Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Aku menemukan mu



"Tuan..." panggil Arthur kemudian dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Aruna saat itu.


Melihat raut wajah pucat milik Arthur tentu saja membuat Aruna mengernyit dengan tatapan yang bingung. Melihat hal tersebut Aruna terlihat melangkahkan kakinya ke arah dalam kamar untuk mengambil sebuah selimut kemudian kembali menuju ke arah balkon dengan langkah kaki yang bergegas.


Dibentangkannya selimut itu ke arah punggung Arthur untuk memberikan kehangatan pada Arthur, baru setelah itu mengambil posisi berjongkok tepat di hadapan Arthur.


"Apa yang kamu lakukan? Angin malam tidak baik bagi tubuh, sebaiknya kamu masuk ke dalam." ucap Aruna dengan nada yang lembut sambil bangkit berdiri hendak menuntun Arthur ke dalam kamar.


Disaat tubuh Aruna bangkit berdiri uluran tangan Arthur yang menggenggam erat tangan Aruna, lantas membuat Aruna menghentikan niatannya dan bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan oleh Arthur saat ini.


"A....apakah dia mengatakan sesuatu tadi!" ucap Arthur dengan nada yang ragu-ragu, membuat Aruna yang mendengar pertanyaan dari Arthur barusan lantas menatap Arthur dengan raut wajah yang bingung.


Helaan napas lantas terdengar dengan jelas berhembus dengan kasar dari mulut Aruna, membuat Arthur yang mendengar helaan napas tersebut lantas semakin khawatir hingga membuat tangannya sedikit bergetar.


"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, tidak ada hal penting yang kami bahas. Dia hanya mengatakan jika namanya adalah Pandu setelah itu aku tinggal begitu saja karena memang aku tidak mengenalnya." ucap Aruna sedikit memanipulasi jawabannya karena ia yakin ini adalah yang terbaik untuk saat ini.


Mendapat jawaban tersebut membuat Arthur lantas menatap ke dalam manik mata Aruna dengan tatapan yang menelisik seakan mencoba mencari tahu kebenaran lewat manik mata tersebut.


"Be...benarkah?" ucap Arthur yang seakan tidak langsung percaya akan perkataan dari Aruna barusan.


"Tentu saja" ucap Aruna dengan senyum yang mengembang.


"Terima kasih" ucap Arthur dengan senyum yang dipaksakan.


Arthur benar-benar tahu jika Aruna saat ini tengah berbohong. Arthur bahkan tahu betul bagaimana sifat Pandu yang sebenarnya, jelas tidak mungkin jika keduanya bertemu dan Pandu hanya memperkenalkan namanya saja. Hanya saja entah mengapa perasaan Arthur sedikit melega ketika mendengar jawaban dari Aruna yang begitu menenangkan disaat ia mendengarnya.


***


Keesokan paginya


Arthur yang baru saja terbangun ketika mendengar suara alarm di ponselnya yang berbunyi lantas perlahan-lahan mulai bangkit dari posisi tidurnya. Ada sebuah perasaan terkejut ketika ia terbangun dan sudah berada di atas ranjang milik *Arthur, membuat Arthur yang teringat akan kejadian semalam lantas menenggelamkan raut wajahnya karena malu.


"Sungguh memalukan, bagaimana mungkin aku meminta Tuan untuk tidur bersebelahan semalam. Itu benar-benar bukan aku! Aku yakin semalam aku sedang kerasukan jin genit, ya itu jelas-jelas bukan aku... hahaha" ucap Arthur sambil tertawa sendiri seperti orang yang gila.


Arthur benar-benar tidak tahu lagi harus bersembunyi di mana ketika baru menyadari tindakan bodohnya semalam. Arthur yang terlalu ketakutan akan sosok Pandu yang mendadak muncul ketika ia tidur, lantas tanpa sungkan meminta Aruna untuk tidur bersamanya, benar-benar sebuah rekor yang baru saja terjadi diantara keduanya dimana Aruna dan juga Arthur tidur dalam satu ranjang semalam.


"Arggg aku benar-benar sudah gila sepertinya!" ucap Aruna dengan nada yang begitu kesal.


