
Ruangan CEO
Setelah kepergian Felia dari ruangannya kini terlihat Arthur, Aruna dan juga Faris tengah duduk termenung di sofa sambil memikirkan jalan keluarnya. Makan malam yang dikatakan oleh Felia pastilah hanya sebuah kedok semata, tidak ada yang benar-benar tulus dalam keluarga itu dan Aruna yakin pasti kali ini pun akan berakhir sama.
Keheningan terjadi diantara ketiganya seakan mereka bertiga seperti sedang terhanyut kepada pemikirannya masing-masing saat ini juga.
"Apa mungkin ini tentang mantan tunangan anda tuan?" ucap Arthur kemudian memecah keheningan yang terjadi di ruangan tersebut.
Mendengar perkataan dari Arthur barusan lantas membuat Aruna langsung dengan spontan menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan yang tajam, membuat Arthur yang melihat tatapan tajam dari Arthur barusan lantas langsung menutup mulutnya dan tidak lagi berbicara atau sang singa akan langsung menerkamnya saat ini juga jika sampai Arthur membuka suaranya.
"Saya rasa perkataan Aruna ada benarnya juga tuan, bukankah Aruna sudah memberikan rekaman percakapan antara tuan besar dengan Aruna ketika di restoran tadi pagi? Lagi pula yang mereka tawarkan adalah kerjasama yang besar saya rasa tidak ada alasan lagi bagi tuan besar untuk menolak hubungan timbal balik tersebut." ucap Faris kemudian ikut menanggapi percakapan keduanya.
Mendengar perkataan tersebut lagi dan lagi membuat Aruna nampak terdiam sejenak, apa yang dikatakan oleh Faris barusan adalah kebenarannya. Lagi pula tawaran tersebut cukup bernilai fantastis dan tentu saja akan menguntungkan perusahaan, Bagas yang notabennya sebagai pemilik perusahaan yang sah tentu tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja kesempatan ini.
"Jika memang hal ini akan dipertanyakan kembali pada Papa, maka keputusan apa yang akan kau ambil? tanya Aruna kemudian kepada Arthur namun malah berhasil membuat Arthur malah mengernyit dengan seketika.
Arthur benar-benar tidak mengerti akan sikap Aruna yang malah menanyakan hal tersebut kepadanya, padahal jelas-jelas keputusan tersebut harusnya diambil oleh dirinya sendiri dan bukan oleh orang lain mengingat Arthur hanyalah orang luar yang tak pantas ikut andil ke dalam permasalahan keluarga maupun perusahaan.
"Mengapa jadi saya? Bukankah hal itu harusnya diputuskan langsung oleh tuan?" ucap Arthur dengan raut wajah yang bingung menatap ke arah Aruna saat ini.
Mendengar jawaban dari Arthur barusan membuat helaan nafas lantas terdengar berhembus kasar dari mulut Aruna saat ini, Aruna sendiri bahkan tidak tahu keputusan apa yang akan ia ambil jika Ayahnya benar-benar menanyakan perihal masalah Monica. Mengingatnya masa lalunya saja ketika dulu bersama dengan Monica sudah membuat luka di hati Aruna kembali terbuka, apalagi jika sampai ia menjalin hubungan kembali dengan Monica saat ini sungguh itu benar-benar tidak bisa dipikirkan oleh Aruna.
"Aku tidak bisa kembali bersamanya, namun aku juga tidak bisa menolak permintaan Papa. Jika sudah seperti ini apa yang harus aku lakukan?" ucap Aruna dalam hati sambil terdiam sejenak.
Keheningan kembali terjadi di ruangan itu, tidak ada yang berani membuka suaranya. Baik Arthur maupun Faris sama-sama tahu jika keputusan yang akan Aruna ambil kali ini cukuplah memberatkannya. Arthur yang melihat Aruna terdiam seperti itu nampak sesekali melirik ke arah Aruna dengan tatapan yang kasian. Entah mengapa setelah mendengar cerita Faris tentang keluarga Arthur membuat pandangannya kepada Arthur langsung berubah dengan seketika.
