Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Lakukan saja



"Apa kita akan benar-benar melakukan ciuman tersebut?" ucap Arthur kemudian.


***


Di dalam mobil yang dikendarai oleh Arthur, suasana hening terjadi diantara keduanya. Perkataan dari paranormal itu benar-benar membekas di kepala keduanya. Sebuah rasa? Hal itu sungguhlah tidak mungkin terjadi mengingat jika keduanya sering sekali bertengkar, jangankan rasa mungkin keduanya malah saling membenci. Bukankah karena hal itu jiwa keduanya tertukar?


Helaan napas terdengar berhembus dengan jelas dari mulut Arthur, membuat suasana kian terasa lebih canggung lagi. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Aruna lantas membuat Arthur langsung mengerem secara mendadak begitu mendengar perkataan tersebut keluar dari mulut Aruna.


"Ayo kita lakukan!" ucap Aruna dengan nada yang tiba-tiba.


Ckit...


Decitan rem yang diinjak dengan tiba-tiba oleh Arthur barusan tentu saja membuat Aruna terkejut bukan main, iPad yang tadinya ada di tangan Aruna bahkan sampai jatuh ke kolong kursi penumpang karena sangking terkejutnya akan gerakan yang dilakukan secara tiba-tiba oleh Arthur barusan.


Aruna menatap dengan tajam ke arah Arthur namun sama sekali tak membuat Arthur takut atau apapun. Yang Arthur lakukan saat ini malah melongo sambil menatap tak percaya ke arah Aruna seakan memastikan tentang perkataan yang keluar dari mulutnya baru saja.


"Apanya yang ayo kita lakukan Tuan? Jangan bilang Tuan dan aku... Akan melakukan hal itu?" ucap Arthur sambil memperagakan gerakan tangan yang saling menempel antara satu sama lainnya.


Aruna yang mendengar perkataan dari Arthur yang absurd barusan, lantas menghela napasnya sambil berusaha mengambil iPadnya yang jatuh ke kolong kursi penumpang.


"Apa kau tidak ingin kembali ke tubuh mu?" tanya Aruna kemudian dengan nada yang menukik tinggi.


"Aku... Aku tentu saja ingin, tapi... Tapi aku dan Tuan berciuman? Itu tidaklah mungkin!" pekik Arthur pada akhirnya.


Dipikirkan sebagaimana pun rasanya tetap saja tidak mungkin bagi Arthur untuk melakukan hal tersebut, membuat Aruna lantas menepuk jidatnya dengan spontan begitu mendengar jawaban dari Arthur barusan.


"Jika kau ingin cepat kembali maka lakukan saja, lagipula kita pernah melakukannya sekali, lalu apa masalahnya? Soal rasa yang harus ada dalam ciuman itu kita bisa mengaturnya. Lagi pula kita masih punya waktu satu bulan sebelum bulan purnama penuh terjadi, bukan? Dalam kurun waktu itu mari saling mencoba untuk berdamai dan menimbulkan perasaan agar kita bisa kembali secepatnya ke tubuh kita masing-masing." ucap Aruna panjang kali lebar namun berhasil membuat Arthur tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Tu...tuan jangan bercanda, bagaimana kita bisa menciptakan rasa selama satu bulan jika kita setiap harinya bagaikan kucing dan tikus, apakah anda yakin jika kita berdua bisa mendapat chemistry dalam waktu satu bulan? Anda benar-benar sudah gila!" ucap Arthur yang seakan tidak terlalu percaya pada dirinya sendiri.


Mendengar perkataan dari Arthur barusan, membuat Aruna langsung memijit pelipisnya dengan perlahan. Aruna benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana untuk mencapai tujuan itu, tapi yang jelas ia harus segera kembali ke tubuhnya karena banyak hal yang harus ia lakukan. *Arthur tidak bisa terus terjebak dalam tubuh *Aruna, tentu itu adalah hal yang tidak mungkin jika selamanya mereka berdua akan bertukar jiwa seperti ini.


"Jika berkata tidak mungkin maka buatlah untuk mungkin, ayo kita sama-sama melakukannya. Sebuah rasa tidak akan muncul begitu saja hanya dengan satu orang yang berjuang, setidaknya kedua belah pihak harus saling bergandengan dan berjuang bersama." ucap Aruna lagi mencoba untuk membuat Arthur mengerti bahwa itu bisa mereka lakukan jika bersama-sama.


