Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Apakah Tuhan begitu marah kepadaku?



Kediaman keluarga Gavanza tepatnya di kamar Felia, terlihat saat ini Felia tengah bersua telepon dengan Fadli di sana. Seulas senyum terus-terusan terlihat terbit dari wajah cantik Felia ketika suara Fadli semakin menggema begitu manis di telinganya. Fadli benar-benar bisa membuat dirinya melayang hingga ke langit ke tujuh tanpa sadar jika semua perkataan manis yang berasal dari mulut Fadli hanyalah sebuah tipuan untuk menggaet dirinya.


"Sayang boleh aku tanya sesuatu?" ucap Fadli kemudian di sela-sela obrolan keduanya.


"Tentu katakan saja." ucap Felia dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya saat itu.


"Kapan kamu akan mengenalkan ku kepada keluarga mu? Aku bahkan merasa kamu tidak terlalu serius kepada ku? Apa kamu tidak menyayangi ku?" ucap Fadli kemudian dengan nada yang terdengar sendu membuat senyuman di wajah Felia langsung menghilang dengan seketika.


"Tunggu sebentar lagi ya, aku janji tidak akan lama. Keadaan keluarga ku sedang kacau dan aku tidak yakin membawa mu bersama ku." ucap Felia mencoba untuk membuat Fadli mengerti akan hal tersebut.


"Lalu harus sampai kapan aku menunggu?" ucap Fadli dengan nada yang mulai terdengar kesal membuat Felia lantas menjadi merasa bersalah kepada Fadli.


"Aku tidak tahu masalah apa yang sedang dialami oleh keluargamu saat ini, hanya saja jika kamu terus-terusan membiarkanku seperti sekarang sama halnya dengan kamu tidak mempercayai akan diriku. Apakah kamu menganggap ku selama ini hanya sebuah pelampiasan saja? Aku bahkan telah memberikan segalanya kepadamu, bukankah kamu juga mengetahui hal itu?" ucap Fadli dengan nada yang terdengar kesal membuat Felia semakin bingung akan apa yang harus ia jelaskan kepada Fadli saat ini.


"Begini saja, aku akan coba menyampaikan niatan mu kepada Papa tapi aku tidak janji karena kamu tahu Papa ku seperti apa, bukan?" ucap Felia pada akhirnya mencoba untuk meredam amarah Fadli saat ini.


"Baiklah aku akan menantikannya." ucap Fadli pada akhirnya.


"Tentu sayang terima kasih banyak... nanti aku kabari lagi I love you." ucap Felia kemudian mulai mengakhiri panggilan telponnya.


***


Apartment *Arthur


Arthur yang baru saja selesai mandi lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur untuk mulai memasak makan malam. Namun ketika langkah kakinya hampir memasuki area dapur, sebuah suara yang berasal dari Aruna lantas langsung menghentikan langkah kakinya.


"Tunggu sebentar!" pekik Aruna yang langsung membuat Arthur berbalik badan begitu mendengar perkataan yang berasal dari Aruna barusan.


"Ada apa?" tanya Arthur kemudian dengan raut wajah yang bingung sekaligus penasaran.


"Ada apa sih sebenarnya Tuan?" ucap Arthur dengan raut wajah yang bingung akan tingkah Aruna yang sangat aneh baginya.


"Kamu pergilah ke kamar dan buka hadiahmu di sana, aku menyiapkan sesuatu untukmu. Untuk urusan dapur kamu tak perlu khawatir biar aku yang melakukannya." ucap Aruna kemudian dengan senyuman yang mengembang sambil terus mendorong tubuh Arthur agar keluar dari area dapur.


Arthur yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bertanya-tanya, kemudian dengan spontan menghentikan langkah kakinya membuat Aruna yang mendorong tubuhnya sedari tadi lantas ikut berhenti dengan seketika. Ditatapnya Arthur dengan tatapan yang intens sambil mengambil posisi bersendekap dada, membuat Aruna yang melihat ekspresi raut wajah yang ditunjukkan oleh Arthur lantas tersenyum dengan simpul menatap ke arah Arthur saat ini.


"Sudah-sudah pergi sana dan jangan menggangguku aku akan memasak sesuatu hidangan yang spesial khusus untukmu." ucap Aruna lagi dengan senyum yang tak henti-hentinya membuat Arthur yang mendengar hal tersebut semakin merasa curiga kepada Aruna.


Arthur yang terus didorong oleh Aruna agar beranjak pergi dari sana tentu saja tidak bisa melakukan apapun, sehingga pada akhirnya membuatnya pasrah dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar sesuai dengan instruksi dari Aruna barusan. Arthur benar-benar penasaran apa yang tengah disiapkan oleh Pria tersebut, membuat Arthur lantas melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas menuju ke arah kamar.


"Benar-benar aneh sekali Tuan malam ini." ucap Arthur pada diri sendiri kemudian berlalu pergi dari sana menuju ke arah kamar.


***


Kamar *Arthur


Arthur yang baru saja masuk ke dalam kamar lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah ranjang dengan ukuran King size di sana. Sebuah kotak kardus cantik dengan warna peach yang cukup besar terpampang dengan jelas di atas kasur, membuat Arthur lantas langsung mengernyit dengan seketika begitu melihat kotak tersebut. Arthur yang penasaran akan isi dari kotak itu lantas dengan spontan berusaha membuka kotak tersebut karena memang sebelumnya Aruna sudah mengatakan bahwa telah memberikannya sebuah hadiah, sehingga Arthur tidak lagi bertanya dan langsung membukanya begitu melihat kotak kardus tersebut.


Ada sedikit perasaan terkejut ketika Arthur melihat hadiah tersebut, sebuah dress nan cantik berwarna peach terlihat tertata dengan rapi di sana. Arthur mendengus dengan kesal ketika melihat hadiah dari Aruna, hadiah tersebut memanglah bagus hanya saja apakah Aruna lupa atau berpura-pura lupa jika tubuh keduanya masih tertukar. Bukankah hadiah yang cantik ini akan terasa sia-sia jika hanya bisa dilihat tanpa bisa ia kenakan seperti ini.


Arthur menatap sendu ke arah dress tersebut, ia benar-benar rindu akan pakaian ini dan tentu saja yang paling ia rindukan adalah menjadi Aruna seutuhnya. Sebuah kebebasan yang tak pernah ia dapatkan ketika ia berada di dalam tubuh *Arthur. Arthur tak bisa mengelak jika ia lebih bahagia menjadi seorang *Aruna walau hidup serba kekurangan namun tetap bisa merasakan arti dari sebuah kebebasan. Sungguh berbanding terbalik dengan seorang *Arthur yang hidup di sangkar emas namun seperti di dalam penjara dan tidak bisa melakukan apapun sesuka hatinya. Semuanya harus serba di atur dan sesuai dengan aturan yang sudah ada, keluarganya benar-benar berantakan dan saling menghancurkan antara satu sama lain hanya untuk memperebutkan sebuah kekuasaan. Sebuah hidup yang sama sekali tidak *Aruna inginkan untuk bisa berada di dalamnya.


"Apa aku bisa kembali ke tubuh ku semula? Mengapa Tuhan sejahat itu padaku? Aku bahkan hanya sedikit mengeluh dan tanpa sadar mengucapkan kata yang tidak seharusnya, mengapa Tuhan begitu marah kepadaku dan menghukum ku seperti ini?" ucap Arthur pada diri sendiri dengan nada yang lirih sambil menatap ke arah dress tersebut.


Bersambung