Baik Tuan..." jawab Faris tanda mengerti.


***


Kediaman keluarga besar Gavanza


Di sebuah area kamar mandi tepatnya di kamar Felia, terlihat Felia tengah mondar-mandir di depan cermin wastafel dengan raut wajah yang gelisah. Sebuah hal yang tak pernah ia sangka akan terjadi, mendadak terjadi dan menghancurkan segalanya saat itu.


Felia terlihat memijit pelipisnya perlahan kemudian menghentikan langkah kakinya sambil menatap ke arah cermin wastafel dengan tatapan yang tidan bisa diartikan.


"Tidak-tidak ini semua pasti hanya firasat ku saja, jika sampai hal ini benar-benar terjadi Papa bisa-bisa memenggal kepala ku dengan sekali tebasan." ucap Felia sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar karena bingung hendak berbuat apa.


Sampai kemudian helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulutnya. Sambil bergerak dengan perlahan, Felia mulai mengambil sebuah testpack yang tengah ia rendam di air maninya.


Bola mata Felia lantas membulat begitu melihat sebuah garis dua terlihat dengan jelas pada alat itu, yang menandakan jika ia tengah mengandung saat ini.


"Aku hamil?" ucap Felia yang terkejut akan apa yang baru saja ia lihat hingga tanpa sengaja menjatuhkan testpack tersebut ke lantai.


Bersambung