Arthur benar-benar tidak menyangka bahwa dibalik sosoknya yang tegas dan juga arogan, Aruna memiliki luka hati yang sulit untuk sembuh baik dari lingkungan keluarga maupun dari pasangannya. Hal itulah yang menjadikan hati Aruna begitu keras dan tak lagi melihat ketulusan di hati seseorang.
Di saat keheningan terjadi diantara ketiganya sebuah suara yang berasal dari Aruna, lantas membuat Faris dan juga Arthur mendongak ke arah sumber suara ketika mendengar perkataan dari Aruna barusan.
***
Kediaman Gavanza
Sebuah mobil milik Arthur nampak terparkir dengan cantik di halaman depan kediaman keluarga Gavanza. Dengan tekad yang bulat pada akhirnya Aruna memutuskan untuk ikut bersama Arthur ke acara makan malam keluarga Gavanza, Aruna benar-benar tahu jika sampai Arthur membawa seseorang dari luar keluarga inti pasti akan membuat Bagas sangat marah. Namun nyatanya hal itu sama sekali tidak mengurungkan niat Aruna dan tetap memaksakan ikut datang ke acara keluarga tersebut. Ketika keduanya bersiap hendak turun dari mobil, Aruna nampak memberikannya sebuah earphone dengan ukuran yang kecil membuat Arthur yang mendapatkan pemberian dari Aruna barusan langsung bertanya-tanya akan kegunaan earphone tersebut.
"Pakai ini usahakan jangan sampai kau lepas, apa kau mengerti?" ucap Aruna kemudian sambil menyodorkan earphone tersebut kepada Arthur.
"Baik tuan, lalu apa sekarang kita jadi masuk tuan?" ucap Arthur kemudian dengan raut wajah yang tidak enak.
Jika disuruh memilih Arthur lebih baik makan di warteg daripada harus berkumpul dan makan bersama dengan orang-orang berlevel tinggi seperti keluarga ini. Arthur bahkan masih belum bisa melupakan acara makan malam pertama kalinya dengan keluarga Gavanza beberapa hari yang lalu dan saat ini ia harus kembali dihadapkan dengan hal serupa yang tentu saja langsung membuat jantungnya berpacu dengan kencang.
"Apa hal tersebut masih perlu untuk dipertanyakan lagi?" jawab Aruna dengan nada yang ketus.
"Saya minta maaf tuan." ucap Arthur kemudian sambil mulai memasangkan earphone pemberian Aruna ke telinganya.
***
Area taman
Dari arah pintu ruangan tengah terlihat Arthur dan juga Aruna saat ini sedang melangkahkan kakinya dengan perlahan memasuki area taman, sepertinya makan malam kali ini diadakan di area taman untuk menikmati suasana outdoor sambil menikmati sajian makan malam kala itu. Arthur yang baru saja datang terlihat menggandeng tangan Aruna dengan erat sesuai dengan arahan dari Aruna, yang tentu saja langsung membuat setiap pasang dengan spontan menatap ke arah kedatangan Arthur dan juga Aruna yang nampak sangat romantis tersebut.
Bagas yang melihat kehadiran Arthur ke rumah ini dengan membawa seorang wanita lantas langsung membuatnya geram dan juga tak suka akan kedatangan keduanya. Suasana yang semula nampak tegang begitu kehadiran Arthur dan juga Aruna di sana membuat suasana kian menjadi tidak enak. Arthur yang menyadari semua pasang mata menatap ke arahnya saat ini lantas langsung menelan salivanya dengan kasar.
"Tegakkan tubuh mu dan bersikap lah layaknya seorang Arthur Alterio Gavanza!" ucap Aruna dengan nada setengah berbisik sambil mencubit lengan Arthur, membuat Arthur yang mendengar suara bisikan dari Aruna barusan dengan spontan mulai menegakkan tubuhnya dengan langkah kaki yang tegas mendekat ke arah di mana Bagas dan keluarganya berada saat ini.
Bersambung