
"Tuan..." ucap Arthur dengan nada yang lirih sambil menatap ke arah Aruna dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan sama sekali.
Arthur yang melihat Aruna saat ini tengah berdiri tepat di luar kaca jendela mobilnya, lantas perlahan-lahan mulai menurunkan kaca jendela tersebut hingga kini menampilkan wajah Aruna seutuhnya. Sedangkan Aruna yang melihat raut wajah Arthur yang begitu masam dan juga agak aneh, lantas langsung menatapnya dengan tatapan yang penasaran seakan bertanya-tanya apa yang telah terjadi kepada Arthur saat ini.
"Apakah sesuatu terjadi kepadamu ketika bertemu dengan Papa? Apa tidak berjalan dengan lancar? Kau mengatakan sesuatu yang tidak-tidak ya?" ucap Aruna yang seakan menerka apa yang terjadi kepada Arthur hingga membuat raut wajahnya begitu terlihat masam saat ini.
"Anu tuan anu..." ucap Arthur bingung hendak memulainya dari mana dan mengatakannya bagaimana kepada Aruna agar ia tidak marah kepadanya.
"Anu apa? Bicaralah yang jelas!" pekik Aruna dengan raut wajah yang bingung karena sedari tadi Arthur hanya berputar-putar saja tanpa langsung mengatakan intinya.
Arthur yang mendengar nada suara meninggi milik Aruna, lantas langsung terdiam sejenak. Ditatapnya Aruna dengan tatapan yang sendu, membuat Aruna semakin tidak mengerti akan tingkah dari Arthur saat ini.
"Kau ini sebenarnya kenapa sih?" ucap Aruna sekali lagi mencoba bertanya kepada Arthur tentang apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.
Sedangkan Arthur yang mendapat pertanyaan tersebut langsung menggigit bibir bagian bawahnya kemudian menatap ke arah Aruna seakan bersiap hendak mengatakan sesuatu kepadanya.
"Tuan ampunilah saya... Saya benar-benar tidak sengaja karena mengiyakan perkataan tuan besar yang mengatakan bahwa ia akan mencoret anda dari akta ahli waris jika anda tetap menikahi saya, maafkan saya tuan... Saya benar-benar telah lancang dalam mengambil keputusan, hukum saja saya sesuka hati anda saya akan bersedia menanggungnya." ucap Arthur kemudian dengan nada yang nyerocos begitu saja seakan tak memberikan jeda kepada Aruna untuk menjawabnya, baru setelah itu Arthur terlihat menutup matanya seakan takut sekaligus bersiap jika Aruna hendak memukulnya saat ini juga.
"...."
Hening sesaat, setelah Arthur mengatakan isi hatinya barusan suasana yang menyelimuti keduanya nampak begitu canggung dan aneh. Sampai kemudian terdengar kembali suara Aruna yang mengatakan segala sesuatunya begitu santai yang kemudian membuat Arthur yang semula kelopak matanya terpejam langsung membuka matanya dengan spontan.
"Oh hanya itu... Aku kira ada apa, masuklah ke dalam aku sudah lapar karena menunggu mu sedari tadi." ucap Aruna dengan nada yang santai kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Aruna yang masih memasang wajah seperti orang oon ketika mendengar jawaban tersebut yang sama sekali tidak sesuai ekspetasinya.
Arthur yang seakan tidak percaya akan jawaban yang baru saja diberikan oleh Aruna, lantas dengan spontan memukul pipinya begitu saja membuat Arthur yang merasakan rasa sakit ketika tangannya menyentuh kulit pipinya langsung meringis kesakitan karena ulahnya sendiri. Setidaknya dengan melakukan hal tersebut Arthur akan merasa bahwa dia tidaklah sedang bermimpi saat ini. Apa yang ia dengar dan ia lihat barusan tentu saja membuat Arthur nampak kebingungan dan tidak tahu akan letak dari kebenaran di dalamnya, membuat Arthur hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.