"Tapi Tuan... Kita bukanlah akan berperang tapi menciptakan sebuah rasa, apa Tuan kira sebuah perasaan bisa muncul secara tiba-tiba?" ucap Arthur lagi yang lantas membuat Aruna menghela napasnya dengan panjang.


"Tentu saja bisa..." ucap Aruna dengan nada yang memanjang.


"Dengarkan aku dan ikuti saja, apa kau mengerti?" ucap Aruna kemudian dengan nada yang tidak ingin di bantah sama sekali.


***


Apartment *Arthur


Di ruangannya, Aruna yang tengah sibuk mencari beragam informasi sekaligus cara untuk membuat seorang wanita jatuh hati, lantas terlihat begitu serius menatap ke arah layar iPad miliknya. Apapun yang terjadi dalam waktu satu bulan Aruna pastikan jika Aruna akan membuat Arthur jatuh cinta kepadanya.


Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulutnya ketika melihat begitu banyak cara untuk membuat hati seorang wanita terbuka untuk kita atau dengan kata lain jatuh hati kepada lawan jenisnya.


Sampai kemudian ketika Aruna tengah sibuk mencari berbagai macam cara yang ada di iPad miliknya, sebuah derap langkah kaki yang berasal dari pintu yang terbuka lantas langsung menghentikan aktivitasnya. Mendengar suara derap langkah kaki tersebut kemudian membuat Aruna langsung menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan yang menelisik. Ketika sosok Faris terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya, lantas membuat Aruna mengambil duduk di kursinya.


"Ada apa? Apakah ini masalah pekerjaan? Sehingga membuatmu datang kemari." ucap Aruna kemudian mencoba untuk menebak kedatangan Faris ke Apartemennya.


Faris yang mendapat pertanyaan tersebut lantas menyerahkan ponsel miliknya dan memberikannya tepat ke hadapan Aruna saat itu. Membuat Aruna lantas mengernyit dengan tatapan yang bertanya akan tingkah Faris saat ini.


"Apa ini?" tanya Aruna kemudian.


"Saya baru menemukan Fakta jika belakangan ini nona Felia terus terlihat bertemu dengan salah seorang pengusaha. Awalnya saya mengira bahwa itu hanyalah pertemuan biasa karena sebuah pekerjaan, mengingat Fadli pernah datang ke Galery seni nona Felia untuk membeli sebuah lukisan. Hanya saja semakin lama pertemuan mereka terasa semakin intens dan yang lebih parahnya lagi nona Felia dan juga Fadli terlihat beberapa kali keluar masuk di sebuah hotel." ucap Faris mulai menjelaskan segalanya.


Mendengar penjelasan tersebut membuat Aruna semakin menatap penuh telisik ke arah ponsel milik Faris. Namun ketika beberapa foto Fadli yang terlihat bersama beberapa wanita, lantas membuat Aruna langsung mengernyit dengan seketika kemudian mendongak menatap ke arah Faris.


"Apa dia seorang Casanova?" tebak Aruna kemudian yang lantas membuat Faris menghela napasnya dengan panjang.


"Seperti dugaan anda Tuan dia adalah seorang Casanova yang sering menggaet beberapa Nona muda di luaran sana dengan bermodal mulut manisnya yang akan membuat semua wanita tertarik kepadanya." ucap Faris yang seakan mengiyakan pertanyaan dari Aruna barusan.


"Benar-benar klise, dia pikir bisa masuk ke dalam keluarga besar Gavanza dengan semudah itu? Tentu saja jawabannya tidak, atur pertemuan ku dengannya kita lihat seperti apa tampang tikus got ini jika secara langsung." ucap Aruna kemudian dengan senyuman yang mengejek.


Mendengar perintah tersebut bukannya menjawabnya secara langsung malah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Membuat Aruna lantas menatap ke arah Faris karena tak kunjung mendengar jawaban dari Faris barusan.


"Tuan maaf... Anda ingin bertemu sebagai Aruna atau sebagai diri anda sendiri Tuan?" ucap Faris kemudian.


"Oh astaga mengapa aku bisa lupa akan hal itu." ucap Aruna dalam hati.


Bersambung