
Mendapat semua map yang berisi informasi tentang Pandu dari Faris barusan, lantas membuat Aruna mulai membuka satu persatu lembar informasi tentang Pandu untuk mengetahui segala hal yang berkaitan dengan Pandu. Ada sedikit perasaan terkejut dalam diri Aruna ketika membaca satu persatu profil yang berkaitan dengan Pandu dimana ternyata Pandu adalah seorang mantan narapidana, Pandu dipenjara selama lima tahun dan baru bebas beberapa hari yang lalu dengan kasus pelecehan seksual. Mendapati informasi tersebut membuat Aruna lantas mengernyit dengan seketika, ia bahkan sedikit bingung sekaligus tidak mengerti akan maksud dari informasi tersebut sebenarnya.
Sampai kemudian satu persatu bayangan tentang Pandu yang berusaha mendekatinya tadi di parkiran mulai kembali terngiang di kepalanya, membuat Aruna perlahan-lahan mulai menyadari sekaligus mengerti tentang maksud Pandu yang mengatakan tentang sebuah hukuman penjara tadi.
"Apa-apaan ini?" ucap Aruna yang lagi-lagi dibuat terkejut ketika mendapati informasi dimana ternyata korban pelecehan seksual itu sendiri adalah Aruna.
Faris yang melihat raut wajah terkejut dari Aruna barusan, lantas mulai melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah dimana Aruna berada. Faris yang seakan tahu apa yang membuat Aruna begitu terkejut lantas mulai membuka suara dan menjelaskan segalanya.
"Itu semua benar Tuan, beberapa tahun yang lalu Pandu dan juga Aruna menjalin sebuah hubungan. Hubungan mereka yang tak sehat membuat Aruna menjadi risih dan tidak tahan lagi untuk melanjutkannya. Namun ketika Aruna memutuskan untuk mengakhiri kisah cinta keduanya siapa sangka bahwa ternyata Pandu menunjukkan beberapa vidio dan juga foto tentang Aruna yang sedang bertelanjang bulat di sana. Aruna yang tidak tahu apapun lantas terkejut bukan main sekaligus bingung karena ia sama sekali tidak pernah merasa memberikan vidio maupun foto-foto itu kepada Pandu. Belakangan diketahui ternyata vidio dan foto tersebut berasal dari sebuah kamera pengawas yang dipasang oleh Pandu secara diam-diam di kamar kosan milik Aruna." ucap Faris mulai menjelaskan informasi yang ia dapatkan tentang Pandu dan juga Aruna beberapa tahun yang lalu.
"Benar-benar Pria yang gila!" ucap Aruna sambil menatap ke arah beberapa berkas tentang Pandu.
*Arthur bahkan benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang diperbuat oleh Pandu di masa lalu benar-benar menyisakan luka bagi seorang *Aruna di masa sekarang, pantas saja *Aruna begitu ketakutan ketika mendengar nama Pandu terlintas dengan jelas keluar dari mulutnya saat itu. Membuat rasa bersalah langsung membumbung memenuhi hati *Arthur saat ini karena tanpa sengaja malah kembali mengorek luka lama yang sudah berhasil dipendam dan dilalui oleh *Aruna meskipun tanpa *Arthur sadari. Jika *Arthur tahu ada kisah kelam dibalik nama Pandu tentu saja *Arthur tidak akan membiarkannya berkeliaran dnegan begitu mudah seperti itu.
"Lalu bagaimana bisa ia hanya di tahan selama lima tahun? Bukankah hal itu terlalu singkat untuk ukuran seorang pemerkosa dan pelecehan seksual seperti dirinya?" ucap Aruna kemudian dengan raut wajah yang bertanya-tanya kepada Faris.
Mendengar perkataan tersebut membuat Faris lantas menghela napasnya dengan panjang. Faris jelas yakin bahwa hal ini benar-benar tidak adil bagi Aruna, hanya saja saat ini segala sesuatunya lebih mengedepankan uang ketimbang dengan keadilan termasuk dengan hukum di negara ini.
"Keluarga Pandu yang notabennya adalah seorang penegak hukum dimana Ayah Pandu adalah seorang hakim sedangkan Ibunya pengacara, membuat hukuman Pandu menjadi ringan setelah ia mengajukan banding beberapa kali dan membuktikan bahwa Pandu sedang terpengaruh obat ketika melakukan hal tersebut dan membutuhkan rehabilitasi ketimbang sebuah hukuman di penjara." ucap Faris kembali menjelaskan yang lantas membuat Aruna begitu geram ketika mendengarnya secara langsung.
"Benar-benar keluarga gila! Awas saja, jika sampai ia berani mendekati Aruna barang sejengkal pun akan ku kuliti secara hidup-hidup dia." ucap Aruna dengan nada yang kesal.
Entah mengapa membayangkannya saja membuat hati Aruna begitu marah. Apalagi jika sampai ia yang mengalaminya sudah pasti akan semakin membuatnya kesal.
"Saya akan pastikan dia tidak akan berkeliaran di sekitar Aruna Tuan..." ucap Faris kemudian.
"Bagus" ucap Aruna yang seakan puas ketika mendengar perkataan dari Faris barusan.
***
Arthur mengusap rambutnya dengan kasar selama beberapa kali sambil menggigiti bibir bagian bawahnya tanpa sadar.
"Aku tidak akan kembali jatuh ke dalam pelukannya, tidak akan.. Tidak akan pernah..." ucap Arthur berulang kali seakan menegaskan kepada dirinya bahwa hubungannya dan Pandu tidak akan kembali terjalin.
***
Sementara itu dari arah pintu kamarnya terlihat Aruna tengah melangkahkan kakinya memasuki area kamarnya dengan langkah kaki yang perlahan. Ditatapnya area sekitar kamarnya seakan seperti tengah mencari keberadaan seseorang di sana, namun sayangnya tak ada siapapun di sana membuat Aruna lantas mengernyit dengan tatapan bingung ketika tidak melihat kehadiran Arthur dimanapun.
"Kemana dia? Aku rasa di depan tidak ada siapapun.." ucap Aruna dengan raut wajah yang bingung.
Aruna yang penasaran akan dimana letak keberadaan Arthur saat ini, lantas mulai terlihat melangkahkan kakinya mencari keberadaan Arthur di sekitaran ruang kamarnya. Aruna melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi dan mengeceknya di sana, namun ketika Aruna sampai di sana di area kamar mandi sama sekali tidak terlihat Arthur.
Aruna yang tak menemukan Arthur di sana lantas kemudian memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju ke arah balkon kamarnya. Ditatapnya sekilas ke arah balkon dan tetap saja tidak ada siapapun di sana. Sampai kemudian ketika langkah kaki Aruna hendak kembali melangkahkan kakinya ke dalam ada yang menarik perhatiannya melalui sudut ekor matanya. Melihat hal tersebut lantas membuat Aruna kembali menolehkan pandangannya ke arah balkon dan menatap ke arah sudut balkon di mana saat ini terlihat Arthur tengah duduk dengan meringkuk di sana saat itu.
"Apa yang kau lakukan di sana ha?" pekik Aruna kemudian dengan nada yang terkejut.
Mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas langsung membuat Arthur menoleh ke arah sumber suara dengan seketika. Arthur tersenyum dengan tipis ketika melihat Aruna datang dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir saat ini.
"Tuan..." panggil Arthur kemudian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Aruna saat itu.
Bersambung.