Tok tok tok


Sebuah suara ketukan pintu yang terdengar dari luar lantas mengejutkan Arthur yang sedari tadi terus terhanyut merutuki kebodohannya sendiri. Mendengar suara pintu yang di ketuk lantas membuat Arthur langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengarnya.


Arthur yang tidak paham akan konsep Aruna yang mengetuk pintu kamarnya lantas hanya terdiam di tempatnya seperti orang bodoh, sampai kemudian terdengarlah suara Faris yang lantas membuat Arthur mengerti bahwa yang mengetuk pintu sedari tadi adalah Faris.


"Ini aku Faris, apa kau sudah bangun?" ucap Faris kemudian yang lantas membuat Arthur langsung bangkit dari tempat tidurnya.


Cklek...


Suara pintu yang terbuka lantas membuat Faris menghentikan gerakannya yang sedari tadi mengetuk pintu kamar Arthur.


"Ada apa?" tanya Arthur kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Keluarlah karena tuan sudah membuatkan sarapan untuk mu..." ucap Faris dengan nada yang datar namun berhasil membuat Arthur terkejut ketika mendengarnya.


"Apa? Tuan? Yang benar saja!" ucap Arthur yang tak langsung percaya begitu saja.


Melihat raut wajah Arthur yang begitu terkejut tentu saja membuat Faris hanya menghela napasnya dengan panjang. Tidak hanya Arthur yang terkejut bahkan Faris yang menemani Aruna memasak sedari tadi pun ikut terkejut ketika mengetahui Aruna memasakkan sesuatu untuk Arthur.


"Terserah kau mau percaya atau tidak yang jelas cepatlah ke meja makan karena Tuan sudah menunggu mu." ucap Faris sambil melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan Arthur seorang diri.


****


Sementara itu di sebuah rumah di salah satu komplek perumahan elit, terlihat Pandu tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya dengan langkah kaki yang perlahan. Begitu pintu kamar terbuka penampakan di dalam kamar tersebut begitu penuh dengan berbagai lembar foto dan juga pernak-pernik dengan gambar raut wajah Aruna yang mendominasi di sana, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan tahu jika pemilik kamar tersebut pasti sangat menyukai Aruna.


Pandu melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah meja yang terletak di sudut kamarnya. Seulas senyum terlihat dengan jelas terlukis dengan indah di wajah Pandu sambil menatapi ke arah salah satu foto milik Aruna yang terlihat begitu cantik dengan senyuman yang mengembang, membuat hati siapa saja akan terpesona ketika melihat senyuman tersebut.


"Aku menemukan mu Aruna... Aku menemukan mu..." ucap Pandu dengan raut wajah yang bahagia.


Bersambung


***


Extra part


Pagi harinya Aruna yang sudah meminta Faris datang dnegan membawa berbagai bahan untuk membuat olahan bubur lantas terlihat begitu sibuk di dapur. Aruna yang tidak tahu cara memasak bubur hanya mencoba mengikuti semua tutorial yang ada di internet, dimana Aruna bagian memasak sedangkan Faris kebagian menuntun step by step yang ditunjukkan di Internet.


Keduanya benar-benar heboh dan semangat dalam meracik satu persatu bumbu untuk membuat bubur, hanya saja bukan laki-laki namanya jika tidak membuat rusuh ketika memasak. Meski keduanya telah mengikuti cara yang di tunjukkan di internet, namun nyatanya semua tidaklah semudah membalikkan tangan. Butuh hampir 3 kg beras yang Aruna gunakan untuk memasak bubur kesekian kalinya karena ketika ia sudah hampir berhasil matang Aruna selalu saja membuatnya gosong dan berbau sangit, membuat Aruna harus kembali mengulang masakannya lagi dan lagi sampai pada akhirnya matang dengan sempurna.


"Bukankah aku luar biasa Ris? Sepertinya aku cocok jika harus menjadi chef..." ucap Aruna sambil mengangkat tinggi-tinggi mangkuk berisi bubur buatannya.


"Haha tentu Tuan.. Anda memang hebat dalam segala bidang." ucap Faris namun sambil memutar bola matanya jengah, setidaknya ia harus cari aman di saat-saat seperti ini.