
"Aku... Aku sudah kotor Tuan!" ucap Arthur kemudian, yang lantas membuat Aruna langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika begitu mendengar suara serak milik Arthur saat itu.
Mendengar perkataan dari Arthur barusan tentu saja membuat Aruna terkejut seketika. Entah apa yang dimaksud oleh Arthur, namun Aruna yang jelas mengetahui maksud dari kata kotor yang keluar dari mulut Arthur, tentu saja langsung menatap dengan raut wajah yang tidak suka sekaligus kesal akan tingkah Pandu saat itu.
"Apa maksud perkataan mu tentang kotor Run? Jangan membuat ku terbelenggu dalam rasa penasaran seperti ini. Katakan kepadaku dengan jelas agar aku bisa mengerti." ucap Aruna dengan nada yang terdengar mulai tidak enak.
Arthur yang mendengar perkataan dari Aruna barusan lantas menatap ke dalam manik mata Aruna dengan manik matanya yang berair. Ada perasaan sedih yang begitu dalam pada manik mata Arthur dan tentu saja membuat Aruna tertegun seketika di saat melihatnya.
"Aku sudah tidak suci lagi Tuan, sesuatu yang ku jaga sedari dulu telah di renggut oleh Pandu. Bagaimana mungkin ada orang yang mau dengan aku yang sudah kotor ini Tuan.. Aku benar-benar.." ucap Arthur dengan nada yang tersendat tak kuasa untuk melanjutkannya.
Melihat tangisan Arthur pecah tentu saja membuat Aruna bangkit dan langsung memeluk tubuh Arthur dengan erat. Entah dari mana keberanian itu namun yang Aruna pikirkan saat ini hanyalah *Aruna. Entahlah disaat Aruna melihat air mata Arthur saat ini, Aruna merasa begitu sedih dan tidak menyukainya, membuat Aruna begitu membenci Pandu dalam hal apapun.
"Menangislah Run... Menangislah sesuka hati mu aku siap menampungnya. Hanya saja jangan terlalu larut dalam kesedihan karena itu hanya akan menambah luka mu saja yang tidak akan pernah bisa membaik." ucap Aruna sambil mengusap pundak Arthur dengan perlahan seakan berusaha untuk menenangkannya.
Arthur yang di peluk dengan tiba-tiba tentu saja hanya bisa larut dan juga tenggelam dalam kehangatan yang di berikan oleh Aruna. Membuat keduanya berada dalam keheningan, namun sambil berbagi kehangatan lewat sebuah pelukan.
"Aku tidak akan membiarkan mu lolos Pandu! Apapun yang kau lakukan akan aku pastikan kau menerimanya kembali seperti yang dirasakan oleh *Aruna!" ucap Aruna dalam hati sambil tetap mendekap Aruna dengan eratnya.
***
Keesokan harinya di kediaman Gavanza
Felia yang baru saja bangun dari tidurnya lantas di kejutkan dengan sebuah deringan ponsel miliknya, yang lantas membuat Felia langsung menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya ketika melihat nama Fadli tertulis dengan jelas di sana.
"Halo sayang..." ucap Felia sambil mengusap raut mukanya yang baru saja bangun tidur.
"Morning, aku menelpon mu karena ingin memberi mu kejutan hari ini..." ucap Fadli dengan nada bicara yang terdengar sumringah.
"Kejutan? Kejutan apa?" tanya Felia yang tak mengerti akan perkataan Fadli barusan.
"Turunlah sayang aku ada di depan rumah mu saat ini." ucap Fadli yang langsung membuat bola mata Felia membulat dengan seketika.
"Apa kau sudah tidak waras, arggg..." ucap Felia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berlarian turun ke bawah.
Felia mematikan panggilan telpon Fadli begitu saja, kemudian langsung berlarian turun ke bawah untuk menemui Fadli yang saat ini tengah berada di depan rumahnya. Entah apa yang dipikirkan oleh Fadli hingga tiba-tiba menghampirinya seperti ini, apalagi mengingat jika hari ini adalah weekend yang tentu saja semua anggota keluarganya ada di rumah. Bukankah ini sama halnya dengan bunuh diri? Entah apa yang akan dilakukan oleh Bagas jika sampai mengetahui jika Fadli datang kemari, Felia sendiri bahkan tidak bisa membayangkannya.
Felia mempercepat langkah kakinya dan menuruni anak tangga, membuat Maxim yang berada di dapur lantas menatap dengan tatapan yang bertanya ketika melihat langkah kaki Felia yang terburu-buru dan masih lengkap dengan baju tidurnya.
Maxim yang begitu penasaran akan apa yang terjadi kepada Felia, lantas memutuskan untuk mengikuti langkah kaki kakak tirinya itu.
***
Bruk
Suara pintu yang di tutup dari luar, lantas membuat raut wajah Fadli yang semula sumringah berubah menjadi datar begitu melihat Felia tak memberinya akses untuk masuk ke dalam kediamannya. Fadli bahkan sengaja menyempatkan diri datang pagi-pagi kemari, namun yang terjadi malah Felia mendorong dirinya untuk menjauh dari pintu utama.
"Ada apa ini Fel? Bukankah seharunya aku menyapa kedua orang tua mu?" tanya Fadli dengan raut wajah yang kebingungan akan reaksi Felia ketika kedatangannya kemari.
Mendapat pertanyaan tersebut Felia bukannya menjawab pertanyaan Fadli, malah semakin menyeret tubuh Fadli agar menjauh dari pintu utama mendekat ke arah dimana mobil milik Fadli terparkir saat ini.
"Apa yang kamu lakukan? Bukannya aku sudah mengatakan kepadamu untuk menunggu waktu yang tepat. Kedatangan mu saat ini benar-benar tidak tepat waktu, semua orang sedang ada di rumah saat ini dan aku yakin mereka akan terkejut ketika mengetahui akan kehadiran mu." ucap Felia seakan mencoba untuk menjelaskan kepada Fadli dan membuatnya mengerti akan posisinya
"Bukankah hal itu bagus? Lagipula memang itu tujuan ku datang kemari." ucap Fadli yang dengan kekeh ingin bertemu keluarga Felia.
"Kamu jangan gila, sekarang masuk ke dalam mobil dan tunggu aku di taman, dalam dua puluh menit aku akan datang ke sana." ucap Felia sambil memaksa Fadli untuk masuk dan menjalankan mobilnya.
"Tapi Fe..." ucap Fadli hendak menolak namun Felia yang terus mendesaknya untuk segera pergi, membuat Fadli pada akhirnya menuruti perkataan wanita itu dan berlalu pergi dari sana.
Sementara itu Maxim yang memang sedari tadi mengintip Felia dan juga Fadli lewat kaca jendela hanya bisa tersenyum dengan tipis sambil menatap ke arah keduanya.
"Tidak buruk juga seleranya, tapi apakah dia tahu jika pria itu adalah seorang casanova? Benar-benar gadis yang malang." ucap Maxim dengan nada yang datar kemudian berlalu pergi dari sana.
***
Sementara itu di unit Apartment Pandu, Pandu yang terus-terusan mendengar suara bel di tekan tentu saja langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah pintu masuk untuk melihat siapa yang datang pagi-pagi begini.
Tanpa melihat layar kecil di sebelah pintu, Pandu membuka begitu saja pintu unit Apartemennya dan langsung terkejut ketika mendapat sebuah tonjokan di area perut dengan kuat kemudian di bagian pipi sebelah kirinya.
Bruk...
"Apa yang kau lakukan ha?" pekik Pandu yang terkejut akan serangan secara mendadak tersebut.
Bersambung