Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Anda di tahan



Sementara itu Bagas yang mendapat informasi dari dari asisten rumah tangganya yang mengatakan jika ada seseorang yang mencarinya di bawah, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang perlahan menuju ke arah ruang tamu di area mansionnya. Dengan raut wajah yang penasaran Bagas mulai melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga sambil terus memikirkan siapa tamu yang mencari dirinya saat ini.


Sampai kemudian ketika langkah kaki Bagas sampai di tangga terakhir menuju ke lantai bawah, lantas terlihat mulai menghentikan langkah kakinya ketika mendapati di area ruang tamu seseorang yang sangat ia benci dan tidak ingin sama sekali ia menginjakkan kakinya di rumahnya saat ini terlihat tengah menunggunya.


"Apa yang membawamu hingga datang kemari menemui diriku? Aku benar-benar tidak punya waktu luang untuk meladeni mu!" ucap Bagas kemudian dengan nada yang ketus, membuat seseorang yang sedari tadi tengah menunggunya di area ruang tamu lantas langsung bangkit berdiri dan menatap ke arah sumber suara dengan seketika.


"Om..." ucap Fadli kemudian ketika mendapati langkah kaki Bagas semakin mendekat ke arahnya.


Fadli yang melihat hal tersebut lantas langsung berusaha hendak menyalami Bagas saat itu, hanya saja Bagas yang seakan tahu Fadli hendak menyelaminya. Kemudian hanya melewatinya begitu saja dan langsung mendudukkan pantatnya ke sofa, membuat Fadli lantas langsung menatap dengan tatapan yang sinis karena sikap dari Bagas yang sama sekali tidak menghargai dirinya.


"Sabar Fad, demi terciptanya segala tujuan yang telah engkau susun dengan begitu rapi setidaknya kau harus melakukannya dengan penuh kesabaran." ucap Fadli dalam hati sambil mulai berbalik badan dan mengambil duduk di depan Fadli saat itu.


"Saya datang kemari dengan niatan baik ingin mempertanggung jawabkan segala perbuatan saya Om, saya benar-benar bersedia mempertanggung jawabkan segalanya." ucap Fadli kemudian yang tentu saja langsung membuat Bagas terkejut bukan main ketika mendengar hal tersebut.


Bagas yang mendengar perkataan Fadli sedikit ngawur dan tanpa sebab akibat, lantas langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Bagas membenarkan posisinya dan menatap tajam ke arah Fadli saat itu, membuat Fadli lantas kembali menatapnya dengan tatapan yang penuh keyakinan.


"Bukankah kau salah dengan datang kemari dan mengatakan ingin mempertanggung jawabkan sesuatu? yang harusnya kau beri sebuah pertanggung jawaban adalah mereka-mereka para gadis yang sudah kau hamili di luar nikah. Bukankah hal itu menjadi sangat lucu? Aku bahkan hampir sakit perut karena tertawa ketika mendengar perkataan darimu barusan." ucap Bagas dengan nada yang percaya diri karena belum mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini.


"Untuk itulah saya datang kemari karena ingin mempertanggung jawabkan atas apa yang telah saya perbuat dengan Felia, Felia saat ini tengah hamil Om..." ucap Fadli kemudian yang lantas merubah raut wajah Bagas dengan seketika.


Bagas yang mendengar sebuah kenyataan yang tiba-tiba menampar dirinya dengan keras, lantas langsung membuatnya bangkit dari tempat duduknya. Dicengkeramnya kerah baju milik Fadli saat itu dengan erat kemudian berusaha membawanya bangkit dari posisi tempat duduknya.


Di tatapnya Fadli dengan tatapan yang tajam seakan ia hendak mempertanyakan apa yang baru saja Fadli katakan kepadanya.


"Apa katamu? Kamu jangan main-main dengan saya ya! Saya bisa membunuhmu saat ini juga jika sampai kamu melakukan hal yang baru saja kau katakan itu!" ucap Bagas dengan nada yang meninggi.


***


Sementara itu Felia yang baru saja pulang dari Galeri seni, lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk dengan langkah kaki yang bergegas ketika ia mengenali mobil yang saat ini terparkir di halaman kediamannya. Dengan langkah kaki yang cepat Felia mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam untuk memastikan, apakah pemilik mobil tersebut benar-benar Fadli atau bukan?


Hanya saja ketika ia sampai di dalam, sebuah pemandangan yang mengejutkan lantas terjadi dan membuat dirinya langsung berlarian mencoba untuk melerai antara Fadli dan juga Bagas yang saat ini sedang berada mulut itu.


"Berhenti! Apa yang kalian berdua lakukan?" ucap Feli kemudian sambil mulai berlari dan mencoba melerai keduanya saat ini.


Felia mencoba untuk membawa tubuh Bagas agar sedikit lebih menjauh dari arah Fadli kemudian mengusap pundak Bagas dengan perlahan seakan berusaha untuk menenangkan dirinya saat ini.


Mendengar pertanyaan dari Bagas barusan lantas langsung membuat tangan yang semula mengusap pundak Bagas dengan perlahan, mulai turun dan jatuh ke bawah. Entah apa hendak Felia jelaskan kepada Bagas, namun apa yang dikatakan Bagas benar-benar mencubit hati kecilnya.


Felia menatap ke arah Fadli yang saat itu tengah menatapnya dengan tatapan yang lembut. Entah mengapa Felia benar-benar merutuki keberanian dari Pria itu, Velia bahkan sudah menyuruhnya untuk diam agar ia bisa menggugurkan bayi ini dengan hati-hati tanpa Bagas dan yang lain mencurigainya sedikitpun. Namun sebelum Itu semua terjadi, Fadli malah ke rumahnya dan mengatakan segalanya kepada Bagas. Bukankah hal itu benar-benar sangat mengesalkan?


"Akuu..." ucap Felia dengan raut wajah yang kebingungan.


"Katakan dengan jelas sekarang juga Fel!" pekik Bagas ketika mendapati ada yang aneh dari putrinya saat ini.


"Aku benar-benar minta maaf Pa, tapi apa yang dikatakan oleh Fadli segalanya adalah kebenarannya. Aku tengah hamil saat ini...." ucap Felia kemudian dengan raut wajah yang menunduk ia benar-benar tidak berani menatap ke arah manik mata milik Bagas saat ini.


***


Sementara itu di kediaman Atmaja, terlihat Agam tengah duduk termenung sambil menatap kosong ke arah depan. Segala hal yang telah ia bangun dengan susah payah kini benar-benar hancur dan tidak lagi tersisa. Semua nama baik dan juga segala hal yang berkaitan dengannya, benar-benar telah hilang semenjak berita tersebut naik ke permukaan.


"Benar-benar anak kurang ajar!" ucapnya dengan nada yang terdengar begitu geram.


Di saat segala perasaan bercampur aduk dalam dirinya, sebuah suara yang berasal dari bel pintu utama lantas langsung membuyarkan segala hal yang ada di pikiran Agam saat itu. Agam yang mendengar suara bel terus-menerus ditekan tentu saja langsung bangkit dari posisinya dan langsung melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang perlahan menuju ke arah pintu utama.


.


.


.


.


Cklek...


"Agam Atmaja, anda di tahan dengan tuduhan penggelapan dana milik rakyat, penyalah gunaan kekuasaan dan juga penelantaran anak!" ucap seorang polisi yang langsung berusaha memborgol tangan Agam saat itu.


"Apa? Tunggu sebentar..."


Bersambung