"Apakah barusan itu benar-benar tuan Arthur? Ia sungguh sesantai itu meski aku mengatakan bahwa ia akan di coret dari ahli waris kekayaan keluarga Gavanza? Aku tidak sedang bermimpi bukan?" ucap Arthur dengan raut wajah yang bingung sambil menatap ke arah punggung Aruna dengan tatapan yang masih terkejut.
***
Aruna yang tak kunjung mendengar langkah kaki Arthur mengikuti langkahnya, lantas menoleh ke arah belakang dan malah melihat raut wajah Arthur yang seperti orang bodoh menatap ke arahnya.
"Apa kau akan terus berada di sana sampai pagi? Aku benar-benar tengah lapar saat ini!" ucap Aruna kemudian dengan nada yang meninggi karena melihat Arthur yang sedari tadi hanya terbengong saja tanpa bergerak sedikitpun.
"Iya tuan saya datang... Tunggu saya sebentar." ucap Arthur kemudian sambil mengambil langkah kaki setengah berlari untuk menyusul langkah kaki Aruna yang sudah lebih dulu di depannya.
***
Meja makan
Dari arah dapur terlihat Arthur tengah melangkahkan kakinya sambil membawa dua mangkok besar yang ia letakkan di atas nampan yang ia bawa. Dua porsi sup mi bihun dengan toping aneka seafood di atasnya siap meluncur dan menggoyang lidah siapa saja yang menikmatinya. Kuah kaldu yang begitu kental dan juga harum tercium hingga hampir ke seluruh ruangan, membuat Aruna yang memang dalam kondisi yang sedang lapar mencium kuah kaldu yang gurih membuat perutnya semakin terasa keroncongan.
"Ayolah sedikit percepat langkah kaki mu itu, tidakkah kau mendengar cacing-cacing di perut ku tengah berdemo sedari tadi?" ucap Aruna dengan nada menggerutu begitu melihat langkah kaki Arthur yang terlalu santai itu.
Arthur yang mendengar gerutuan Aruna barusan hanya memutar bola matanya dengan jengah sambil mempercepat langkah kakinya atau Aruna akan kembali berteriak dan memecahkan gendang telinganya saat ini.
"Iya.. Iya... Saya datang tuan..." ucap Arthur sambil menyajikan satu mangkuk sup tersebut kepada Aruna dan satu mangkuk lagi untuknya.
Aruna yang memang posisinya sedang kelaparan lantas terlihat langsung tersenyum dengan gembira begitu melihat makanannya datang, Sambil mulai bersiap untuk mulai menyantap satu persatu hidangan yang tersaji dalam satu mangkuk dan bersatu dengan kuah kaldu yang lezat itu. Arthur yang melihat Aruna menyantap makanannya dengan lahap, terlihat menatap ke arah Aruna dengan tatapan yang menelisik seakan seperti hendak mengatakan sesuatu namun Arthur sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Apa yang sedang mengganggu mu? Katakan saja mumpung aku sedang berbaik hati saat ini." ucap Aruna kemudian sambil menyeruput mie di mangkuknya seakan bisa menebak dengan jelas apa yang ada di kepala Arthur saat ini.
Mendengar perkataan dari Aruna barusan lantas langsung membuat Arthur memasang wajah cemberut dengan seketika. Arthur terdiam sejenak di tempatnya seakan tengah berpikir apakah ia akan benar-benar mengatakannya atau tidak. Ia takut jika nanti ia bertanya Arthur pasti akan marah dan melakukan beberapa hal yang sama sekali tidak pernah diinginkan oleh Arthur terjadi.
"Em anu... Bagaimana mungkin anda bisa setengah itu walau saya mengatakan bahwa nama anda akan di coret dari ahli waris apabila anda menikahi saya. Tidakkah reaksi anda ini terlalu datar untu itu?" ucap Arthur bertanya-tanya kepada Aruna.
"Tentu saja biasa, memangnya ekspresi seperti apa yang kau inginkan?" ucap Aruna dengan santainya namun berhasil membuat Aruna melongo ketika mendengarnya.
"Apa?"
Bersambung
Bersambung