
Di sebuah mobil yang tadinya dikendarai oleh Alina, nampak Alina menghentikan laju mobilnya tak jauh dari Apartemen. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Alina saat itu, diiringi dengan guyuran air hujan yang terus membasahi bumi seakan enggan untuk memunculkan sang surya meski waktu telah berlalu hingga hampir jam makan siang.
Aruna yang tidak kunjung mendengar sebuah perkataan apapun keluar dari mulut Alina saat itu, lantas terlihat beberapa kali melirik ke arah Alina seakan bertanya-tanya apa yang hendak Alina bicarakan sebenarnya sehingga membawanya hingga sampai ke tempat ini.
"Apakah ada sesuatu Bu? Apakah saya mengenal anda?" ucap Aruna dengan raut wajah yang penasaran seakan mulai bosan karena terus di buat menunggu sedari tadi oleh Alina.
Alina yang mendengar perkataan dari Aruna barusan, lantas langsung melepas sabuk pengamannya. Ditatapnya manik mata Aruna dalam-dalam seakan mencoba untuk menggali sesuatu, yang Aruna sendiri tidak tahu apa maksud dari tatapan Alina saat ini kepadanya.
"Aku tahu sepertinya kamu sudah melupakan aku, jauh setelah kepergianku saat itu aku benar-benar minta maaf karena telah melukai hatimu dan juga hati Felia. Aku sama sekali tidak ada maksud untuk meninggalkan kalian berdua, keadaanku yang saat itu tengah tersudut dengan perekonomian yang sulit. Benar-benar membuatku mau tidak mau pada akhirnya harus menyerahkan kalian berdua kepada Ayah kalian, aku benar-benar minta maaf jika kalian tersinggung akan segala perkataan dan juga perbuatan ku waktu itu. Hanya saja jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Jika Aku bisa mengulang waktu kembali ke masa lalu, mungkin aku akan memilih untuk mempertahankan kalian meski dalam situasi dan kondisi yang sulit sekalipun." ucap Alina tiba-tiba dengan tatapan yang sendu saat itu.
Sedangkan Aruna yang mendengar setiap perkataan keluar dari mulut Alina saat itu, tentu saja terkejut bukan main. Aruna saja tidak mengenal siapa Alina, namun Alina tiba-tiba mengatakan hal yang begitu dalam kepadanya saat ini. Entah apa yang sedang dibahas oleh Alina, hanya saja jika menangkap dari perkataannya barusan. Sepertinya ada luka terdalam yang terjadi di antara Alina, Felia dan juga Arthur saat itu.
Aruna menatap ke arah manik mata Alina dalam-dalam, seakan mencoba mencari kebenaran di dalam manik mata tersebut. Membuat Alina yang ditatap seperti itu oleh Aruna, lantas mulai menggerakkan tangannya hendak menyentuh pipi Aruna saat itu.
"Pasti sangat berat ya? Mama benar-benar tidak tahu jika sesuatu yang buruk terjadi kepadamu belakangan ini. Maafkan aku ya? Maafkan aku.. Arthur..." ucap Alina dengan tatapan yang sendu.
Sepertinya Alina masih menganggap jika jiwa Arthur juga jiwa Aruna masih tertukar dan belum kembali ke tubuh mereka masing-masing. Hingga membuatnya mengira jika Aruna adalah Arthur. Sedangkan Aruna yang mendengarkan setiap perkataan dari Alina barusan, tentu saja semakin terkejut bukan main karena ternyata Alina mengetahui segala hal yang terjadi kepada Aruna dan juga Arthur belakangan ini. Hanya saja sayangnya Alina belum menyadari jika jiwa keduanya sudah kembali kepada raga mereka masing-masing.
"Ma...ma?" ucap Aruna yang seakan terkejut ketika baru menyadari jika yang ada di hadapannya saat ini adalah Ibu dari Arthur.
Mendengar kata Mama keluar dari mulut Aruna, tentu saja membuat raut wajah bahagia dan juga berbinar yang terlukis dengan jelas di wajah Alina saat itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi Alina lantas langsung menarik tubuh Aruna dan memeluknya dengan erat sambil mengusap punggung Aruna selama beberapa kali. Sedangkan Aruna yang mendapat perlakuan tersebut hanya bisa terdiam tanpa melakukan sesuatu apapun, ia benar-benar bingung harus bersikap apa di saat-saat seperti ini.
"Tuan... Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika aku mengaku maka aku akan melukai hati perempuan di hadapan ku. Namun jika aku diam saja, dia pasti akan mengira jika aku Arthur dan akan terus mengatakan sesuatu yang seharunya di dengarkan oleh Arthur bukan aku. Apa yang harus aku lakukan?" ucap Aruna dalam hati sambil berusaha mencari solusi akan langkah apa yang harus dia ambil saat ini.
"Aku benar-benar minta maaf... Maafkan Mama Ar..." ucap Alina secara terus menerus membuat Aruna semakin merasa tidak nyaman karenanya.
**
Sementara itu di saat Aruna serba kebingungan akan apa yang harus ia lakukan saat ini, di sisi lain tepatnya di area lobby dan juga depan Apartemennya. Terlihat Arthur tengah sibuk mencari keberadaan Aruna di setiap sudut Apartemennya. Ditatapnya cuaca yang begitu mendung di luar dengan disertai hujan deras, yang semakin membuat hatinya gelisah ketika memikirkan perkataannya terhadap Aruna sebelumnya.
Arthur benar-benar menyesal karena tidak memastikannya terlebih dahulu sebelum melampiaskan kemarahannya kepada Aruna, pikirannya saat ini bahkan benar-benar kacau. Entah di mana Aruna saat ini, namun yang jelas Arthur tetap harus mencari keberadaannya.
Arthur berdecak dengan kesal ketika ia mendial nomor Faris beberapa kali, namun Faris tidak kunjung mengangkat panggilan ponsel miliknya. Mendapati hal tersebut membuatnya lantas ingin sekali mengumpat Faris dimanapun ia berada sekarang.
"Benar-benar kurang ajar si Faris, ketika aku membutuhkannya bisa-bisanya dia tidak bisa di hubungi! Argggg..." ucap Arthur dengan nada yang kesal.
Arthur yang menyerah karena Faris tidak bisa dihubungi sedari tadi, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah meja resepsionis hendak menanyakan apakah mereka melihat kepergian Aruna atau semacamnya. Paling tidak untuk membuat dirinya sedikit lebih lega ketika mendengar jawaban dari petugas resepsionis.
Hanya saja ketika Arthur hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah meja resepsionis, samar-samar ia seperti melihat sebuah mobil berhenti tepat di area lobby apartemen. Entah ada ikatan batin apa yang Arthur rasakan saat itu, namun rasanya Arthur menjadi sangat penasaran ketika melihat mobil tersebut berhenti tepat di area lobby Apartemen.
Dengan langkah kaki yang perlahan Arthur mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah depan lobby. Namun ketika langkah kakinya hampir sampai, seseorang yang turun dari dalam mobil tersebut membuat langkah kaki Arthur langsung terhenti dengan seketika.
"Mama" pekiknya yang terkejut ketika mendapati Aruna bersama dengan seseorang yang ia rindukan sejak bertahun-tahun lalu.
Bersambung