
Sinaran cahaya yang berasal dari celah-celah ventilasi ruangan kamar Arthur saat itu, membuat Aruna lantas langsung mengerjapkan kelopak matanya dengan beberapa kali. Sambil mulai mengumpulkan nyawanya, Aruna nampak bangkit secara perlahan dengan memijat perlahan keningnya yang terasa sedikit berdenyut saat ini.
"Aw kepala ku sakit sekali?" rintih Aruna sambil mulai mengedarkan pandangannya ke area sekitaran.
Namun ketika pandangan Aruna sampai pada sofa di ruangan tersebut, Aruna lanta langsung menghentikan pandangannya ketika mendapati sorot mata tajam yang berasal dari Arthur saat ini.
"Tuan anda sudah pulang? Jam berapa ini? Apakah anda sudah makan malam? Aku memasakkan menu favorit anda..." ucap Aruna sambil mulai bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan secara perlahan mendekat ke arah dimana Arthur berada saat ini.
Dengan gerakan yang sedikit sempoyongan, Aruna mulai berusaha menstabilkan langkah kakinya yang terasa begitu melayang. Entah apa yang terjadi kepadanya, namun Aruna sepertinya belum menyadari apa yang terjadi kepadanya.
Arthur yang mendengar setiap pertanyaan dari Aruna barusan, lantas mulai menghela napasnya dengan panjang kemudian bangkit dari posisi duduknya saat ini. Arthur yang mendapati langkah kaki Aruna kian mendekat, lantas mulai mengambil posisi bersendekap dada sambil menatap dengan intens ke arah Aruna saat ini.
"Bagaimana rasanya? Apa kau sudah merasa melayang? Cih kau benar-benar sesuatu rupanya..." ucap arthur dengan raut wajah yang sinis membuat Aruna yang tak mengerti apapun, lantas mengernyit sambil menatap penasaran ke arah Arthur saat ini.
"Apa maksud dari Perkataanmu sebenarnya?" ucap Aruna dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Arthur saat ini.
Sedangkan Arthur yang ditanya seperti itu, lantas langsung tersenyum dengan tipis kemudian mengangkat ponsel miliknya dan menunjukkan Aruna sesuatu.
Sebuah rekaman video terlihat dengan jelas berputar pada layar ponsel milik Arthur, yang tentu saja langsung membuat manik mata Aruna membulat dengan seketika. Aruna bahkan tidak sadar jika yang ada di rekaman tersebut adalah dirinya sendiri. Hingga membuatnya menatap tak percaya ke arah Arthur saat itu.
"Apa ini Tuan? Bukankah dia.... Adalah saya?" ucap Aruna yang tidak percaya akan apa yang baru saja ia lihat pada ponsel milik Arthur baru saja.
"Tepat sekali, bagaimana rasanya setelah menari seperti orang gila? Ah aku lupa jika kau sedang dalam pengaruh obat-obatan yang terlarang. Apa ketika aku bekerja hal ini yang selalu kau lakukan? Apa selama ini kau diam-diam membeli obat dan memakainya di belakangku?" ucap Arthur dengan nada yang menggertak Aruna, membuat Aruna lantas langsung menatap ke arah Arthur dengan tatapan yang tidak percaya karena Arthur menuduhnya dengan terang-terangan.
Entah mengapa Arthur saat ini benar-benar merasa sangat kecewa kepada Aruna. Aruna yang ia kenal sebagai gadis polos dan juga tidak macam-macam, nyatanya malah diam-diam memakai obat-obatan terlarang di belakangnya dan mengunggah videonya sendiri ke dalam akun jejaring sosialnya. Bukankah hal ini benar-benar kelewatan? Jika memang benar-benar ini adalah perbuatan Aruna sendiri, berarti selama ini raut wajah polos yang selalu ditunjukkan oleh Aruna hanyalah sebuah kamuflase belakang saja.
Sedangkan Aruna yang dituduh berbuat macam-macam, tentu saja hanya bisa terkejut dan tak tahu sama sekali maksud dari perkataan Arthur. Entah apa yang sedang merasuki Arthur, hingga tiba-tiba menuduhnya menggunakan obat-obatan terlarang.
"Apa anda sudah gila Tuan? Aku benar-benar bersumpah jika aku tidak pernah menggunakan obat-obatan terlarang, jika anda tidak percaya ayo kita ke Rumah sakit sekarang dan buktikan segalanya aku siap dites saat ini juga." ucap Aruna dengan nada yang yakin.
"Bagaimana mungkin Tuan? Saya benar-benar tidak pernah menggunakan obat-obatan tersebut. Jangankan untuk minumnya, bahkan membelinya pun saya tidak tahu lokasi dan tempatnya. Bagaimana mungkin saya mendapatkan obat tersebut?" ucap Aruna mencoba untuk menjelaskan segalanya, seakan berusaha untuk meyakinkan Arthur jika ia tidak melakukannya.
"Katakanlah perkataanmu benar, lalu bagaimana ceritanya? Kamu bisa mendadak menjadi berperilaku aneh seakan-akan telah meminum obat-obatan tersebut. Apakah obat itu langsung masuk ke dalam tubuhmu? Jangan gila kau Aruna!" ucap Arthur sambil menatap tajam ke arah Aruna saat itu.
Mendengar perkataan Arthur yang jelas-jelas seperti kecewa terhadapnya, lantas langsung membuat Aruna terdiam dengan seketika. Aruna mencoba untuk berpikir keras, bagaimana mungkin dan bagaimana bisa ia mendadak menjadi seperti itu? Padahal jelas-jelas ia tidak pernah memakai obat-obatan terlarang yang dituduhkan oleh Arthur kepadanya.
Beberapa menit terdiam dalam posisi yang tersudut, sampai kemudian ingatan Aruna jatuh tepat ketika ia mendapati jika Fadli berkunjung ke Apartment semalam. Tidak hanya datang Fadli bahkan juga memberikannya 2 tablet obat yang sama sekali Aruna tidak tahu kegunaannya saat itu.
"Kamu harus tahu Tuan jika hal ini bukanlah perbuatan ku, semalam..." ucap Aruna hendak menjelaskan segalanya namun perkataan Arthur lantas langsung menghentikan ucapannya dengan seketika.
"Cukup Run, kepalaku saat ini benar-benar pusing. Video unggahanmu itu benar-benar membuat reputasi buruk terhadapku dan juga perusahaan ku. Jadi berhenti untuk menambah beban pikiranku saat ini, biarkan aku sendiri dulu... Saat ini aku benar-benar butuh waktu sendiri." ucap Arthur kemudian dengan nada yang memohon, membuat Aruna langsung terdiam dengan seketika saat itu.
"Baiklah Tuan terserah anda ingin percaya atau tidak, tapi yang ingin saya tekankan di sini adalah jika saya tidak pernah melakukan sesuatu yang Tuan tuduhkan kepada saya barusan. Jika memang Tuan membutuhkan waktu, baik saya akan pergi dari sini. Semoga setelah beberapa menit ke depan anda bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah." ucap Aruna sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Arthur seorang diri di sana.
Setelah kepergian Aruna dari area kamar, suasana hening mendadak tercipta di sana. Arthur benar-benar berdecak dengan kesal karena tidak bisa menahan emosinya barusan. Hingga kemudian sebuah deringan ponsel miliknya, lantas langsung membuyarkan segala lamunannya saat itu. Membuat Arthur yang melihat nama Faris tertera dengan jelas di sana, lantas langsung menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
.
.
.
"Apa katamu!" pekik Arthur begitu mendengar penjelasan dari Faris barusan.
Bersambung